Persimpangan Jalan (7)

1038 Kata
Aara masih belum bisa mengalihkan pandangannya ke laki-laki yang sekarang sedang membawakan nenek pencari barang bekas itu sekotak nasi dengan lauk lengkap, dan memberikan sesuatu didalam amplop putih. Entah kenapa melihat Harist melakukan itu semua merasa hatinya tersentuh, dia mengingat kembali Ketika ayahnya begitu baik pada orang lain seperti yang dilakukan Harist hari ini, dan ayahnya juga selalu menanamkan rasa saling membantu pada keluarga kecilnya itu. “Kamu sengaja melakukan itu didepanku?” seloroh Aara pada Harist yang sudah berada disampingnya lagi. “Apa maksudnya?” tanya laki-laki itu bingung, dia kembali melahap makanannya yang masih belum habis. “Kamu sepertinya sudah mempersiapkan amplop putih untuk membantu nenek itu..” Ucapnya sembari menatap Harist dengan isyarat bahwa dia tidak bisa dibohongi lagi, begitu saja. “Dasar picik.” Jawabnya. *** Waktu pun berlalu, Harist dan Aara sudah selesai makan siang dan segera menuju display toko untuk cek harga. “Apa kamu sudah berniat mau menikah?” Tanya Harist yang kini berada di minimarket bersama Aara. “Maksudnya?” tanya Aara yang tidak habis pikir dengan pertanyaan Harist. Sembari ikut dengan Aara mencatat produk mereka yang dijual di minimarket tersebut, Harist masih merecoki perempuan itu dengan pertanyaan yang menimbulkan terjadinya kesalah pahaman. “Aku tau setelah mendengar cerita nenek tadi, kamu tersentuh kan? Lalu apa kamu tidak mau menikah dan mendapatkan suami seperti yang diceritakan nenek?” Tanya Harist. “Kamu kira mendapatkan suami seperti yang diceritakan nenek itu mudah? Beruntugnya nenek punya suami seperti itu, kalo jaman sekarang mana ada, malah tau gitu dia lari dan cari cewek lain. Akh, basi mah itu.” Jawab perempuan itu seperti punya dendam dengan segala macam laki-laki. “Lalu apa kamu terus sendiri seperti ini?” Pertanyaan itu lagi-lagi membuat Aara jengah. Perempuan itu pun melipat kedua tangannya dibawah d**a, sembari melihat kearah Harist. “Kenapa kamu penasaran sekali?” “Raa, dimana produk kita sih?” Harist mengalihkan perhatian sembari meneruskan jalannya mengelilingi minimarket, mencari produk yang akan dicek harganya. Harist menghampiri pegawai minimarket dan bersikap seolah pembeli yang sedang bertanya-tanya tentang produk yang mau dibeli, lalu mencatat harga yang tertera dan promo apa saja yang sedang berjalan. Diikuti oleh Aara yang masih bingung dengan laki-laki itu. “Harist,” suara itu terdengar dibalik tubuh Aara yang sedang mengambil gambar harga beberapa produk regular milik perusahaannya. Harist dan Aara pun melihat siapa pemilik suara tersebut. Ternyata Alvyan. “Ngapain disini?” Tanyanya kemudian mengalihkan pandangan ke Aara. “Dengan Aara? Karyawan baru diperusahaan pak Rendy kan?” “Kita sedang cek harga.” Jawab Harist. Alvyan pun mengangguk mengerti, tatapannya kembali ke Aara. “Oh ya, nanti kan ada acara di rumahnya pak Harist, kamu bisa ikut dengan saya? Setidaknya saya ada yang diajak.” Ucapnya pada Aara, seperti sudah mentok tidak ada lagi yang bisa diajaknya selain perempuan itu. “Ha?”Aara terkejut, kenapa bisa dirinya yang mendapatkan tawaran itu, di kantor banyak sekali karyawan yang cantik dan cocok berdampingan dengan seseorang seperti Alvyan. “Acara di rumah pak Harist?” dan, ini lagi. Bayangkan saja Aara harus masuk ke rumah pemilik beberapa perusahaan itu, semegah apa rumahnya. “Iya, kamu tidak ada acara apa-apa kan hari ini?” Tanya Alvyan pada Aara. “Ti…” “Ada.” Harist memotong ucapan Aara, yang membuat perempuan itu menatapnya sinis. “Dia harus merekap harga yang dicek hari ini dan melakukan evaluasi, untuk jadi bahan meeting besok.” Alvyan mengernyitkan alis, “Memangnya besok ada meeting ya?” tanyanya sembari masih mengingat jadwal. “Ada, jadwal meeting saya ajukan besok.” Jawabnya. “Jadi sudah tau jawaban Aara kan?” tanpa mendengar ucapan Alvyan lagi, Harist menarik tangan Aara untuk ikut dengannya meninggalkan Alvyan. Sedangkan laki-laki yang mereka tinggalkan sendirian itu hanya berdecak dan tersenyum miring, “Dasar Harist.” Ucapnya sembari mengambil produk yang hendak dibelinya tadi. *** “Pak, tadi…” “Sudah diam.” Harist mengambil dua minuman untuk dibawanya ke kasir, tidak menghiraukan Aara yang kebingungan dengan sikapnya. Dengan terpaksa Aara harus diam, dan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Sesampainya mereka di dalam mobil, Aara lagi-lagi ingin menanyakan keganjilan yang terjadi saat pertemuan mereka dengan Alvyan. “Memangnya besok benar-benar ada meeting, dan aku harus menyelesaikan semuanya hari ini?” tanya Aara, dia hanya khawatir tentang beban kerjanya itu. “Ya tidak lah, aku hanya mencari alasan supaya kamu tidak pergi dengannya.” Jawab Harist dengan jelas. “Kenapa?” “Karena dia suka mempermainkan hati perempuan.” “Oh ya? Kedengarannya seperti kalian tidak berteman.” Aara curiga Harist ini teman yang hanya baik didepannya saja, tapi membicarakan keburukannya dibelakang. “Kita berteman, begitupun denganmu.” Ucapan itu langsung menyadarkan Aara, memang benar yang dikatakan Harist, mereka hanya berteman. Tapi kenapa hati Aara tiba-tiba menjadi sakit. “Aku cuma tidak mau kamu sakit dan terlalu berharap pada laki-laki seperti Alvyan, dia itu buaya.” Tambahnya. “Oh, iya.” Balas Aara. “Hanya itu? Kamu tidak berterima kasih karena aku sudah menolongmu dari Alvyan?” “Kenapa? Pak Alvyan bukan hewan buas yang mau menerkamku, kenapa aku harus takut dekat dengannya? Lagian aku juga mau berteman dengannya.” Jawab Aara terdengar sedikit emosi. “Kok kamu marah?” “Siapa sih yang marah!” Ini jauh terdengar seperti emosi sungguhan. Melihat reaksinya yang berlebihan dan tidak terkontrol, Aara pun membenarkan ucapannya dan sedikit menahan emosi. Ayolah, kenapa tiba-tiba dia menjadi naik pitam. “Oh ya memangnya ada acara apa di rumahmu?” tanya Aara mengalihkan pembicaraan. “Aku baru saja mau memberitahumu, tadi setelah makan siang ayah mengirim pesan, kebetulan hari ini beliau boleh pulang oleh rumah sakit, jadi akan ada syukuran nanti malam. Sepertinya Alvyan juga sudah diundang langsung oleh ayah, aku belum sempat memberitahunya.” Jawab Harist. “Kamu datang ya.” “Hm?” Aara memastikan lagi dengan yang didengarnya tadi. “Aku mengundangmu untuk datang diacara syukuran.” Harist pun memastikan lagi apa yang diucapkannya. Bagaimana caranya membaur diacara itu? Aara sudah berpikir yang tidak-tidak, dia takut salah bersikap dan membuat keluarga bosnya itu ilfeel, kemudian memberi tanda di dahi perempuan itu bahwa dia tidak layak masuk ke dalam rumah megah itu dan tidak pantas berteman dengan laki-laki seperti Harist. “Tidak boleh ada penolakan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN