Aara terus menunduk dan saking tidak taunya apa yang harus dilakukan, dia hanya menghentak kecil kakinya, memainkan jemarinya, menatap buku-buku kukunya, mengukir garis tangan, bahkan menghitung setiap baris lantai keramik. Ini semua karena Harist meminta Aara untuk menunggunya menyelesaikan acc, dan berkas yang perlu disetujui ada dua odner. Selain menjadi teman yang menyebalkan, laki-laki itu jauh lebih menyebalkan menjadi bos.
Aara juga mendengar dari Niken, kalau sebenarnya Harist memiliki perusahaan sendiri, sehingga dia membagi waktu agar beberapa hari di perusahaan ayahnya dan hari lainnya di perusahaan dia sendiri. Sedangkan hari ini harusnya jadwal Harist untuk berada di perusahaannya sendiri, tapi seluruh karyawan terkejut Ketika Harist datang pagi itu.
“Sudah selesai menghitung lantai keramiknya?” ucapan itu menyadarkan Aara. “Nanti siang ikut saya, cek harga di display.” Tambahnya.
“Apa?” tanya Aara, seperti yang pernah diberitahu oleh karyawan yang digantikannya, setiap bulan memang ada cek harga di display dan itu hanya dilakukan oleh Aara saja, lalu nantinya dilaporkan ke Pak Rendy. Kenapa sekarang Harist ikut dengannya juga?
“Kenapa?” Harist sudah memasang wajah yang tidak menerima penolakan.
Aara pun menggeleng pasrah. Baiklah, Harist sekarang sedang menjadi atasannya, bagaimanapun juga dia tidak bisa membantah apalagi dalam hal sekecil itu.
***
Jam makan siang pun tiba, Harist dengan rajinnya sudah berada diruang keuangan dan administrasi, karyawan yang lain pun merasa segan untuk makan siang karena laki-laki itu.
“Oh ya, Aara akan ikut saya untuk cek harga.”
“Baik pak.” Ucap seluruh karyawan dalam ruangan itu.
Aqila menatap Aara dengan wajah kasihan, seolah tau jam makan siang temannya itu akan terbengkalai dan yang ada hanya tekanan dari si bosnya itu.
Aara membawa tasnya dan mengikuti Harist dari belakang, setelah turun dari tangga dan melihat sekitar lobby yang tidak begitu ramai, tiba-tiba tangan Aara ditarik oleh laki-laki itu hingga membawanya sejajar, berjalan berdampingan.
“Eh.” Aara terkejut dan segera melepas tangan Harist, takut ada karyawan lain yang melihatnya.
“Saya tidak mau kamu berjalan dibelakang.” Ucapnya sebelum Aara memprotes.
***
Aara menatap minimarket yang dengan sengaja dilewatkan oleh Harist, mereka tidak berhenti.
“Loh pak?”
Melihat Aara yang keheranan, Harist tidak memperdulikannya sama sekali, dia tetap melajukan mobilnya. Sampai mereka berhenti di rumah makan yang tidak jauh dari minimarket tersebut. “Kita makan siang dulu.”
“Jangan bilang ini alasan agar kita makan siang? Karena waktu itu aku menghindar.”
“Jadi kamu beneran menghindar dariku waktu itu?”
“Ha?” Aara mengutuk dirinya sendiri yang dengan enteng membuka kesalahannya waktu itu. “Maksudku terkesan menghindar.”
“Alasan. Sudah ayo turun, kita makan.”
Aara mengangguk, seperti perintah Harist, mereka pun turun dan menuju ke dalam rumah makan tersebut. Tidak ada yang terjadi sepanjang acara makan itu, mereka menyantap makanan dan mengobrol ringan, seolah semua hal bisa menjadi bahasan yang menarik untuk mereka, mulai dari melihat dua orang yang sedang berpacaran sampai dengan seorang nenek yang juga membeli makanan dengan sekarung barang-barang bekas. Dengan dahi yang sudah penuh kerutan, dan peluh yang terus mengucur, nenek tersebut mengaku sudah berjalan cukup jauh untuk bekerja sebagai pemulung.
Harist langsung berdiri Ketika mendengar nenek tersebut hanya memesan sebungkus nasi dan tahu tempe.
“Nek, nenek kebetulan saya ada acara syukuran. Nenek bisa makan dengan kami?” ucapnya sembari menunjuk Aara yang sedang duduk dan memperhatikan mereka.
“Alhamdulillah, mau nak.” Wanita yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi itu dituntun oleh Harist menuju Aara berada.
Perempuan itu menatap Harist yang dengan rendah hatinya membantu nenek tersebut. Dapat diartikan sebagai rasa kagum yang berlebih. Apalagi mendengar caranya menawarkan untuk makan bersama, seolah ingin menjaga hati nenek itu agar tidak tersinggung.
Setelah Aara mempersilahkan mereka duduk, perempuan itu pun menyodorkan segelas air putihnya pada nenek tersebut. “Minum dulu nek, sebelum makanannya datang.” Ucapnya kemudian tersenyum bahagia.
“Terimakasih, nduk.” Nenek itu menenggak segelas air putih, meminumnya hingga setengah gelas. “Oh ya syukurannya untuk acara apa nak? Kok Cuma berdua saja.”
Harist dan Aara terhenyak, mereka harus menjawab apa? Acara apa yang hanya diadakan oleh dua orang?
“Syukuran karena… Istri saya sedang hamil, Nek.” Ucap Harist sembari memegang tangan Aara dan memasang wajah sangat bahagia, dia menatap Aara memberi isyarat bahwa perempuan itu harus setuju dengan alasannya.
Aara pun tertawa canggung, bagaimana bisa laki-laki disampingnya berpikiran untuk membuat alasan seperti itu. Kenapa tidak syukuran atas kelulusan atau setidaknya jadian. Kenapa hamil? Sejauh itu kah?
“Alhamdulillah, Allah sedang memberi berkah kepada kalian, jagalah berkah tersebut ya, dan selalu lah akur. Karena pernikahan memang adakalanya pertengkaran kecil, tapi jika saling mendewasakan diri, kalian akan bisa melewatinya.” Jelas nenek itu karena melihat Aara sedang melotot kearah Harist dan menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu.
“Pasti nek, pasti kami selalu akur. Ya kan, sayang?” tanya Harist sembari membawa Aara dalam rangkulannya.
Ini sudah kelewat aktingnya!
Aara sangat memperingatkan laki-laki disampingnya, sembari terus berada dirangkulan Harist, Aara mencubit perut laki-laki itu.
Dengan menahan sakit akibat cubitan itu, Harist melepas rangkulan itu dan menarik tangan Aara lalu mengelus-elusnya, menahan emosinya didepan nenek itu. Kalau tidak, dia sudah membalas cubitan Aara.
Melihat mata laki-laki itu yang seperti ingin melahapnya, Aara bersikap manis pada Harist didepan neneknya. “Iya nek, Alhamdulillah saya bersyukur punya imam seperti suami saya.”
Nenek itu pun tersenyum bahagia, “melihat kalian, nenek jadi ingat suami nenek yang sudah meninggal, dia juga sangat romanits dan baik. Nenek pun berjanji padanya, bahwa di surga nanti, nenek lah bidadari yang akan menemaninya.” Ucapnya yang membuat Aara dan Harist berhenti saling emosi, mereka dengan seksama mendengar cerita nenek. “Suami nenek adalah laki-laki paling terhebat yang pernah nenek kenal, meskipun nenek tidak bisa punya anak, dia masih setia dan tidak ada hentinya berusaha, selalu menguatkan nenek Ketika mulai menyerah. Selama itu nenek terus yang mengeluh dan dia yang terus menghibur. Nenek sadar, bukan hanya nenek yang sedang sedih, tapi suami nenek juga. Kami pun akhirnya saling menguatkan.”
Aara hampir meneteskan airmatanya mendengar cerita nenek tersebut, kenapa tiba-tiba dia membayangkan dirinya dan Harist ada dalam cerita tersebut.
Tidak tidak!
“Makanannya datang.” Harist mengalihkan perhatian ketika melihat pelayan datang membawa makanan yang mereka pesan. Dia tau nenek dan Aara sedang terbawa perasaan.