Aara melihat motornya sudah terparkir didepan rumah.
“Tadi ada orang yang nganterin motor kamu, Ra..” Ucap kakaknya Aara sembari membersihkan halaman rumah dengan sapu lidi.
“Iya mbak, Alhamdulillah motornya udah dibenerin.” Ucap Aara mencari alasan kenapa motornya ditinggal semalam. “Yaudah aku mandi dulu ya, mau berangkat kerja.”
Aara pun berjalan ke dalam rumahnya lagi, khawatir kakaknya akan bertanya hal lain yang jawabannya belum dia siapkan.
***
Setelah membersihkan tubuh dan memakai riasan tipis, Aara sejenak duduk dan menatap dirinya di cermin, aktivitas yang selalu dia lakukan tiap hari sebelum berangkat kerja.
Aara menengadahkan kedua tangannya, mulai mengucapkan sholawat sebelas kali dan membaca doa selamat.
“Allaahumma innaa nas aluka salaamatanfiddiini wa afiatan filjasadi waziaadatangfil ilmi wabarokatangfirizki wataubatangQoblalmaut warahmatan ingdalmaut wamaghfiratan ba'dal mauut, Allaahumma hawin alaina fi sakarootil mauti wanajata minannaar wal afwa ingdal hisaab. Robbana laatuzigh Qulubana ba'da idz hadaitanaa wahablanaa mil ladungka rohmatan innaka angtal wahhaab. robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanataw wafil akhiroti hasanatw waQinaa adzaabannaar” Berharap setiap langkah dan segala yang dilakukannya selalu dalam lindungan Allah, apapun rintangannya dapat dihadapi, dan memohon pada Allah atas semua kesalahan yang pernah dilakukannya baik itu dia sengaja maupun tidak.
Aara kembali menatap dirinya dicermin, seolah waktu paginya sangat panjang. Dia tersenyum simpul, mengingat kejadian kemarin sore ketika dia dengan tegas dan lugas mengatakan ikhlas pada Dhanis. Perempuan itu menyentuh dadanya yang terasa nyeri, “Hati, aku harap kamu tidak lagi sakit ya, untuk kali ini aku maklumi, kamu hanya perlu beradaptasi dengan tidak ada lagi dia untuk mengisimu. Kamu akan baik-baik saja…”
“Apanya yang baik-baik saja?” suara itu berasal dari balik pintu dan membuat Aara terhenyak lalu beranjak dari duduknya.
“Ha? Apa bu? Ndak kook. Hmm, akum au berangkat,” Aara berharap ibunya tidak mendengar percakapan dengan hatinya tadi, bisa-bisa dia akan diinterogasi.
“Kebetulan, itu ada temanmu menjemput.” Ucap ibu Aara yang membuat Aara mengernyit.
Menjemput? Sejak kapan Aara punya teman baik sampai mau menjemputnya untuk berangkat kerja. Biasanya mereka akan sibuk sendiri dengan rumah tangganya masing-masing. Hal itu yang terus menjadi bahan untuk ibu dan kakaknya mendesak agar perempuan itu cepat menikah. Tidak perlu kaya raya, ibu dan kakaknya hanya ingin laki-laki yang dibawa Aara suatu hari nanti adalah laki-laki yang bertanggung jawab, mampu menghargai orang lain, pekerja keras, dan yang paling penting adalah mampu membuat Aara nyaman bersamanya. Karena mereka sudah lelah mencari dan mengenalkan pada Aara, tapi tidak satupun dari pilihan itu membuat Aara merasa nyaman.
“Siapa bu?” tanya Aara memastikan, apa iya Aqila? Perempuan itu sama saja sepertinya, menghabiskan waktu paginya untuk bersantai, lalu tergesa-gesa di jalan.
“Bilangnya; Harist.” Jawab ibunya.
“Apa? Siapa bu?”
“Harist, Raa.. masih aja b***k. Sudah cepat keluar sana, sejak tadi dia nunggu, kamu di kamar mandinya lama banget.” Ibunya membawa segelas teh hangat dari dapur kea rah ruang tamu.
Aara pun bergegas menuju ruang tamu sempitnya, dia mengikuti ibunya dari belakang. Dia masih belum percaya dengan yang didengarnya tadi, apa mungkin benar-benar Harist yang sedang menjemputnya? Selain di abos di perusahaan tempatnya bekerja, laki-laki itu juga temannya yang baru dia tau sifat aslinya.
Setelah sampai di ruang tamu, dia melihat seorang laki-laki sedang duduk di kursi memakai setelan jas berwarna abu-abu, tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih pada ibunya Aara yang telah menyuguhinya segelas the hangat. Aara pun melihat ke depan rumah dan disana terparkir sebuah mobil milik Harist.
“Pak Harist?” ucap Aara tidak percaya.
“Iya, hai.” Sapanya dengan sangat manis, seolah mereka benar-benar teman yang akrab.
“Oh ya, kalian teman sekantor ya?” tanya ibunya Aara yang sudah suka melihat Harist.
Harist hanya tersenyum simpul.
“Bu, Pak Harist ini atasanku di kantor.” Ucap Aara yang membuat ibunya terperangah kaget.
“Oh ya?” ibunya mencubit Aara. “Kenapa nggak bilang dari tadi, kalo gitu kan ibu carikan makan dan kue dulu. Udah kamu temani dulu, ibu minta tolong sama kakakmu nyari kue.” Ucap ibunya terburu-buru.
“Maaf bu tidak usah repot-repot, kami sudah sedikit terlambat.” Ucap Harist yang mendengar percakapan Aara dengan ibunya.
“Itu lebih baik.” Gerutu Aara, yang dihadiahi tatapan penuh ancaman dari ibunya. “Ya sudah bu, aku berangkat dulu.”
Setelah bersalaman dan pamit pada ibunya, Aara langsung beranjak untuk keluar dari rumah diikuti oleh Harist dari belakang. Aara mengeluarkan motornya yang terparkir, namun dicegah oleh Harist.
“Kita naik mobil saja,” Ucap Harist yang sempat mendapatkan penolakan dari Aara, namun segera berubah karena ibunya kembali mencubit dan memberi isyarat agar menuruti perintah atasannya. “Cepat, kita sudah terlambat.”
Dan mau tidak mau, Aara harus ikut Harist berangkat dengan mobilnya.
Saat Harist mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Aara, perempuan itu menunjuk beberapa tetangganya yang berada di depan rumah hanya untuk melihatnya dijemput oleh laki-laki dengan membawa mobil mewah.
“Lihatlah, pasti mereka berpikir kamu menjemputku dengan mobil rental.” Gerutunya.
“Apa sepicik itu mereka? Kenapa mereka tidak berpikir kalo kamu beruntung bisa dijemput oleh laki-laki tampan dan berkecukupan sepertiku?” pertanyaan Harist membuat Aara menatapnya geli.
“Kenapa kamu berpikir mereka akan beranggapan seperti itu? Itu jauh lebih menggelikan.”
“Kamu sendiri yang berpikiran buruk terhadap mereka.” Balas Harist.
Aara pun terdiam, namun dia masih belum puas mendebat laki-laki disampingnya, dia hanya tidak terima Harist semakin hari semakin menyebalkan dan membuatnya susah.
“Aku hanya tidak mau ibuku dicecar pertanyaan, dan dia tidak tau harus menjawab apa.” Ingatan Aara menerawang dimana kejadian demi kejadian membuat hati ibunya terpukul.
“Maksudmu, mereka akan bertanya siapa aku dan ada hubungan apa denganmu?” Tebak Harist.
Aara mengangguk, “Ibuku sudah banyak menderita karenaku, aku banyak menyusahkannya, dia jadi bahan omongan tetangga karenaku.”
Harist tersenyum simpul, “Kalo begitu cepatlah menikah agar ibumu tidak terus menerus menjadi omongan tetangga.”
Ucapan Harist membuat Aara menoleh kearahnya dengan wajah kesal dan mata melotot, “Aku kira jawabanmu akan lebih bijak dari orang lain, ternyata sama saja. Percuma.” Ucap Aara yang merasa tidak terbantu oleh usulan Harist, bahkan terdengar sedang menyudutkannya.
“Tapi benar kan apa yang aku katakan?”
“Iya benar, tapi menikah juga bukan perkara yang mudah. Menikah bukan urusan orang lain, mereka hanya bisa menonton, baik saja jadi bahan omongan, apalagi jeleknya. Lagian untuk apa mendengarkan omongan mereka, kita makan tidak ikut mereka, kenapa harus memikirkan ucapan mereka..” Aara seolah menuangkan kegelisahannya yang dia rasakan selama ini.
Harist lagi-lagi tersenyum simpul, “Ya kamu benar.” Dan lagi, laki-laki itu tidak bisa membantah apa yang dikatakan Aara, karena dia tau bagaimana perasaan perempuan itu.
“Setuju denganku kan?” Aara memastikan lagi bahwa Harist ada dipihaknya dalam masalah ini.
Laki-laki itu pun mengangguk dengan pasti, dan membuat Aara tersenyum gembira, seolah akhirnya ada orang yang berpihak dengannya.
Namun senyum itu tidak bertahan lama, Aara memasang tatapan penuh intimidasi, membuat Harist bergidik ngeri. “Kamu kenapa menjemputku tadi?”
“Tadi aku ada ketemu dengan temanku didekat sini, aku berpikir kenapa nggak sekalian jemput kamu.” Jawab Harist.
“Oh gitu ya? Aku kira kamu sengaja menjemputku.” Ucap Aara.
“Apa?” Harist tertawa kecut. “Mana mungkin.”
***
Sepanjang jalan Harist dan Aara terus mengobrol, selalu ada topik yang bisa mereka bicarakan dan menjadi begitu menarik. Mereka menikmati perjalanan seolah waktu tidak berjalan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08.15, dan Aara sudah mendapat beberapa kali telepon dari Niken dan Aqila, mereka khawatir terjadi apa-apa pada Aara karena tidak ada ijin telat atau cuit.
Aara menatap Harist yang tertawa terbahak-bahak karena lelucon mereka sendiri, disaat itu Aara merasa mereka semakin banyak waktu untuk bertemu. Dulu mereka hanya punya waktu dua sampai tiga jam saja mengobrol di taman dekat persimpangan, tapi sekarang bahkan pagi-pagi saja Aara sudah melihat tawa laki-laki itu yang sangat renyah.
Aara segera mengalihkan pandangannya, takut hatinya yang terluka sembuh oleh Harist. Laki-laki yang jauh digapainya.
‘Sejujurnya, aku bersyukur punya teman sepertimu, bahkan seharusnya kamu tidak pantas berteman denganku yang bukan siapa-siapa. Dan sekarang? aku malah merasakan banyak ketakutan, takut teman kantor mengetahui pertemanan kita dan akan berdampak pada lingkungan kerjaku, jugaa.. aku takut lukaku sembuh karenamu.’ Aara menahan dirinya untuk tidak terlalu sering melihat wajah Harist, dia benar-benar takut hatinya kembali terbuka dan pada orang yang tidak mungkin mau memasukinya.
“Oh ya Pak, nanti aku turun di warung samping perusahaan saja ya.” Ucap Aara.
“Loh kenapa?” tanya Harist.
“Aku tidak mau seluruh karyawan tau kita sampai disana berdua dan dengan mobil yang sama.” Jawab Aara yang malah ditertawakan oleh Harist.
Aara pun memukul lengan laki-laki itu, “Kenapa malah ketawa sih.”
Harist menghela napas kasar, “Kamu masih mempermasalahkan hal itu?”
“Tentu.” Jawab Aara.
“Baiklah, untuk kali ini aku turuti. Tapi selanjutnya aku tidak mau.” Ucap Harist.
“Maksudmu selanjutnya? Kamu mau menjemputku terus? Apa setiap pagi kamu punya urusan dengan temanmu yang dekat dengan rumahku?” Cecar Aara yang membuat Harist gelagapan.
“Bukaaaan, maksudku seandainya saja.” Harist membela diri, namun diliriknya Aara masih menatap dengan penuh intimidasi. “Hmm, ini sudah hampir sampai, kamu mau turun dimana?”
“Disamping warung aja, biasanya masih ada driver yang di warung juga, takutnya mereka ngeliat kita.”
“Jaraknya terlalu jauh dari kantor.”
“Ya gimana lagi.”
“Dasar, pokoknya sekali ini saja kamu turun disana. Lain kali aku tidak mau.”
Aara pun tersenyum simpul, sudah bukan waktunya mendebat laki-laki itu, dia sudah terlambat. Aara pun mengirim pesan bahwa ban motornya bocor, sehingga dia harus ke bengkel dulu dan datang terlambat.