“Memangnya apa yang ingin Pak Reza tanyakan?” tanya Livia. Reza tersipu malu. Dia berdeham sekali sebelum akhirnya menggenggam jemari Livia. Jantung Livia seakan bertabuh layaknya genderang perang. “Kamu berulang kali mengatakan kalau merindukanku. Apakah benar begitu, Livia?” Reza menatap Livia lembut sambil tersenyum tipis. Tanpa sadar Livia mengembuskan napas lega. Seakan menyadari Livia diselimuti kegelisahan, Reza mengerutkan dahi. Dia membelai lembut pipi Livia. “Apa ada yang salah? Kamu terlihat begitu tegang dan khawatir!” “Hehe, mana ada?” Livia tersenyum kaku kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang Reza. “Iya, Pak. Aku sangat merindukanmu. Aku ingin menghubungimu lebih dulu, tetapi takut mengganggu.” “Mana ada hal seperti itu!” ujar Reza sambil terkekeh dan mencubit

