Hakim mengamati tumpukan dokumen yang kini ada di mejanya. Dia membaca satu per satu dan menelitinya dengan detail. Lelaki tersebut membetulkan letak kacamata kemudian menarik napas panjang.
"Sidang ditunda dua minggu ke depan!" seru hakim sambil mengetuk palu.
Livia tersenyum lebar karena merasa puas dengan apa yang sudah dia kerjakan. Semua petugas pun keluar dari ruang sidang, disusul oleh saksi-saksi dan terdakwa. Livia berjalan ringan ketika menuju tempat parkir.
"Via!" teriak Anton sehingga membuat langkah perempuan itu berhenti.
Livia menoleh ke arah kekasih dari sahabatnya itu. Anton berlari tergopoh-gopoh dan berhenti di depan Livia. Detelah berhasil mengatur napas, Anton pun mengutarakan maksudnya menyusul perempuan tersebut.
"Mana kunci mobilmu?" Anton mengulurkan tangan sehingga membuat Livia justru semalin kuat menggenggam kunci mobil miliknya.
"Halah, mana!" seru Anton kemudian merebut kunci tersebut dari tangan Livia.
"Livia, kamu pulang sama Pak Reza. Aku akan mengikuti kalian dari belakang. Ada yang ingin beliau sampaikan dan tanyakan." Anton tidak menunggu persetujuan Livia.
Lelaki itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Ketika Livia baru bisa mencerna ucapan Anton, dia hendak melayangkan protes. Namun, terlambat karena Anton langsung melajukan mobil meninggalkan Livia.
Tak lama berselang, mobil milik Reza berhenti tepat di samping Livia. Sopir keluar dari mobil dan membukakan pintu. Di dalam sana sudah ada Reza yang menatap lurus ke depan dengan sorot mata dingin.
"Silakan masuk, Bu."
Livia memutar bola mata sambil mengembuskan napas kasar. Mau tidak mau akhirnya dia masuk ke mobil dan duduk di samping Reza. Begitu pintu kembali tertutup dan mobil berjalan, Livia sedikit memiringkan tubuhnya sehingga bisa menatap Reza dengan leluasa.
"Ada apa, Pak? Saya harus nge-gym. Saya sudah ada janji dengan Coach Heru! Saya sudah terlambat hampir setengah jam!" protes Livia.
Reza tidak menanggapi Livia yang sedang mengomel. Justru lelaki itu tampak sibuk dengan ponselnya. Reza sedang menghubungi Anton melalui pesan singkat untuk mengatur sesuatu.
"Pak, halo! Saya sedang bicara dengan Anda!" Livia menggerakkan tangannya di samping wajah Reza.
"Diamlah! Duduk saja dengan tenang!"
Sontak nyali Livia menciut lelaki di sampingnya itu benar-benar mendominasi. Dia akhirnya memilih untuk diam, meski hatinya terasa begitu dongkol. Ketika sudah sampai di pusat kebugaran, keduanya keluar dari mobil.
Di depan tempat tersebut sudah ada Anton yang sampai lebih dulu. Lelaki tersebut menyambut Livia serta Reza. Dia menunduk sekilas dan kembali berdiri tegap.
"Saya sudah melakukan apa yang Anda mau, Pak. Ah, ini bukti transaksinya." Anton maju menghampiri Reza dan menyerahkan selembar kertas kepada sang atasan.
"Kerja bagus!"
Reza melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku jas. Tak lama berselang, sopir Reza menghampiri sambil membawa tas milik sang majikan. Livia masih mematung sambil mengerutkan dahi.
"Tasku masih ...." Belum selesai Livia melanjutkan ucapannya, Anton sudah mengangkat tas berwarna merah maroon dan menunjukkan kepada Livia.
"Terima kasih, Anton!" ujar Lovia sambil berjalan ke arah lelaki itu dan mengambil tasnya dari gemnggaman tangan Anton.
Livia pun akhirnya masuk ke gedung tersebut. Ketika masuk, tidak ada seorang karyawan pun yang ada di sana. Meja resepsionis juga kosong.
Namun, Livia masih berpikir positif. Mungkin saja resepsionis biasanya masih keluar dan belum kembali karena masih istirahat. Akan tetapi, setelah selesai berganti pakaian, suasana tempat itu masih lengang.
Di dalam ruang latihan juga sama sekali tidak ada orang. Livia akhirnya memutuskan untuk melakukan pemanasan sambil menunggu kehadiran Heru. Sampai akhirnya Reza masuk, Livia menghampiri lelaki tersebut.
"Pak, kok, tumben sepi banget? Apa karena masih jam kerja, ya? Coach Heru juga belum datang! Biasanya dia tepat waktu!" ujar Livia sambil menatap sekeliling ruangan yang terasa hampa.
"Mungkin," jawab Reza singkat sambil terus menatap lurus ke depan tanpa melirik Livia sedikit pun.
Livia berdecap kesal kemudian memilih untuk melanjutkan pemanasan. Setelah itu, Livia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan mengamati alat-alat yang ada di sana. Dia menggaruk kepala yang tidak gatal karena bingung harus menggunakan alat yang mana untuk program pembentukan otot perutnya
Tidak ada cara lain, selain menanyakan hal itu kepada Reza. Livia menurunkan sedikit egonya dan mulai mendekati Reza yang kini duduk di bangku sambil mengangkat barbel. Perempuan tersebut menyentuh lengan atas Reza yang terlihat sangat berotot.
"Pak, kalau mau mengecilkan perut. Baiknya pakai alat mana yang paling cocok?" tanya Livia sambil tersenyum lebar dan mengedipkan mata berulang kali.
Reza menghentikan gerakannya, kemudian menoleh ke arah Livia. Lelaki tersebut meletakkan barbel ke atas lantai, lantas menautkan jemarinya satu sama lain. Reza terlihat kesal sehingga membuat Livia menelan ludah berulang kali.
"Pakai saja Ab wheel."
"Anu, Pak. Ab wheel itu yang mana, ya?" Livia tertawa kecil sehingga membuat Reza menepuk dahinya.
"Astaga, Livia! Kamu itu gimana, sih? Harusnya kamu ngerti! Minimal cari tahu dulu, dong, kalau mau latihan di pusat kebugaran!" seru Reza sambil mendengus kesal.
"Dih, kenapa Bapak yang kesal? Kalau mau jawab, kalau nggak, ya sudah! Saya pulang saja, tunggu Coach Heru hubungi untuk latihan selanjutnya!" Livia menyambar handuknya kemudian bersiap untuk pergi dari ruangan itu.
"Mana mungkin dia hubungi kamu." Suara Reza lirih, tetapi masih bisa terdengar jelas oleh Livia.
"Apa Pak Reza bilang? Memangnya ada sesuatu yang terjadi? Coach Heru dipecat? Atau bagaimana?" cecar Livia dengan mata membola.
"Halah, sudah jangan banyak omong!" Reza akhirnya berjalan ke sudut ruangan.
Lelaki itu mengambil sebuah alat berbentuk roda dengan pegangan yang ada di sisi kanan dan kirinya. Setelah itu, Reza menggelar matras di area yang kosong. Setelah selesai, dia melambaikan tangan ke arah Livia.
Livia pun melangkah mendekati Reza. Dia berdiri di hadapan lelaki yang kini duduk di atas matras. Reza memberi isyarat menggunakan kepalanya agar Livia berbaring di atas matras.
"Ada apa, Pak?"
"Ck, kamu itu, loh! Sini berbaring di sini!" Reza menepuk matras di bawahnya.
Akan tetapi, Livia malah mengedarkan pandangan. Sejak tadi tidak ada orang yang muncul di sana sehingga membuat otak Livia berpikiran macam-macam. Tak lama kemudian Livia menyilangkan kedua lengannya di depan d**a.
"Apa, sih, yang ada di dalam kepalamu itu?" Reza mengetuk pelipisnya menggunakan telunjuk, kemudian menggeleng beberapa kali.
"Aku ajarkan cara melatih otot perut biar lemak yang bergelambir di sana hilang!" seru reza sambil menunjuk perut Livia yang tertutup kaos jersey.
"Nggak berperasaan banget, sih!" gerutu Livia sambil memindahkan lengannya dari d**a ke perut.
Livia mengerucutkan bibir, kemudian melakukan apa yang diperintahkan oleh Reza. Dia berbaring ke atas matras dengan posisi terlentang. Akan tetapi, Reza merasa apa yang dilakukan oleh Livia tidaklah benar.
"Bukan terlentang! Tapi tengkurap dengan lutut dan lengan dipakai sebagai tumpuan!" ujar Reza.
"Apa Pak Reza lebih suka melakukannya dari belakang?" Livia tersipu malu sambil memalingkan wajah.
"Bukan cuma suka! Tapi harus!"