Mendengar namanya dipanggil, sontak membuat Reza menoleh. Lelaki itu terbelalak ketika melihat Livia yang mulai tumbang ke arahnya. Akan tetapi, reflek Reza menghindar.
Livia sudah pasrah jika memang takdirnya, hari itu dia harus bertumbukan dengan lantai. Dia memejamkan mata, tetapi sedetik kemudian Livia merasa tubuhnya melayang di udara. Ternyata Reza berhasil menangkap dan menahan kaosnya dari belakang sehingga Livia tidak jadi terjatuh ke atas lantai.
"Cepat, berdiri yang benar! Kecil-kecil begini ternyata kamu berat!" seru Reza dengan ekspresi datar.
"Te-terima kasih, Pak!" Livia kembali berdiri tegak dan mulai merapikan pakaiannya.
Saat menatap sekeliling, orang-orang yang ada di sana sedang menjadikan Livia pusat perhatian. Sontak perempuan cantik itu menutupi wajahnya dengan menempelkan telapak tangan pada dahi. Seakan dengan cara itu Livia bisa menghilang dari pandangan orang-orang.
Livia pun berjalan menjauhi kerumunan dan masuk ke ruang kebugaran. Setelah yakin tidak ada yang mengetahui kejadian memalukan itu, barulah Livia berjalan normal. Dia memilih untuk duduk di sebuah bangku dengan beberapa barbel yang tertata di bawahnya.
"Astaga! Kapan, sih, sifat ceroboh ini hilang? Apa iya, aku harus adakan selamatan biar nggak jadi orang yang ceroboh!" Livia mengembuskan napas kasar dengan bahu yang merosot.
Dari arah pintu, Reza pun masuk ke ruangan tersebut. Livia memperhatikan lelaki itu sedang melakukan pemanasan. Akhirnya Livia yang urat malunya tinggal tersambung setengah itu mendekati Reza seakan sudah melupakan kejadian memalukan beberapa menit lalu.
"Pak, saya baru pertama kali olah raga di sini. Bisa ajarkan aku cara pemanasan?" Livia tersenyum lebar ketika berbicara dengan Reza.
Namun, lelaki tersebut tidak menanggapinya sama sekali. Reza tetap sibuk melakukan pemanasan dengan meregangkan otot dan melakukan gerakan ringan. Livia mencembikkan bibir sambil melirik kesal ke arah Reza.
Perempuan tersebut akhirnya memilih untuk mengikuti setiap gerakan yang dibuat oleh Reza. Setelah melakukan pemanasan selama 10 menit, mereka pun selesai. Dari kejauhan terlihat seorang pria berbadan atletis menatap Livia dan mulai berjalan ke arahnya.
"Bu Livia?" tanya lelaki tersebut.
"Ah, i-iya, Pak." Livia mengerutkan dahi berusaha mengingat siapa lelaki yang sedang menyapanya itu, tetapi otak perempuan tersebut gagal mengidentifikasi pria tersebut.
"Ah, saya Coach Heru!" Heru mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Livia.
"Salam kenal, Coach. Mohon bimbingannya!"
"Za, apa kabar?" tanya Heru sambil menepuk lengan atas Reza beberapa kali.
Namun, Reza tidak menjawab. Dia hanya menatap sinis tangan Heru yang masih menempel pada lengannya. Sontak Heru menarik tangannya dari sana.
"Haha, maaf. Lanjutkan saja! Aku ada latihan privat sama Bu Livia." Heru terseenyum canggung kemudian berjalan menjauhi Reza diikuti oleh Livia.
Livia pun mulai diajari cara melatih otot dengan mengangkat beban menggunakan alat yang tersedia. Latihan keduanya terlihat begitu intensif. Tanpa disadari sepasang mata elang Reza terus mengamati Livia dan Heru dari kejauhan.
"Mata keranjang! Busuk! Nggak usah pegang-pegang area sana!" seru Reza sambil menatap cermin di depannya yang memantulkan Heru sedang memegang pinggang Livia.
"Jadi sesi kali ini akan melatih otot perut bawah." Heru kini menekan perut Livia bagian bawah.
Sontak Reza melemparkan barbel yang ada dalam genggamannya ke arah belakang. Semua yang ada di belakang Reza langsung terkejut. Begitu juga dengan Livia dan Heru.
Untungnya barbel itu tidak mengenai siapa pun. Namun, hampir saja Heru terkena imbasnya jika saja tidak segera menghindar. Kaki Heru seakan lemas setelah berhasil menghindar, sehingga lelaki tersebut terduduk di atas lantai.
"Bangs*t! Kamu sengaja, ya, Za?" teriak Heru sambil menunjuk wajah Reza.
Reza beranjak dari kursi kemudian balik kanan. Dia melangkah mendekati Heru. Ekor matanya melirik Livia yang tertegun karena sedang mencerna kejadian di luar dugaannya itu.
"Tanganku licin, Her. Ayo, aku bantu berdiri!" Reza mengulurkan tangan kepada Heru yang masih terduduk lemas.
Emosi Heru sedikit reda karena sikap Reza yang dianggap baik. Kapan lagi seorang pengusaha besar mengulurkan tangan kepada pelatih biasa seperti dirinya. Heru pun dengan senang hati menyambut uluran tangan Reza.
Akan tetapi, siapa sangka Heru masuk ke perangkap Reza. Lelaki tampan itu menggenggam kuat tangannya. Heru pun meringis menahan sakit dan berusaha melepaskan tangan kanannya dengan bantuan tangan kiri, tetapi genggaman Reza lebih kuat dari yang dia duga.
"Jangan pernah menyentuh perempuan itu dengan modus latihan-latihan mesummu itu!" bisik Reza pada telinga Heru.
"Mengerti?" tegas Reza.
Heru langsung mengangguk berkali-kali, barulah Reza melepaskan tangannya. Setelah itu dia kembali ke bangku tempat dia latihan beban. Livia masih berusaha mencerna apa yang terjadi.
Perempuan itu mendekati Heru dan berniat untuk membantu lelaki itu berdiri. Akan tetapi, Heru menolak bantuannya. Dia berdiri sendiri sambil menatap Reza yang sedang mengawasinya melalui pantulan cermin.
"La-latihan hari ini cukup sampai di sini. Ki-kita lanjutkan tiga hari lagi." Heru berjalan keluar dari ruang latihan dengan langkah tertatih.
"Baik, Coach! Hati-hati di jalan! Terima kasih!" teriak Livia sambil melambaikan tangan.
Setelah itu Livia berjalan ke arah Reza. Dia berdiri di samping lelaki itu dan menatapnya tajam sambil melipat lengan di depan d**a. Reza hanya melirik Livia melalui pantulan cermin.
"Pak Reza sengaja?" tanya Livia sambil menyipitkan mata.
Reza bungkam, dia terus menggerakkan lengan sambil menggenggam barbel. Livia mendengus kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari Reza. Perempuan itu memutar bola mata dan mengentakkan kaki sebelum akhirnya meninggalkan Reza yang masih bungkam.
***
[Semua berkas untuk pembelaan sudah siap, Bu.]
Pesan itu dikirim oleh sekretaris Livia. Perempuan itu sudah rapi dalam balutan kemeja putih dan celana panjang hitam ketika membaca pesan tersebut. Setelah membalas pesan sang sekretaris, Livia menyambar tas dan berjalan ke parkiran apartemen.
Sepanjang perjalanan, Livia berusaha menenangkan diri. Ini bukan pertama kalinya Livia hadir dalam persidangan untuk membela klien. Namun, kali ini berbeda.
Nasib Livia bergantung pada persidangan kali ini. Perusahaan Reza harus memenangkan perkara. Dia harus semakin dekat dengan Reza agar rencana balas dendamnya berlangsung mulus.
"Saya sudah hampir sampai pengadilan, Ton. Tolong beritahu Pak Reza kalau dia pasti akan memenangkan perkara ini!" seru Livia melalui sambungan telepon.
Setelah mengucapkan hal itu, Livia mematikan teleponnya. Dia memasuki halaman pengadilan negeri dan memarkirkan mobil. Setelah itu dia berjalan ke ruang sidang yang sudah ditentukan.
Sidang siang itu berlangsung sengit. Pihak perusahaan e-commerce yang menuntut Reza terus menghindar setiap Livia membeberkan bukti yang memberatkan mereka. Perusahaan itu terus mengelak dan mengaku membuat program aplikasi itu sendiri dengan ahli IT terpercaya.
"Maaf, Saudara Bahar. Apa orang IT yang Anda maksud adalah Brilian?" Livia tersenyum miring.
Mendengar pernyataan Livia, rahang Reza mengeras. Bahar terbelalak, serta Anton menelan ludah kasar. Livia berdiri dari kursi kemudian menatap hakim.
"Yang Mulia, saya memiliki sesuatu untuk ditunjukkan kepada Anda!" Livia berjalan ke arah hakim sambil membawa beberapa lembar kertas yang dijepit menggunakan klip.