Livia menatap ponselnya sambil tersenyum lebar. Tanpa dia duga, Reza secepat itu mengikuti akun instakilo-nya. Perempuan tersebut pun mengikuti balik akun Reza dengan ringan hati.
"Ih, manis banget. Nggak ada wajahnya sama sekali di akun sosial medianya! Pasti dia ingin membuat wanita di luar sana penasaran! Lihat pengikutnya! Sudah 10 ribu lebih!" seru Livia dengan mata terbelalak.
Semua foto yang diunggah oleh Reza, hanya menampilkan tempat di mana dia beraktifitas. Selain pekerja keras, ternyata Reza suka berolahraga. Lelaki itu mengunggah foto ketika latihan beban, tetapi diambil dari belakang.
Foto tersebut menunjukkan bagaimana otot kekar yang sering dia latih terlihat berisi, kuat, dan kokoh. Livia menelan ludah kasar. Tak heran di usia Reza yang hampir memasuki 50 tahun, lelaki tersebut masih memiliki penampilan yang keren dan awet muda.
"Wah, sepertinya ide untuk olah raga boleh juga! Supaya badan kecilku ini lebih montok dengan otot yang terlatih. Bukannya malah semakin naik berat badan karena lemak di mana-mana!" Livia mencubit lemak yang menggelambir di perutnya.
Perempuan tersebut langsung melihat lokasi tempat Reza berlangganan olah raga. Setelah mengetahuinya, Livia bergegas mendaftarkan diri sebagai anggota fitnes di tempat yang sama. Dia membuat janji dengan instruktur yang ada di sana dan akan mulai berlatih pekan depan.
Sebuah senyum lebar kini terukir di bibir Livia. Dia berpikir mengejar Reza adalah hal yang menantang dan menyenangkan. Dia ingin mematahkan anggapan publik kalau lelaki tersebut hanya akan mencintai satu wanita seumur hidup.
Ya, ambisi Livia saat ini adalah membuat Reza jatuh cinta. Dia ingin pria itu masuk ke pelukannya. Dipandang dari sudut mana pun, Reza merupakan lelaki dengan level yang jauh berbeda di atas Arya.
"Baiklah! Sekarang, mari kita mulai menyelidiki kasus sengketa produk ini!" Livia mulai membuka laptop dan menekan email yang dikirimkan oleh Anton.
Dalam email tersebut terdapat beberapa data yang bisa Livia pakai untuk menyelidiki kasus tersebut. Perempuan itu tenggelam dalam banyak berkas yang harus dipelajari. Sementara itu, Reza masih melongo sambil menatap ponselnya yang ada di atas pangkuan.
"Nggak, nggak bisa!" teriak Reza.
Teriakan lelaki tersebut tentu saja membuat sang sopir serta Anton sangat terkejut. Sopir Reza langsung menginjak pedal rem untuk menghentikan laju kendaraan. Anton menoleh ke arah Reza yang masih tampak terkejut sambil meremas rambut.
"Ada apa, Pak?" tanya Anton sambil mengerutkan dahi.
"Aku tidak sengaja menekan tombol follow!" seru Reza sambil terus meremas rambut dan melotot ke arah ponselnya.
Anton bergegas meraih ponsel sang atasan. Lelaki itu membuka kunci layar dan langsung terpampang profil Livia. Perut Anton seakan digelitik.
Akan tetapi, lelaki itu memilih untuk menahan tawanya agar tidak pecah. Dia tidak mau dipecat hanya karena menertawakan Reza yang sedang menjaga gengsi di hadapan Livia. Anton akhirnya meminta izin kepada Reza untuk membatalkan mengikuti akun milik Livia.
"Enak saja! Jangan!" seru Reza sambil merebut ponselnya yang ada dalam genggaman Anton.
"Nanti dikira aku lelaki tak berpendirian! Aku tinggal bilang sejujurnya kalau tak sengaja menekan tombol follow! Masalah SELESAI!" tegas Reza kemudian memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku jas.
"Baiklah kalau itu mau Pak Reza," kata Anton sambil tersenyum tipis.
Hari itu mereka berencana mendatangi klien yang memesan aplikasi belanja online ke perusahaan. Ya, pihak klien itu sedikit tidak terima karena kasus yang menimpa Reza mencatut nama perusahaan mereka. Reza dan Anton berusaha menjelaskan semuanya karena ide dan konsep program aplikasi itu murni ide dari Reza yang telah dicuri oleh pihak ketiga.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Livia terus bergelut dengan masalah dengan Arya serta pekerjaan yang menumpuk. Hal itu membuat pikiran Livia terkuras.
Akan tetapi, rasa penat itu mendadak menguap ke udara ketika alarm pada lonselnya berbunyi. Alarm itu mengingatkan kalau sore ini adalah jadwal pertama dia mulai berlangganan dan membuat janji dengan salah seorang pelatih di pusat kebugaran.
"Ah, aku hampir saja lupa!" seru Livia.
Perempuan cantik itu bergegas menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas. Livia keluar dari ruangannya dan menyapa semua bawahan yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Mereka terheran-heran melihat sikap Livia yang mendadak berubah.
Beberapa hari ini putri dari pemilik firma itu memasang muka masam dengan mood yang sangat buruk. Sedikit saja kesalahan yang mereka buat mampu membuat Livia mengamuk dan mengomel tanpa henti. Melihat dia bahagia membuat semua karyawan mengembuskan napas lega secara berasamaan.
"Syukurlah! Sepertinya mood Bu Via sudah baik lagi!" celetuk salah seorang sekretaris.
"Iya, kamu tahu kasus yang berkaitan dengan Cakrabumi Grup? Saat aku meneliti kasus itu bersama Bu Via, dia terlihat begitu stres!" seru paralegal yang membantu Livia menangani kasus perusahaan Reza.
"Aku juga senang melihat Bu Via tersenyum hari ini. Rasanya beban hidupku berkurang sampai 80 persen!" timpal karyawan lain.
Semua yang ada di ruangan itu pun mengangguk setuju. Mereka bekerja dengan ringan hati saat Livia meninggalkan kesan baik kepada mereka. Setelah Livia keluar dari ruangan tersebut, semua kembali bekerja di posisi masing-masing.
Sementara itu, Livia terus bersenandung ketika mengendarai mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan. Livia memang belum menyiapkan pakaian khusus untuk olah raga. Perempuan itu memarkirkan mobil di area parkir dan langsung masuk ke toko perlengkapan olah raga.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk memilih pakaian yang nyaman di sana. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Livia akhirnya mengendarai mobil menuju pusat kebugaran tempat dia mendaftarkan keanggotaan.
"Selamat datang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang resepsionis berpakaian olahraga seksi bernama Lintang.
"Ah, saya sudah ada janji untuk latihan pribadi dengan coach Heru." Livia menunjukkan kartu keanggotaan digital yang dia peroleh usai pendaftaran pelan lalu.
"Ah, baiklah. Sebentar saya cek."
Lintang mengambil alih kartu yang dipegang oleh Livia dan mulai mengetikkan angka-angka yang tertera di sana menggunakan papan ketik. Tak lama berselang, gadis itu mengembalikan kartu kepada Livia.
"Mohon menunggu, Ibu. Coach Heru akan datang 15 menit lagi. Sambil menunggu, Ibu bisa berganti pakaian dan melakukan pemanasan." Lintang tersenyum ramah sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Baik, terima kasih, Kak." Livia pun berjalan ke arah ruang ganti.
Setelah selesai berganti pakaian,Livia memasukkan barang bawaan ke dalam loker yang sudah disediakan. Saat hendak masuk ke ruang latihan, Livia menangkap sosok Reza yang baru saja keluar dari ruang ganti pria. Perempuan itu langsung bersorak dalam hati.
"Pucuk disambut, ulam pun tiba!" gumam Livia sambil tersenyum lebar.
Perempuan tersebut langsung berlari ke arah Reza. Namun, bukan Livia namanya kalau tidak ceroboh. Perempuan tersebut menginjak tali sepatu yang tidak diikat dengan baik.
"Mati aku! Pak Reza, tolong tangkap aku!" teriak Livia ketika keseimbangannya mulai runtuh.