Bab 8. Merayu

1049 Kata
Langkah Reza semakin dekat dengan Livia dan Anton. Perempuan tersebut menelan ludah kasar, kemudian tersenyum canggung. Semakin Reza mendekat ke arah Livia, jantungnya berdetak semakin kencang. "Ma-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud ...." "Jadi, jangan terlalu banyak bicara. Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan kasus ini dengan aku sebagai pemenangnya. Selidiki juga siapa di balik kasus ini. Aku curiga dengan orang dalam juga. Aku mau kamu yang pelajari kasus ini sebelum sidang berlangsung. Kumpulkan bukti sebanyak-banyaknya untuk memenangkan kasus ini!" "Ba-baik, Pak." Suara Livia terdengar bergetar karena gugup. "Bagaimana aku bisa yakin menggunakan jasamu kalau kamu saja seperti tidak yakin dengan kemampuanmu?" Reza tersenyum miring seraya melipat lengan di depan d**a ketika mendengar suara Livia yang bergetar. "Eh, mana ada, Pak! Saya bisa menangani ini dengan mudah! Kecil!" seru Livia sambil menjentikkan jari. "Bagus! Jika kamu mau bekerja untuk perusahaan ini, khususnya untukku ...." Reza menggantung ucapan di udara. Reza berjalan mendekati Livia kemudian membukuk. Tatapannya terlihat mengintimidasi Livia. Lelaki itu memegang dagu perempuan di depannya sambil tersenyum miring. "Kamu harus yakin dengan kemampuanmu, selalu berpikir positif, serta optimis!" Livia hanya melongo menatap salah satu ciptaan indah Tuhan yang kini berjarak sangat dekat dengannya itu. Dia menelan ludah kasar dengan sepasang manik mata yang tidak lepas dari Reza. Tanpa sadar Livia pun menahan napas. "Mengerti?" tanya Reza. Livia menjawab pertanyaan calon partnernya itu dengan anggukan. Reza melepaskan dagu Livia, kemudian kembali berdiri tegap. Pada detik itu, barulah perempuan tersebut membuang napas kasar melalui mulut. "Sepertinya kamu gugup sekali ketika berbicara denganku. Apa aku semenakutkan itu bagimu?" tanya Reza sambil tersenyum miring. Livia mengangguk sekali, tetapi di detik yang sama perempuan tersebut mengubah gerakan kepalanya menjadi menggeleng. Tak lama kemudian Livia tersenyum canggung dengan menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi kepada Reza. Fokus Livia kembali setelah Anton berdeham sekali. Detik itu juga Livia sadar kalau sudah melakukan kesalahan lain. Dia harus profesional kali ini, agar bisa mendapatkan kepercayaan dari Reza. Perempuan itu menarik napas panjang lalu mengambuskannya perlahan. "Saya akan berusaha lebih keras untuk membela Bapak di depan pengadilan! Saya akan mempertaruhkan karier saya untuk ini!" Livia menemukan kembali kepercayaan dirinya sambil menepuk d**a. "Baik, saya tunggu kabar baiknya. Bu Livia!" Reza balik kanan kemudian berjalan menjauhi Livia. Anton pun bergegas mengikuti sang atasan. Sementara itu, Livia masih melongo sambil mengatur napas demi menetralkan kembali degup jantungnya yang tak karuan. Dia hampir saja kehilangan kesempatan untuk masuk ke kehidupan Reza melalui jalur kerja sama. Livia yakin dengan intensitas pertemuan yang lebih sering dengan Reza, dia mampu memikat hati lelaki tampan yang terkenal dingin itu. Reza juga dikenal sebagai pria kaya yang setia, karena sejak sang istri meninggal dia tidak menikah lagi dan membesarkan sang putri seorang diri. "Ah, Pak Reza, tunggu!" seru Livia sambil beranjak dari sofa. Livia setengah berlari menghampiri Reza yang kini menghentikan langkah di depan pintu keluar gedung perusahaannya. Livia berlari tergopoh-gopoh dan berhenti di depan Reza dengan napas terengah-engah. Perempuan tersebut merogoh tas dan mengeluarkan sebuah kartu kecil berwaran hitam dengan tulisan keemasan. "Ini kartu nama saya, Pak. Boleh saya minta kartu nama Anda? Kita harus lebih sering terhubung dan bertemu untuk membahas kasus ini." Tangan Livia menggantung di udara dengan kartu nama yang digenggam menggunakan ujung jari. Reza menatap sekilas kartu yang disodorkan kepadanya. Lelaki itu tersenyum miring kemudian menerimanya. Dia memasukkan kartu kecil itu ke saku jas dan mulai balik kanan. "Pak! Kartu nama Anda!" teriak Livia ketika Reza hendak melangkah. "Nanti saya yang akan menghubungimu! Untuk sekarang pelajari kasus ini. Saya beri waktu tiga hari. Setelahnya saya akan menghubungi Anda untuk kembali membahas masalah ini." Livia hanya bisa terdiam mendengar penuturan Reza. Dua terdiam sejenak, kemudian berjalan ke arah pintu kaca yang mampu memantulkan bayangan dirinya. Livia meneliti penampilannya pagi itu. "Apa aku kurang menarik di mata Pak Reza? Ah, aku harus mencari tahu seperti apa penampilan mendiang istri Pak Reza." Livia membuka gawainya dan mulai mengetikkan nama Rosemary pada mesin pencari yang ada di ponsel itu. Ada banyak sekali profil yang muncul. Akan tetapi, dia menyadari kalau orang yang dia maksud merupakan mantan model internasional yang berhenti dari karier setelah menikah dengan Reza. "Cantik, pantas saja Pak Reza susah move on! Putrinya juga cantik ... sayangnya ...." Livia menggantung ucapannya di udara sambil tersenyum miring. "Bodoh!" ujar perempuan itu. Livia keluar dari mesin pencari kemudian mengunci ponselnya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam tas. Dia pun akhirnya keluar dari gedung perusahaan tersebut. Dia mengendarai mobilnya untuk kembali ke kantor firma milik sang ibu. Di sisi lain, Reza bersandar pada jok mobil. Tiba-tiba lelaki itu teringat dengan kartu nama milik Livia. Lelaki tersebut merogoh saku jas, kemudian mengeluarkan benda kecil yang baru saja dia terima dari Livia. Pada kartu nama tersebut tercantum nama lengkap Livia, alamat perusahaannya, nomor ponsel, serta ada beberapa akun sosial media milik sang pengacara. Reza tersenyum geli. Dia berpikir untuk apa gadis itu mencantumkan akun instakilo dalam kartu nama. "Perempuan yang aneh!" ujar Reza. Akan tetapi, lain di bibir lain pula di hati. Kini rasa penasaran mulai merayap di hati Reza. Dia mengambil ponselnya dan membukan aplikasi instakilo untuk mencari akun milik Livia. Sayangnya, akun tersebut dikunci. Tanpa disadari, Reza mengembuskan napas kasar. Dia pun kembali memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku jas. Lantas membuka tablet yang ada di pangkuannya untuk memantau bisnis yang berjalan dengan sendirinya. "Bagaimana menurut Anda, Pak?" tanya Anton tiba-tiba. "Bagaimana apanya?" Reza tetap menatap layar tablet tanpa menoleh ke arah sang asisten. "Tentang Bu Livia? Apa Anda tidak ingin mengenalnya lebih jauh? Kabarnya dia akan bercerai dengan sang suami karena diselingkuhi!" seru Anton. "Aku tidak berniat mendekatinya untuk urusan pribadi. Tapi, ketika dia melemparkan diri kepadaku untuk menjadi penasehat hukum perusahaan, aku sangat senang. Dia merupkan pengacara yang berbakat dan profesional di kota ini! Aku yakin kinerjanya akan melebihi pengacara kita sebelumnya!" Anton terdiam. Dia tersenyum simpul ketika mendengar sang atasan bisa berbicara panjang lebar saat menilai seseorang. Lelaki itu merasa Reza memiliki ketertarikan khusus terhadap Livia, tetapi gengsi untuk mengakuinya. "Ah, baiklah, Pak." Pada akhir pembicaraan mereka, tiba-tiba ponsel Reza berbunyi tanda kalau ada notifikasi dari aplikasi sosial medianya. Lelaki itu pun langsung merogoh saku dan melihat apa yang terjadi pada gawainya. Bunyi notifikasi itu adalah pertama kalinya sejak dia menggunakan instakilo. Reza terbelalak saat menatap layar ponselnya. Bibirnya menganga dan benda pipih itu mendadak jatuh ke pangkuannya. "Mati, aku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN