Kangen Bapak dan Ibu

497 Kata
bahkan ember menjadi pajangan dadakan diseluruh penjuru ruang sempit ini. Kami, yang tak paham harus apa dan bagaimana, selain hanya menadahi bagian yang bocor dengan peralatan dapur, akhirnya hanya bisa diam, bingung. "Mas, kasurnya digulung, mas!" seru Genduk mengingatkan, mengikuti kebiasaan bapak dan ibu tiap kali hujan. Berdua kami menggulung kasur yang sudah mengeras , karna umurnya yang terlalu tua dan terlalu lama dijadikan alas tidur ini. Ukurannya tak seberapa, hanya muat untuk satu badan saja, tapi kar'na kapasnya yang sudah menggumpal dan bercampur debu, menjadikan kasur ini terasa berat, apalagi untuk ukuran tubuh sekecil kami. "Berat, ya, nduk?" tanyaku sambil nyengir. "Ho'oh, mas ... kok berat ya? Padahal pas lihat bapak nggulung kasur ini, kayake enteng, lho." sambil ngos-ngosan dia berusaha mendorong kasur, kearah yang aman dari tetesan air, membantuku. "Mas Alif ... aku kangen bapak sama ibuk," isaknya tiba-tiba, "Aku pengen ikut bapak sama ibuk, mas," lanjutnya, semakin keras tangisnya. Naluriku sebagai kakak, menyuruhku mendekat lalu memeluknya. Semakin pilu tangisnya ketika tubuh kecil itu dalam dekapanku, membuat dadaku teriris, nyeri. 'Mas Alif juga kangen, nduk!' Teriakku dalam hati. Dia terus menangis tersedu, seraya mengatakan semua yang dirasakannya. Dengan terus memeluknya, mataku memindai seluruh sudut bilik, lalu berhenti disebuah lemari kecil, yang pintunya sudah diganti dengan hordeng dan kakinya diganjal batu bata dibeberapa bagiannya. Aku ingat, itu adalah tempat bapak dan ibu menyimpan pakaiannya. Kurenggangkan tubuh mungil adiikku, lalu berdiri, membuka kain yang menjadi penutup benda kotak itu. "Nduk, kita pakai baju bapak sama ibu saja, yoh!" seruku, "biar anget," lanjutku. Kupilih baju peninggalan orang tuaku, kutarik pelan agar tak membuatnya berantakan. Ibu sudah merapikannya sedemikian rupa, aku tak ingin merusak tatanannya. Aku memilih sebuah kaos lengan panjang berwarna biru dengan tulisan nama toko bangunan, yang biasa dipakai bapak jika ronda. "Sini, nduk ... kamu mau pakai baju ibu yang mana?" Genduk mengusap air mata dan ingusnya dengan lengan baju yang dipakainya, lalu mendekat. Mata dan tangannya sibuk memilih. Akhirnya, dia mengambil sebuah blus warna biru, yang sering dikenakan ibu saat kerja. Diciumnya dalam-dalam, lalu dipeluknya erat baju itu, menangis lagi. "Waduh! tanganku ilang, nduk!" seruku sambil mengayunkan lengan baju bapak yang kebesaran ini. Berhasil! Genduk tersenyum. Lalu, mengikutiku, memakai baju yang diambilnya dari lemari tadi. Sama sepertiku, blus itu jadi daster di tubuhnya. "Mas, aku kaya' pakai daster ya?" ujarnya, sambil digoyang-goyangkan tubuhnya, kemayu. Lalu kami tertawa bersama. Malam ini, kami tidur di bale dengan baju Bapak dan Ibu sebagai penghangat, sekaligus pengusir rindu, sejenak. ?? "Lif ... Alif! Kamu dipanggil Pak Tarno!" Kudengar suara budhe Lasmi berteriak sambil digedornya pintu rumahku. Aku yang masih setengah terlelap, terlonjak kaget. Lalu bergegas bangun, kubiarkan saja Genduk yang masih terlelap. Lalu menuju ke sumur yang berjarak dua bangunan yang sama besarnya dengan tempat tinggalku. Sambil memompa air dan menampungnya disebuah ember, aku tercenung. Ada apa Pakde Tarno, pemilik tanah dan bangunan yang kutinggali itu, memanggilku sepagi ini? Apakah Beliau ingin mengusirku karena kedua orang tuaku sudah tak ada? Kalau iya, lalu aku dan Genduk harus tinggal dimana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN