Genduk pengen ikut Vie ke Gereja

934 Kata
nduk? Opo gak salah?" tanyaku sambil mengacak-acak rambutnya "Yo gak boleh nduk, Gereja itu tempatnya orang kaya kok. Bajunya bagus, pakai sepatu, bawa tas sama buku tebal. Lha kamu? baju bagus aja cuma satu, terus sepatumu? Mosok ke Gereja pakai sepatu sekolah?" Jawabku, mengutarakan yang ku pahami saat itu. Dengan nada yang sengaja kubuat lucu, agar tak melukai hatinya. "Iyo, ya Mas," Ucapnya dengan cengengesan, memperlihatkan giginya yang karis sebagian, karena terbiasa ngedot sejak bayi, meskipun isinya hanya air gula. ??? Sore ini ... sepulangku dari menyetorkan botol bersih ke rumah pakdhe Surip. Sebelum pulang, aku berniat mampir dulu di warung bu Parman untuk membeli beras dan bahan makanan lain yang terjangkau upahku, tak lupa kerupuk. Jika sisa, kubelikan permen atau sedikit jajanan buat Genduk. Tapi saat hampir sampai tempat tujuanku, ada yang memanggilku sambil berlari. "Mas ... mas Alif ... mas!" Sambil ngos-ngosan, dia terus memanggilku "Mas alif -- iki-- lho! dipanggil dari tadi gak mau berhenti," Protesnya, setelah berhasil membuatku menghampirinya. "Yo maaf, mas Alif gak denger kok. Suaramu pelan banget," jawabku. Meskipun sebenarnya, lebih tepat dibilang lembut, karena memang suara gadis ini lembut sekali, tak seperti suara Genduk yang cempreng. Yang bahkan meskipun pelan, tetap saja bisa menggelitik telinga. "Mas ... aku titip ini buat Lia, ya, besok aku gak bisa main. Ada latihan Misdinar (putra-putri Altar)," Sambil diserahkannya kertas berwarna dan wangi, yang dilipat dengan bentuk lucu, seperti bentuk hati, itu. (Sebentar,sebentar ... ini kok ada bulatan-bulatan seperti koin didalamnya. Isinya apa ya?) Rasa penasaran membuatku meraba-raba isi kertas itu. Tapi tak menemukan petunjuk, sama sekali. Menyerah ... Lalu, kuputuskan bergegas ke tempat tujuanku semula, warung bu Parman. Mbak menuk, salah satu orang yang membantu di warung itu, melayaniku dengan sabar dan memasukkan semua belanjaanku dalam kresek warna hitam setelah semua yang ku perlukan dihitungnya. Lalu, ditambahkannya 4 butir telur, yang tak kuminta, kedalam plastik belanjaanku. Kata mbak Menuk, "Buat maem sama genduk, ya, Le." 'Ah ... baik sekali mbak Menuk, ini,' Dalam hatiku, terharu. Aku hanya mengangguk "Matursuwun, mbak," Hanya itu yang bisa kuucapkan, sebagai balasan perlakuan mbak Menuk. Aku lantas berlari pulang. Dari kejauhan, kulihat Genduk duduk di batu besar depan rumah budhe Lasmi, tetangga depan rumahku. Sambil mengayun-ayunkan kakinya. Sepertinya, dia sudah mandi. Terlihat dari ujung rambutnya yang basah dan awut-awutan, belum disisir.Kebiasaannya dari dulu, setiap kali habis mandi, selalu malas nyisir. Tapi, saat itu ... ada ibu yang menyisirkan rambutnya. Dia masih belum menyadari, masnya sudah didekatnya, masih asik dengan ayunan kakinya dan rupanya, dia sedang bersenandung. [ Sedelo maneh, ibu rawuh ngasto oleh-oleh...kacang cino, kue moho na-na-na-na-na ] Penggalan lagu yang dulu sering dinyanyikan mendiang bapak dan ibu untuk kami itu, lirih dinyanyikan genduk. Hatiku seperti dihantam bongkahan es batu besar mendengarnya, dingin dan nyeri sekaligus. ' Nduk, kamu pasti kangen bapak-ibu, ya?' batinku, sedih Kujingkatkan kakiku, agar tak didengar langkahku, olehnya. Sengaja, aku ingin mengejutkannya. Saat sudah dekat, kurangkulkan tanganku dipundaknya, dia kaget. Bisa kurasakan, tubuh kecilnya sedikit terlonjak. Lalu, menoleh ... sedetik kemudian tersenyum lebar, menyadari orang yang ditunggunya sudah datang. "hayoo ... lagi ngapain?" tanyaku- pura-pura tak tahu. Sambil membalas rangkulanku, Genduk merajuk, manja "Mas Alif ... lama banget!" Bibirnya mengerucut, lucu. "Hissh, mulute sampe bisa dikuncir," ejekku mengomentarinya "Nduk ... tadi, mas, ketemu Vie. Waktu pulang dari setor botol. Nih! ada titipan, buatmu." Ku berikan padanya amanah gadis kecil yang ku temui dijalan tadi. "Besok gak bisa main sama kamu, 'ada acara di gereja', katanya," Meski dengan cemberut, tapi tak sabar dia membuka lipatan kertas itu. "Mas ... !?" Dia memekik kaget saat ada beberapa koin menggelinding dari kertas yang dibukanya. Enam buah koin bergambar Burung Cendrawasih di bagian depan dan tulisan Bank indonesia dan angka 50, juga tahun pembuatannya, 1971 pada bagian belakangnya. "Tiga ratus rupiah, nduk," uajrku seraya mengumpulkannya, lalu kuletakkan di dekat tempatnya duduk, di bale kebanggaan kami. Genduk asik membaca tulisan dalam kertas itu, hingga tak menghiraukanku. Sambil cekikikan, matanya tak beralih dari apa yang dibacanya, yang entah apa isinya. Sampai bisa membuat genduk seceria itu. "Hihihi ... Vie nulis surat buat genduk, Mas. Kertasnya bagus, berwarna pink dan ada gambar bunganya di tepi dan bagian bawahnya. Wangi, lagi, mas." Sambil diendus-enduskan hidungnya pada kertas itu. Diangsurkannya surat itu padaku, agar aku ikut membacanya. Tulisannya rapi ,untuk anak SD seumuran Vie. ' Maaf, ya Lia. Besok, kita ga bisa main bareng. Pulang sekolah, aku harus tidur siang. Lalu, sorenya, ada latihan Misdinar, di Gereja. Kita main lagi, lusa, ya'? Jangan ngambek, lho!' Begitu, sebagian bunyi dari surat yang ditulisnya 'NB (nota bene): Ini, ada hadiah buatmu. Sebagai permintaan maafku, karena ga bisa main. Itu uang jajan dari mama yang aku kumpulkan. Semoga, kamu ga marah sama aku, ya, Lia.' Rupanya, ada sedikit catatan diakhir suratnya. Meskipun, aku tak mengerti apa arti nota bene. Dengan sumringah, dimainkannya koin-koin itu di tangannya.Lalu, menyerahkan setengahnya, padaku. "Ini buat mas Alif ... yang ini, buat aku, ya, Mas." Dan sejak hari itu, jika tidak bisa bertemu, mereka berdua akan saling menitipkan lipatan kertas berbentuk apapun yang mereka anggap bagus, padaku. Terkadang, mereka akan saling bergantian menyelipkan "hadiah" didalam kertas itu. Meski lebih seringnya Vie, sedangkan genduk hanya jika dia memiliki sesuatu. Meski hanya permen, atau jepit rambut murah yang dia beli dari penjual mainan di depan gerbang sekolahnya. Masing-masing, memiliki caranya, untuk saling membahagiakan dan menunjukkan perasaan. Bukan hanya saat rindu karena tak bisa saling bertemu, tapi juga ketika mereka saling kecewa atau marah. Ada rasa hangat yang menjalar dihati, setiap kali ikut membaca tulisan mereka. Pertemanan yang unik, menurutku. Sekaligus lucu. Aku tak yakin, anak-anak lain seumurannya , juga memiliki hubungan seerat mereka. " Ah, mas Alif iri, nduk.. "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN