Menjadi yatim piatu bukanlah kemauan kami

1088 Kata
Flashback On " Lia, aku main tempatmu ya?" Gadis mungil, berambut lurus dengan panjang sebahu dan berwarna hitam pekat, khas rambut terawat, yang dihiasi bandana marun dengan pita disisi kanannya itu, melongokkan kepalanya di pintu rumahku. Dengan suara khas anak-anaknya, memanggil gadis seusianya, yang menjadi kawan akrabnya sejak ia pindah ke kampung yang ia tinggali sekarang ini. Gadis yang dipanggil Lia, berlari keluar menyambutnya dengan girang. Lalu menariknya masuk ke dalam rumah dan mengajaknya duduk di bale, satu-satunya sarana menerima tamu yang kami punya, di rumah ini. " Aku bawain boneka sama kue, buat kamu, " Sambil dia sorongkan boneka barbie dengan bentuk, warna dan baju yang sama dengan boneka yang dipegangnya juga, disertai kue berbentuk segitiga dengan serutan banyak coklat yang menempel pada cream berwarna putih. Dengan ragu, Lia menerimanya, lalu menghampiriku yang sedang merendam botol dan bertanya "Mas alif, boleh ga, aku terima ?" Matanya harap-harap cemas menatapku Aku yang tengah fokus dengan pekerjaanku kala itu, tidak tahu harus menjawab apa. Disatu sisi hatiku, ingin meminta adikku menerimanya, karena dia menginginkan boneka itu sejak lama, tapi kami tak mampu membelinya. Namun disisi lainnya, aku takut orang tua Vie -gadis yg memberi boneka itu, marah dan menuduh kami yang tidak-tidak. Karena ... dalam lingkungan masyarakat kami, yatim piatu seolah aib. Dan mereka menganggap kami anak yang liar, karena tak ada yg mengasuh dan mendidik. "Jangan nduk, nanti mamahnya Vie marah sama kita." Akhirnya, kata itu yang keluar dari mulutku, meski hatiku teriris, tak tega "Ndak pa-pa kok mas Alif, mamahku memang beliin buat Vie sama Ahlia, boneka dan kuenya." Dengan senyum manisnya, dia meyakinkanku. Aku hanya mengangguk, namun, dalam hati lega luar biasa. Kulanjutkan lagi pekerjaanku, mencuci botol-botol beling, bekas saos dan kecap yang kuambil dari rumah tetanggaku, pengepul saos dan kecap curah. Yang harus disetorkan lagi setelah bersih, dengan upah 10 rupiah perbotol. setiap harinya. Seusai sekolah, aku mengerjakannya dengan dibantu Ahlia, adik perempuanku satu-satunya, yang lebih suka menyebut dirinya dengan 'Genduk' itu. Upahnya, kupakai untuk makan berdua dengannya. Namun, kadang ada saja tetangga yang berbaik hati, memberikan kami makanan atau juga bahan mentah untuj kami olah. Kondisi menuntutku untuk bisa mengatasi setiap kesulitan kami sendiri, meski harus dengan cara yang seringkali tidak sesuai dengan nilai sopan santun dan etika, dalam usia yang lebih dini. Bapak meninggal saat usiaku 11 tahun dan Adikku 7 tahun,karena kecelakaan kerja. Kemudian, ibu menyusul beberapa bulan sesudahnya. Meninggal dengan sangat damai, dalam tidurnya. Seolah bahagia, akan bersama lagi dengan cinta sejatinya, yang sudah lebih dulu meninggalkan kami, menghadapNYA. " Mas alif, Genduk lapar, Mas," Rengek gadis kecil, satu-satunya keluargaku yang tersisa ini, membuyarkan lamunanku. " Yo, ayo maem, nduk. Vie ditawari sekalian, " Jawabku, meski tak yakin, gadis sahabat Ahlia itu mau, karena makanan kami hanya alakadarnya, tak seperti apa yang dia makan dirumannya. " Vie wis mantuk (sudah pulang) mas, ' Mau ke gereja, katanya' " " Ya wis, ayo cuci tangan gek maem," kataku. Hari ini, kami makan dengan menu istimewa, hasil belajar masak berkali-kali yang gagal. Namun, kali ini sempurna ... gosongnya. " Enak ya,Mas ... tapi pahit pinggirannya." Sambil nyengir, dikomentarinya tempe gembus goreng tepung yang ku olah pagi tadi, disertai sayur lodeh pemberian budhe Lasmi, tetanggaku.Yang kalau lagi bolong, baik sekali pada kami. Tapi sayang, lebih sering buntetnya, jadi hampir setiap ketemu, kami jadi korban mulutnya yang nyinyir itu. "Bocah kok lethek, mambu, klambine kuwi terus!" ("Anak kok kumel, bau, bajunya itu terus!") Itu,salah satu dialog khasnya, bila bertemu kami. Usai makan, Genduk yang mencuci piring dan peralatan makan lainnya. Sedangkan aku, memilih menyapu seluruh ruangan 3x3, yang kami sebut dengan ruang serba guna ini. Karena, di sinilah, kami biasa menjadikannya ruang makan atau menerima tamu, kawan ataupun saudara yang berkunjung. Tak jarang juga kujadikan tempat rebahan, sambil menunggu mendiang bapak atau atau ibu pulang kerja. Meskipun lebih seringnya, aku sudah pulas saat bapak dan ibu pulang. Lalu bangun dengan kondisi sudah ada bantal dikepalaku dan sarung bapak menjadi penutup tubuhku, kala cahaya matahari sudah mulai masuk melalui celah atap yang sudah renggang gentengnya. Sejak bapak meninggal, ibu selalu meminta kami terlibat dengan semua pekerjaan rumah, tanpa terkecuali. " Biar nanti, kalau ibu nyusul bapak, kalian sudah bisa mengurus diri kalian sendiri " Kata Ibu kala itu, kami hanya mengangguk, tanpa benar-benar paham maksud perkataan ibu. Namun, mulai ku mengerti setelah kami hanya tinggal berdua. Setelah Beliau benar-benar menyusul bapak. Jauh di atas sana, tempat yang tak akan pernah mampu kami kunjungi. Setelah ku pastikan tak ada sudut yang terlewat, aku menuju bilik tempat kami merebahkan raga, ku rapikan semua sebisaku, merapikan kain penutup kasur yang sudah usang, menata bantal, lalu setelah semuanya selesai, kulanjutkan lagi pekerjaanku yang sempat tertunda tadi, hanya tinggal beberapa saja botol yang kotor, kemudian menunggunya kering, lalu menyetorkannya ke tempat pakdhe Surip. Genduk menghampiriku, kemudian ndeprok (duduk tanpa alas) di sebelahku sambil membantuku mengeringkan botol terakhir yang sudah kucuci bersih. " Mas...Vie itu baik ya, Genduk sering dikasih makanan sama dia," dia memulai obrolan. " Mamanya juga ga melarang, waktu Vie ajak Genduk makan dirumahnya . Tapi pas mau makan, Vie berdoa sambil menyentuh dahi, d**a , terus pundak kiri dan kanan," ujarnya, sambil memeragakan gerakan yang dilihatnya saat temannya itu berdoa. " Dia juga menanyakan kenapa genduk ga berdoa saat mau makan. Genduk malu mas, kan genduk gak apal doa mau makan yang diajar disekolah," ujarnya, muram Memang, almarhum bapak dan ibuk terlalu sibuk mengais nafkah. Karena tuntutan kebutuhan perut, dan pendapatan yang tak seberapa, mengharuskan beliau bekerja dengan lebih keras.Bapak jadi buruh apa saja, sedangkan ibu menjahit di konveksi batik yang agak jauh dari rumah, lalu melanjutkan jahitan dirumah, sehingga hampir tak pernah ada waktu untuk mengajari ataupun mengingatkan kami tentang ibadah. Bagi ibu dan bapak, kami anteng saat ditinggal kerja seharian dan tak ribut mengeja permintaan ketika gajian, itu sudah lebih dari cukup membuat beliau tenang. Karenanya, kami tumbuh dengan serampangan, sesuka hati kami sendiri. "Le ... Nduk ... Bapak sama Ibu cuma buruh serabutan. Ndak bisa beliin seperti apa yang dipunyai teman-temanmu. Bapak, Ibu doakan, biar nanti kalian bisa jadi orang sukses, bisa beli apa-apa yang kalian inginkan sendiri," ucap bapak kala itu Sepanjang hari,sebelum kedua orang tuaku pulang kerja, kami habiskan hari-hari sesukanya. Main, makan, dan mandi . Tanpa ada yang mengarahkan untuk belajar dan hal baik lainnya. Sedangkan di Sekolah, aku dan genduk juga bukan termasuk murid yang dengan mudah bisa menangkap dan menghafalkan apa yang diajarkan. Saat aku tengah melamun, tiba-tiba Genduk berkata, " Mas, apa Genduk ikut Vie ke Gereja aja ya, biar genduk bisa berdoa dan ada yang ngajari agama?" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN