Suasana sekitar toilet keberadaan kami ini cukup sepi, karena dia membawaku kebagian toilet yang lama tak terpakai.
Perhatianku terhadap sakit pada bahuku teralihkan saat Achava gak ngomong gak juga bertindak apa-apa. Dia masih berdiri di dekatku sambil ngeliatin seluruh bangian tubuhku.
Dalam hatiku MAK DEGG'
"Kok, aku jadi ngeri begini ya?"
Aku menoleh ke arah teman-teman dia yang berdiri kumpul menghadap ke arahku semua. Lalu-ku pandang lagi si Achava yang roman-romannya makin mencurigakan.
Haisiyal, sekarang kenapa tiba-tiba aku jadi kayak takut sama cewek?
"Em, Cha ada apaan ya?" Tanyaku dengan sejuta kepolosanku.
Tapi, dalam hatiku tak henti berkutat. Bahkan entah demi apa? kini Paranoidku beneran memuncak setinggi gunung kembar! saat-ku perhatikan bola mata Achava melihat ke arah dadaku. Huaaaaa Semoga-Semoga cuma paranoid alias parno-ku aja!
"Ada Ibles betina yang tak pernah ngaca!" Jawab ngawur Achava yang entah mengapa tadi aku sempat takut, tiba-tiba sekarang aku ingin ketawa.
"Kenapa loe cengar-cengir? Loe pikir lucu?" Sarkas dia sambil menyeka poni di keningnya.
Aku masih senyum tipis sambil menggelengkan kepalaku, tapi semua itu membuat si Achava yang tadi sempat keliatan lucu, sekarang jadi kayak monster lagi. Buseeet!
Dia menatap tajam ke arah ku, lalu berkata "Loe mau tau kenapa gue bawa loe kesini hah?"
Aku sebatas mengangguk kecil, lalu dia memetik jari ke arah teman-temannya. Aku pun menoleh juga ke arah mereka.
Petikan jari Achava tadi kayak sebuah kode atau apa aku juga gak tau, tapi yang jelas aku lihat salahsatu temannya ada yang mengangkat hapenya ke arah kami.
Eh, Siyaaaal!
Selagi perhatianku melihat ke arah mereka, tiba-tiba Achava malah meraih bagian dadaku seakan mau membuka bagian kancingnya,
"Loe akan segera tau dasar cewek Sok cantik!" Ucap dia, beringas abis!
So ... Aku kaget banget lah, tiba-tiba dia begitu, langsung tuh aku singkirkan tangan dia biar menjauh dari bagian dadaku.
"Apa yang kamu lakukan sih Cha!" Teriakku, saking kagetnya karna takut d**a palsuku ketahuan dia, aku Reflek mendorong dia kuat sampai dia terhempas menabrak teman-temannya, bahkan hape yang di pegang mereka sempat jatuh ke lantai.
Klotak!
Upss! Aku hampir lupa, tenagaku pasti lebih kuat dari cewek asli, Aku selangkah mendekat dia, rencana sih ingin membantu Achava berdiri. Toh gak sengaja pula aku nyakitin cewek, tapi sebelumku raih tangan dia, Achava udah berdiri duluan.
"Siyalan loe Vi!" Umpat dia seraut wajahnya sangat kesal padaku.
Lagipula dia tadi mau ngapain coba? Sumpah, otakku udah traveling yang enggak-enggak tentang itu, sampai bibirku gak bisa ngomong apa-apa, satu hal yang sumpah membuatku parno gak ketulungan. Apa Visca tau kalau aku bukan cewek asli? lalu dia mau membuktikannya? Tapi kok dia bisa tau? dan ... dari mana dia tau itu?
Udah kayak banyak trenggiling Vs kalajengking jalan-jalan dikepalaku memikirkan hal itu, sampai-sampai aku gak nyadar si Achava dan satu temannya yang bernama Elisa mendekat lagi ke arahku.
Bahkan, kedua tanganku langsung dicengkram kuat sama Elisa ke arah belakang.
"Awwwh, Lis Lepasin aku Lis," Pintaku, tapi kata-kataku gak dia dengerin gegara aku ngomong bebarengan dengan Achava "Lis, buru Loe bekap mulut dia biar dia gak banyak ngomong, dan gak nyebut nama gue"
Elisa langsung menurutinya, tangan lembutnya langsung membekap mulutku.
"Loe arahkan kamera tepat di arah inti, Oke?" Bubuh Achava pada teman-teman lainnya.
Aeeh, Siyaaal! aku baru ngerti dan nyadar. Ini namanya adegan perisakan alias Bullying, Kawan!
Selama mulutku udah di bekap sama tangan Elisa, aku menghindarkan kepala sekuat tenagaku sampek agak' terlepas dikit bekapan si Elisa di mulutku. Lalu aku berkata,
"Tu-tunggu! Apa yang sebenarnya akan kalian lakukan sih, Apa kalian mau memperkosaku?"
Demi apa? Rem lidahku tiba-tiba Blong! Entah mengapa pikiran kotor di otakku langsung meluncur gitu aja di mulutku, Hahaha.
Abis ku berkata itu, mulutku langsung di bekap lagi sama Elisa. Bahkan dia bekapnya lebih kuat dari sebelumnya. Lalu, dia mendekat ke telingaku "Eh Vi, loe jadi cewek banyak halu juga ternyata ya, Loe pikir cewek bisa memerkosa cewek lain apa? Konyol!" Kata dia.
Aeeeeh bajigur! udah kayak sindiran keras tuh kata-kata Elisa. Andai berani-ku jawab pasti akan ku jawab, Tentu bisalah CONTOHNYA CEWEK YANG MODEL KAYAK AKU, pasti bisa memperkosa Cewek lain! Hahaha.
Sebenarnya dengan mudah aku bisa lepaskan tangan kecil si Elisa dari mulutku, tapi aku sengaja diam dulu, mau tau apa sih sebenarnya yang mau Achava lakukan padaku?
___
Tak lama kemudian, Achava mendekat lagi padaku. Tatapannya penuh misteri dan senyuman khas dia tuh bener-bener aku gak bisa berpikir lagi selain rasa takut.
Iya, aku hanya takut kalo-kalo aku ketahuan bukan cewek asli. Bakal mau tarok di mana ini muka? So ... Bakalan Ambyar pula seluruh dunia persilatan! (Padahal mah, gak ada hubungannya sama sekali, Hihi)
"Viviana ... Viviana ... dasar cewek miskin belagu yang gak ngaca dan gak tau diri loe!" Kata Achava sambil ngeliatin seluruh anggota tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kuku.
Sumpah, aku beneran gak ngerti maksud dia ngomong itu. Aku ingin balas ngomong gak bisa, lawong mulutku aja lagi dibekap sama Elisa, Asiyaaaal!
"Jadi cewek gak usah besar kepala deh loe Vi! Jijik gue liat loe Keganjenan banget depan dia, Ngerti gak loe!"
'Hah, dia siapa maksudnya? Aissh, ini mulutku kagak bisa ngomong Oii!'