------***----
Sang Ratu berjalan sedikit terburu-buru menuju kediaman Ma Yue. Wanita anggun penguasa istana dalam dan mengurusi segala sesuatunya tentang selir maupun dayang di istana itu terlihat sangat serius.
Langkahnya yang cepat membuat sebagian dayang atau siapapun yang melihatnya bertanya-tanya, ada apakah?
Kedatangan Ratu Xi segera diumumkan membuat Ma Yue yang sedang membaca buku filsafat kuno segera memberesinya dan berdiri.
"Ma Yue." ucap Ratu Xi ketika masuk kekediaman Ma Yue yang mewah.
Ma Yue segera membungkukkan badan, menghormat pada wanita nomer satu di kerajaan Alam.
" Kenapa kau tak segera bersiap? Malam ini kau harus segera ke kamar putera sulungku. Kau harus ingat bahwa kau disini hanya disewa untuk mengandung benih putera-puteraku bukan untuk bersantai seperti ini. Apa kau lupa akan perjanjian itu?" ucap Ratu Xi dengan nada tegas dan memperingatkan.
Ma Yue tertunduk dan merasa bersalah, wajahnya mulai memucat karena mendengar peringatan Ratu yang begitu menyentil telinganya.
"Maaf Yang Mulia atas kekhilafan saya." ucap Ma Yue sekali lagi membungkukkan badan dalam-dalam.
Ratu Xi memang terkenal sebagai Ratu yang tegas dan tak suka dengan kepura-puraan. Itulah kenapa dengan Ma Yue ia juga tak bisa bersikap seolah-olah baik atau sebaliknya.
Ratu, orang yang benar-benar konsisten.
"Pelayan segera dandani Ma Yue sekarang juga, dia terlihat begitu polos dan aku tidak suka dengan dandanannya yang seperti ini. Lakukanlah dan aku akan menunggunya disini." perintah Ratu dengan wajah tegas lalu duduk di kursi malas.
"Baik Yang Mulia." ucap Para pelayannya sambil membungkukkan badan lantas mulai mendandani Ma Yue.
Perlahan sang pelayan mengganti hanfu Ma Yue yang tertutup rapat dengan hanfu yang sedikit terbuka. Walau kurang sreg tapi Ma Yue tetap memakainya guna menghargai pilihan sang Ratu.
Rati Xi terus mengawasi mereka tanpa banyak bicara hingga akhirnya Ma Yue selesai dirias dan siap untuk pergi.
Ratu Xi mengulum senyum manis lalu mendekati Ma Yue yang sudah terlihat sangat cantik malam ini.
Perlahan jemarinya menangkup wajah Ma Yue yang lembut dan halus.
"Kau terlihat sangat cantik, aku yakin Li Yun Jie akan tertarik padamu. Jangan lupa sesekali genitlah padanya karena putera sulungku itu adalah pria yang dingin. Kau harus tahu jika waktumu hanyalah tiga bulan Ma Yue, kau harus menggunakan waktu ini sebaik mungkin." ucap Ratu Xi dengan pelan namun sangat keras.
"Baik Yang Mulia." jawab Ma Yue lirih dengan bibir bergetar dan rasa takut didadanya.
Ratu Xi tersenyum puas, ia lalu berdiri dan membalikkan badan memunggungi Ma Yue.
"Sekarang ikutlah aku! Aku akan mengantarmu ke kamar Li Yun Jie. Ingat apapun yang terjadi diamlah dan jangan berteriak. Kau akan membawa aib jika kau melakukan hal itu, kau paham?" ucap Ratu sedikit memberi pengarahan.
"Paham Yang Mulia." ucap Ma Yue lirih sambil menganggukkan kepalanya.
Ratu mengangguk lalu pergi keluar dari kediaman Ma Yue.
Gadis itu mengikuti langkah Ratunya menuju ke kamar Li Yun Jie sang pangeran Sulung untuk yang pertama kalinya.
Patut jika Ratu Xi sedikit geram dan menjemputnya di kediamannya karena sudah tiga hari semenjak pernikahan tak ada yang terjadi antara Ma Yue dengan putera-puteranya padahal mereka sangat ingin memiliki seorang cucu.
Tak lama kemudian Li Yun Sha, sang Bungsu datang ke kediaman Ma Yue sembari membawa beberapa buku filsafat.
Melihat kediaman Ma Yue yang kosong ia pun bertanya pada penjaga kamar istrinya itu.
"Pengawal kemanakah Ma Yue?" tanya Li Yun Sha dengan heran.
Pengawal membungkuk hormat dan menurunkan pandangannya.
"Nona Ma Yue pergi bersama Ratu Xi, Yang Mulia." ucapnya Pengawal dengan sopan.
"Apa kau tahu mereka pergi kemana?" tanya Li Yun Sha terus mendesak.
"Ampun Yang Mulia, saya tidak tahu." ucap Pengawal dengan mimik sesal dan menggelengkan kepalanya.
Li Yun Sha terdiam, wajahnya menyiratkan rasa khawatir. Pikirannya mulai meraba-raba, kemanakah Ma Yue dan Ibunya pergi?
Ada urusan apa hingga selarut ini mereka pergi?
---------***------
Kedatangan Ma Yue di kediaman Li Yun Jie segera diumumkan.
Sang putera sulung sedikit kaget akan kehadirannya pasalnya Ma Yue belum pernah datang kemari lalu kenapa gadis yang banyak bekerja di Kuil itu bisa sampai di kediamannya.
Ma Yue menampakkan diri di hadapan Li Yun Jie.
Penampilannya yang terlalu menor dan sedikit berani bukannya menggoda Li Yun Jie tapi justru membuat si sulung mengerutkan dahinya.
Gadis itu tanpa mengurangi rasa sopan segera membungkuk di hadapan Li Yun Jie hingga tanpa sengaja belahan dadanya pun terlihat.
Li Yun Jie segera membuang pandangannya, ia kembali menekuni buku yang ia baca sedari tadi walau pikirannya tiba-tiba kemana-mana.
"Duduklah disini!" interuksinya pelan tanpa menatap wajah Ma Yue yang cantik bersinar bak rembulan.
Ma Yue mengangguk pelan dan duduk di hadapan Li Yun Jie.
Bahkan cukup lama mereka berhadapan tak ada satupun pembicaraan yang keluar dari mulut keduanya.
Li Yun Jie tetap saja fokus pada bukunya walau sesekali ia melirik dan menangkap wajah kegelisahan Ma Yue.
Sang Sulung sedikit kasihan melihatnya, Ma Yue pasti risih dengan hanfu seperti itu.
Perlahan Li Yun Jie menyingkirkan meja kecilnya ke samping. Pria itu beranjak berdiri dan menuju ke ranjangnya.
Tanpa pikir panjang, ia menarik seprei dan menggulungnya.
Ia menatap Ma Yue yang tertunduk sedih dengan tangan sedikit gemetar dan sesekali menutupi dadanya.
Li Yun Jie mendekat dan menyelimutkan seprei itu dibahu Ma Yue.
Pandangan mereka bertemu sesaat dan Ma Yue sadar akan kelancangannya, ia pun segera menurunkan pandangannya dengan buru-buru.
"Terimakasih Yang Mulia." ucap Ma Yue lirih sembari merapatkan seprei itu di tubuhnya dan menutupi dadanya.
"Aku melihatmu risih dengan hanfu itu, aku sendiri juga begitu. Maaf aku tidak punya mantel jadi aku terpaksa menggunakan seprei untuk menutupi tubuhmu. Jangan khawatir, seprei itu bersih kok baru saja diganti petang tadi." ucap Li Yun Jie datar lalu kembali duduk di hadapan Ma Yue.
"Tidak apa-apa Yang Mulia." jawab Ma Yue sendu.
"Sebaiknya kau cuci wajahmu, aku seperti melihat topeng diwajahmu. Sekali lagi maaf jika aku menyinggungmu. Silahkan kau pakai ruang mandiku dulu." ucap Li Yun Jie dingin sembari mengambil bukunya dan mulai membaca lagi.
"Baik Yang Mulia." jawab Ma Yue menurut lalu beranjak dari hadapan Li Yun Jie.
Pria tampan itu menggelengkan wajahnya, ia tahu siapa dibalik ini semua. Ya, pasti Ibunya sendiri.
Ratu Xi sangat pandai berdandan, ia bahkan terlihat begitu sempurna di hadapan Raja dan kedua puteranya.
Wanita paruh baya itu seolah tahu bagaimana memikat hati lawan jenisnya dengan segala pesona yang ia miliki.
Li Yun Jie menoleh ketika mendapati Ma Yue keluar dari ruang mandi dan duduk kembali di hadapan Li Yu Jie.
Beberapa tetes air masih menempel diwajah Ma Yue membuat Li Yun Jie harus mengusap wajah istrinya dengan tangannya.
"Jadi ada urusan apa kau kemari?" tanya Li Yun Jie sambil menatap lekat wajah Ma Yue.
Gadis itu terdiam, tangannya kembali bergetar ketika ia ditanya seperti itu.
Tidak mungkin ia berkata jujur tentang misinya. Perjanjian itu hanya ia, Raja dan Ratu yang tahu.
Mata Ma Yue menatap berputar seolah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Li Yun Jie.
"Saya ingin meminjam buku." jawab Ma Yue sembari melirik ke arah buku yang ada di meja kecil Li Yun Jie.
Pria itu menatapnya aneh, ia bahkan bisa mencium gelagat aneh yang ditimbulkan Ma Yue barusan.
Li Yun Jie menarik nafas dalam-dalam lalu menatapnya lebih tajam lagi.
Pria bermanik kelam sedikit mendekatkan wajahnya pada Ma Yue seolah ingin mencium.
"Apa kau berbohong?" desak Li Yun Jie setengah berbisik.
Wajah Ma Yue memerah, ia belum menjawab sama sekali.
"Katakan, kau pasti tak berniat untuk meminjam buku padaku. Katakan yang sebenarnya atau...." ucap Lie Yun Jie terus mendesak membuat Ma Yue salah tingkah.
Bibir mungilnya tak juga mengeluarkan suara, ia sudah terlanjur janji pada Ratu Xi bahwa apapun yang terjadi ia tak boleh mengatakan yang sesungguhnya pada Li Yun Jie.
Si sulung sedikit geram, ia langsung menunjukkan ancamannya.
Li Yun Jie menarik seprei yang membungkus tubuh Ma Yue dan mulai menarik lengannya.
Ma Yue dengan sigap segera merapatkan tubuhnya yang terpapar hawa dingin.
"Katakan padaku apa yang terjadi, kau tak mungkin bersikap seperti ini tanpa ada yang mendorongmu melakukannya." ucap Li Yun Jie curiga.
"Sebenarnya.... Ratu menginginkan kita untuk... " ucap Ma Yue dengan wajah bingung untuk menjelaskannya.
Ia kembalu terdiam, wajahnya memerah menahan airmata yang berkaca-kaca dimatanya.
"Maaf Yang Mulia jika saya bersikap murahan pada Anda tapi saya didesak untuk melakukannya. Itu semua karena permintaan Yang Mulia Ratu dan saya tak bisa menolaknya. Maaf sebenarnya saya tidak ingin mengganggu Anda apalagi menggoda tapi saya sudah diberi perintah untuk melakukannya. Maaf Yang Mulia." ucap Ma Yue lirih dengan penuh penyesakan.
Li Yun Jie memperhatikan Ma Yue yang begitu tersiksa dengan apa yang diperbuatnya.
Ada rasa kasihan yang terbersit dalam hati Li Yun Jie. Perlahan pria dingin itu merengkuh tubuh Ma Yue yang begitu ringkih.
Sekali dalam hidupnya ia memeluk wanita seerat dan sedekat ini.
Li Yun Jie sejenak merasa begitu bisa melindungi secara batin.
"Kau tak perlu melakukan hal itu jika bersamaku, yang perlu kau lakukan hanyalah bersikap biasa. Kau dan aku sudah tahu apa yang harus dilakukan tapi kita sama-sama tahu bahwa kita tak bisa melakukannya tanpa rasa cinta. Menurutku biarlah waktu yang bicara dan mengatur hubungan kita." ucap Li Yun Jie pelan.
Ma Yue terdiam dipelukan Li Yun Jie, perlahan pria itu melepaskan pelukannya dan mendongakkan wajah ayu Ma Yue.
"Yakin saja pada waktu dan jangan terburu-buru." ucap Li Yun Jie memberi peringatan.
Ma Yue menganggukkan kepala sambil menghapus air mata yang keluar dari bola matanya yang kelam.
"Aku dengar kau suka membaca. Bacalah buku yang kau suka disini, aku memiliki banyak buka untuk dibaca." ucap Li Yun Jie mengalihkan pembicaraan.
Pria itu meraih beberapa buku dan menyodorkannya pada Ma Yue berharap gadis itu melupakan tekanan yang menekan batinnya akibat pernikahan tak sewajarnya ini.
"Terimakasih Yang Mulia." ucap Ma Yue lirih sembari menerima buku-buku dari tangan Li Yun Jie.
Pria itu hanya mengangguk pelan dan kembali mengarahkan perhatiannya pada buku yang ia baca tadi.
Dalam hatinya ia merasakan kasihan pada Ma Yue. Gadis itu di usianya yang masih belia harus dihadapkan pilihan untuk menikah dengan dua pria sekaligus.
Pernikahan macam apa ini?
Mulanya memang tak masalah tapi ia takut kelak suatu hari jika cinta benar-benar datang dan rasa ingin memiliki mendominasi, apa yang harus dilakukan oleh Ma Yue, Li Yun Jie bahkan adiknya Li Yun Sha?
Akankah ada pertengkaran dan perebutan?
Entahlah.
--------****------