Segala kebaikan yang diberikan Li Yun Jie tak pernah Ma Yue lupakan. Pria itu dingin namun memiliki hati yang hangat.
Entah kenapa Ma Yue sampai terbawa perasaan hingga sekarang, bahkan ketika bersama Li Yun Sha ia tetap memikirkan pria satu itu.
Walau Li Yun Jie tak pernah jauh darinya namun sikap dingin dan irit bicaranya itu membuatnya sempat enggan untuk bicara panjang lebar dengannya.
Li Yun Jie berbeda dengan Li Yun Sha, walau mereka kembar tapi tak sama sedikitpun.
Li Yun Sha justru lebih ramah padanya, ia juga sering menyapanya terlebih dahulu tanpa canggung.
"Kau memikirkan apa?" ucap Li Yun Sha menyadarkan lamunan Ma Yue.
Gadis itu tersentak lalu menatap Li Yun Sha yang sedari tadi memperhatikannya penuh seksama.
"Tidak Yang Mulia. Saya tidak memikirkan apa-apa." jawab Ma Yue seraya menggelengkan kepalanya.
"Kau yakin? Aku melihat kau sedang memikirkan sesuatu. Jika kau tak keberatan kau bisa bercerita padaku tentang apa yang kau pikirkan." ucap Li Yun Sha seraya mendongakkan kepala menatap langit biru.
"Tidak Yang Mulia. Saya tidak memikirkan apa-apa." jawab Ma Yue menutupi apa yang sedang ia pikirkan.
Li Yun Sha tersenyum lalu menatap Ma Yue kembali, kali ini ia meraih tangan Ma Yue dengan erat.
"Apa aku masih terlihat seperti anak-anak?" tanya Li Yun Sha tiba-tiba.
Ma Yue terbengong, ia bahkan tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Li Yun Sha.
"Maksudku, apa aku terlihat sudah dewasa? Terkadang aku masih merasa kekanak-kanakan dan suka manja. Apa kau tak keberatan untuk memanjakan diriku, Ma Yue?" ucap Li Yun Sha seraya menatap Ma Yue tajam.
Ma Yue tersenyum manis, ia menatap mata Li Yun Sha sejenak lalu menurunkan pandangannya.
"Anda sudah bukan anak-anak lagi terbukti anda sudah memiliki istri. Itu berarti anda adalah pria dewasa." ucap Ma Yue pelan seakan menghibur kegelisahan sang Bungsu.
"Benarkah? Kalau begitu aku lega mendengarnya. Kau tahu, Ibuku bahkan sering mengataiku manja." adu Li Yun Sha membuat Ma Yue sempat menahan tawanya.
Li Yun Sha yang melihatnya segera meraih dagu istrinya dan beradu tatap dengannya.
"Kau mau menertawakanku, Ma Yue?" ucap Li Yun Sha sesaat melihat gadis itu memerah wajahnya.
"Tidak Yang Mulia." ucap Ma Yue lirih dan pelan.
"Kau pasti berbohong padaku, katakan saja kau ingin menertawakanku."ucap Li Yun Sha seraya mencubit hidung mancung Ma Yue.
"Saya tidak pantas melakukannya pada Anda. Saya hanya merasa aneh kenapa pria dewasa seperti anda masih dikatai begitu oleh Ratu. " ucap Ma Yue lirih.
"Entahlah." jawab Li Yun Sha singkat.
Mereka kembali terdiam hingga akhirnya Li Yun Sha memberanikan diri untuk menyentuh wajah istrinya.
"Jika aku boleh tahu, apa saja yang telah kau lakukan dengan Kakakku? Mmm... Maksudku kau mungkin sudah mengenalnya jadi mungkin kalian punya kegiatan yang bisa kalian lakukan jika bersama." ucap Li Yun Sha sedikit kikuk.
Ma Yue terdiam sesaat, ia menerawang tentang apa saja yang ia lakukan dengan Li Yun Jie dan hasilnya nihil.
"Saya tidak melakukan apa-apa dengannya, hanya mengobrol saja." ucap Ma Yue dengan wajah polos.
"Apa?" ucap Li Yun Sha kaget.
"Iya, memang kenapa Yang Mulia?" tanya Ma Yue memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak... Tidak apa-apa." jawab Li Yun Sha lalu tersenyum guna menutupi rasa herannya.
Mereka kembali terdiam hingga akhirnya Li Yun Sha mengatakan sesuatu yang begitu mengejutkan bagi Ma Yue.
"Aku menyukaimu." ucap Li Yun Sha seraya tertunduk.
Ma Yue memberanikan diri menatap wajah tampan si Bungsu tanpa berkata-kata lagi.
Li Yun Sha kembali menatap wajah Ma Yue yang terpaku menatapnya.
"Aku.. Sejak aku melihatmu datang kemari, aku tak hentinya memikirkan dirimu. Aku tidak tahu hal apa yang akan ku bicarakan padamu selain aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Maaf jika aku sering manja padamu, itu karena aku ingin selalu dekat denganmu. Ma Yue aku benar-benar menyukaimu." ucap Li Yun Sha berusaha jujur seraya menatap Ma Yue penuh keseriusan.
Gadis itu terbungkam, ia bingung harus menjawab apa tentang ungkapan perasaan Li Yun Sha padanya.
"Saya sekarang adalah milik anda Yang Mulia." ucap Ma Yue lirih seraya membalas tatapan mata Li Yun Sha.
"Tidak seutuhnya Ma Yue." ucap Li Yun Sha dengan sendu, wajahnya menyiratkan kesedihan luar biasa.
"Walaupun begitu saya tetaplah milik anda jadi anda jangan bersedih karena saya akan tetap melayani anda." ucap Ma Yue menghibur hati Li Yun Sha yang sedih.
Pria itu tersenyum manis lalu meraih wajah Ma Yue dengan lembut, sedikit lebih lama hingga menuntun pria itu untuk mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.
"Apa tidak apa jika aku mulai menciummu?" bisik Li Yun Sha di depan bibir Ma Yue.
Gadis itu tak menjawab, bibirnya bergetar hingga tak sanggup mengeluarkan suara.
Ia hanya memejamkan matanya ketika bibir Li Yun Sha benar-benar menyentuh miliknya.
Semua pelayan segera membalikkan badan melihat sang pangeran dan istrinya berciuman, seakan tahu itu adalah privasi tuannya.
Tanpa sengaja Li Yun Jie yang berjalan melewati taman guna menuju sanggar latihan melihat mereka berciuman.
Langkahnya terhenti sesaat, wajahnya dingin namun hatinya tiba-tiba berdesir hebat. Perasaan apa ini?
Li Yun Jie terus menatap mereka, menatap adiknya yang begitu menggebu akan diri Ma Yue.
Hatinya kembali berdesir semakin sakit, ia sudah tak kuasa melihatnya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke sanggar latihan.
Dia terus diam dan tentunya dengan perasaan yang tak menentu sama sekali.
Hai.... Perasaan apa ini? Kenapa begitu mengganggu?
--------****------
Ratu Xi menuju kediaman putera sulungnya, ia ingin memastikan sesuatu. Ia tidak bisa tinggal diam dan melihat semua itu terjadi.
Kedatangannya segera diumumkan membuat Li Yun Jie segera menghentikan kesibukannya dalam menulis seni huruf.
Pria dingin itu membungkuk hormat takkala sang Ibunda masuk ke kediamannya yang begitu rapi dan penuh keindahan.
"Kelihatannya kau sedih Li Yun Jie." ucap Ratu Xi ketika sampai di hadapan si Sulung.
"Tidak Yang Mulia, saya baik-baik saja." ucap Li Yun Jie datar.
Ratu Xi terdiam, ia segera duduk di hadapan Li Yun Jie dan di ikuti Puteranya.
Mereka saling diam hingga akhirnya Ratu membuka pembicaraan.
"Aku lihat tadi siang si Bungsu dan Ma Yue berciuman... Maksudku bersama. Kenapa kau tak ikut dengan mereka?" tanya Ratu dengan nada menyentil Li Yun Jie.
"Saya memiliki privasi begitu juga dengan adik dan Ma Yue. Saya tidak boleh mengganggu mereka." jawab Li Yun Jie dengan bijak.
"Aku tahu kalian sama-sama puteraku, tapi aku tak bisa melihat ketidakadilan ini. Bagaimanapun kau juga suaminya Li Yun Jie." ucap Ratu Xi dengan nada penekanan.
"Tidak apa-apa Yang Mulia, saya sudah terbiasa dingin dengan wanita. Mungkin itulah kenapa Ma Yue tak bisa mengadaptasikan dirinya." ucap Li Yun Jie berusaha berpikir positif.
Ratu terdiam sesaat lalu meraih tangan puteranya, mereka bertatapan. Ratu tahu bagaimana perasaan Li Yun Jie sekarang.
Puteranya yang satu ini sedari dulu suka mengalah dan menjadi pendiam.
Seandainya sang Raja tidak mengucapkan hal itu, maka puteranya ini takkan punya kepribadian seperti ini.
"Ibu tahu perasaanmu, Nak. Ibu sendiri tahu bagaimana rasanya berbagi belahan jiwa, tapi bertahanlah untuk semua ini. Ibu tahu kau pasti sedih melihatnya, seandainya Ibu tahu cara terbaik untuk membuatmu bahagia..."
"Jangan menyalahkan diri sendiri Ibu, aku tidak apa-apa. Ma Yue adalah istri kami, kami harus saling berbagi dengan adil. Aku rasa Li Yun Sha jauh lebih cocok dengan Ma Yue. Aku tidak ingin membuat keributan hanya karena memperebutkan Ma Yue." ucap Li Yun Jie datar seraya menatap wajah Ibunya yang terlihat khawatir.
"Ma Yue tidak cocok denganmu ataupun adikmu. Segera setelah kau memiliki anak dengannya, Ibu akan mencarikan pengganti yang lebih pantas buat kalian." ucap Ratu seraya menghapus airmata yang menetes dipipinya.
"Apa?"
"Ibu akan kembali nanti." ucap Ratu Xi lalu beranjak dari hadapan Li Yun Jie dengan terburu-buru.
Pria itu menatap Ibunya dengan terheran-heran, baginya ia tak pernah melihat Ibunya menangis seperti itu. Lalu kenapa hal sepele seperti ini bisa membuat sang Ratu menangis? Lalu apa maksud Ratu tadi dengan ucapan 'pengganti Ma Yue'?
------***----
Ratu Xie mencengkeram hanfu Ma Yue, wajahnya terlihat menakutkan. Jika ia tidak kasihan atas nama ayah angkatnya mungkin Ma Yue lebih memilih mati daripada harus berurusan dengan keluarga kerajaan yang menurutnya sedikit menakutkan.
"Aku sudah bilang padamu, adillah terhadap putera-puteraku. Karena kau sibuk dengan Yun Sha, Yun Jie jadi merasa sedih. Harusnya kau bisa membagi waktumu untuk mereka. Kau harus tahu, jangan sekalipun kau mempermainkan perasaan mereka. Aku hanya memerintahkanmu untuk mengandung benihnya bukan untuk membuatnya suka padamu." ucap Ratu Xie dengan tegas lalu tak lama kemudian melepaskan cengkeraman tangannya.
Ma Yue memucat, ia membungkuk hormat lalu berjalan mundur beberapa langkah.
Perbuatan Ratu tadi benar-benar membuat jantungnya mau copot.
"Maaf jika aku terlalu kasar padamu, aku hanya terbawa emosi. Aku melihat putera sulungku terlihat begitu sedih, aku tak bisa melihatnya dalam kondisi seperti itu. Kau tahu, Yun Jie selalu menderita sedari kecil. Itulah kenapa aku begitu menyayanginya dibanding Yun Sha." ucap Ratu Xi mencoba menguasai dirinya.
"Maaf Yang Mulia, semua ini memang kesalahan saya." ucap Ma Yue dengan lirih dan sesal.
"Aku hanya mengingatkanmu saja, Ma Yue. Kau tidak pantas bersanding dengan mereka, maksudku bukan karena aku tak menyukaimu, tapi karena mereka putera-putera kesayanganku, aku ingin mereka mendapatkan yang terbaik dan calon istri yang terbaik pula. Sesaat setelah kau mengandung, aku akan memberikan hakmu dan menikahkan mereka dengan istri-istri pilihan." ucap Ratu menurunkan nada suaranya.
"Saya mengerti Yang Mulia. Saya akan berusaha untuk segera memenuhi tugas Saya." ucap Ma Yue dengan nada bijak.
Ratu Xi menatap mata Ma Yue dengan tatapan percaya, ia segera menyentuh pundak gadis itu.
"Aku harap kau tak mengharapkan lebih atas hubungan ini. Segera tunaikan tugasmu dan kau bisa bebas dari perjanjian itu." ucap Ratu dengan serius lalu pergi dari hadapan Ma Yue.
Gadis itu terdiam lalu perlahan membungkukkan badannya.
Sesaat tubuhnya roboh ke lantai, ia merasa lemas luar biasa.
Ia menangis terisak namun ia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Hatinya hancur apalagi harga dirinya. Sungguh terasa hancur.
"Ma Yue, kau tak apa-apa?" tanya Li Yun Jie segera meraih tubuh Ma Yue.
Gadis itu segera menatap Li Yun Jie di hadapannya dan menghapus airmatanya yang bercucuran.
"Ada apa dengan dirimu?" tanya Li Yun Jie dengan wajah Khawatir.
"Tidak. Tidak apa-apa Yang Mulia." jawab Ma Yue masih sedikit terisak.
Li Yun Jie memperhatikan wajah Ma Yue yang terlihat sedih, ia segera meraih wajah Ma Yue dan membenamkannya di dadanya.
Tanpa bicara Li Yun Jie mencoba menenangkan isak tangis Ma Yue. Ia tahu Ibunyalah sebab Ma Yue menangis, wanita paruh baya itu pasti menggertak Ma Yue hingga ia menangis seperti ini.
Li Yun Jie memang sengaja mengikuti Ratu dan berakhir di kediaman Ma Yue, itulah kenapa Li Yun Jie bisa tahu sebab Ma Yue menangis adalah Ibunya.
"Jangan menangis." ucap Li Yun Jie seraya menepuk-nepuk punggung Ma Yue dengan sabar.
"Apakah ini semua karena Ratu bersikap kasar padamu?" tanya Li Yun Jie pelan setengah berbisik.
Ma Yue melepaskan pelukannya dan menundukkan wajahnya yang memerah akibat menangis.
"Tidak Yang Mulia. Saya hanya ingin menangis saja." ucap Ma Yue dengan suara yang serak.
Li Yun Jie mengamatinya dengan seksama, ia segera meraih jemari Ma Yue dengan erat.
"Apa yang terjadi padamu, kau harus jadi pribadi yang kuat, Ma Yue. Pohon tak akan subur tanpa akar yang kuat, mulai sekarang berjanjilah padaku bahwa kau akan kuat dan tak menangis lagi." ucap Li Yun Jie memberi semangat.
Ma Yue hanya mengangguk pelan sambil sesekali menghapus airmata yang masih merembes keluar.
Pria itu merasa iba hingga akhirnya ia kembali memeluk Ma Yue dengan dekapannya yang hangat.
Li Yun Sha yang berencana ingin berkunjung, sejenak mendengar suara Kakaknya hanya bisa melongok lewat pintu yang sedikit terbuka.
Nafas Li Yun Sha tertahan, dadanya terasa sakit hingga akhirnya ia memundurkan langkahnya beberapa langkah.
Wajahnya terlihat kaget, tak semestinya ia melihat hal itu. Terasa sakit rasanya ketika tahu bahwa Ma Yue bukanlah miliknya seutuhnya.
Sakit ketika tahu ia harus berbagi dengan Kakaknya. Sakit.
Li Yun Sha mengurungkan niatnya, ia berjalan menuju ke kediamannya lagi dengan sedikit terhuyung.
"Sakit." gumamnya lirih seraya memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.
"Ma Yue... Kenapa takdirmu tak denganku saja? Kenapa ada Kakakku diantara kita? Kenapa? Lalu aku harus mengadu pada siapa tentang ketidak adilan ini? Pada siapa?" batin Li Yun Sha terus menceracau.
Langkah Li Yun Sha terhenti, wajahnya menahan sakit yang luar biasa. Tangannya sibuk meremas dadanya yang terasa begitu panas.
Sesaat sebelum pandangannya kabur, ia melihat seseorang menghampirinya.
Li Yun Sha tak tahu apa-apa lagi.
Li Yun Sha terjatuh dan pingsan.
********
SAYA~ Galau..... ini cerita mau saya kemanain?! Terkadang saya bentrok sendiri dengan jalur cerita yang saya buat.
Tak apalah... Mengalir saja hehe..
Makasih buat yang setia nunggu cerita saya, yang setia kasih vomment dan juga setia kasih semangat saya.
Thanks you so much for all....
Dacytta.