4. Masa Lalu

1930 Kata
---***----- Tabib berjalan tergopoh-gopoh menuju kediaman Li Yun Sha, beberapa pelayan juga nampak repot disana. Tak terbayangkan bagaimana suasana ruangan Li Yun Sha sekarang. Riuh dan ramai. Tabib berusaha memeriksa denyut nadi si bungsu dengan hati-hati. Raja dan Ratu terlihat khawatir begitu juga dengan Li Yun Jie dan Ma Yue. Si Bungsu masih terpejam, tubuhnya lemas tak berdaya. Beberapa pelayan menemukannya jatuh pingsan di lorong jalan menuju ke kediamannya. "Ma Yue..." panggil Li Yun Sha lirih dengan mata masih terpejam. Semua orang di ruangan itu menatap Ma Yue serentak seolah memintanya untuk mendekati Li Yun Sha yang memanggil-manggil namanya. Dengan langkah pelan, gadis itu duduk di sisi ranjang sedikit canggung. Tangannya yang mungil menyentuh tangan Li Yun Sha lembut. Perlahan mata yang terpejam itu membuka, mengerjap sesaat lalu menatap sosok Ma Yue di hadapannya. "Ma Yue..." desisnya lirih hampir tak terdengar. "Yang Mulia sudah siuman?" ucap Ma Yue seraya tersenyum lega. Li Yun Sha beranjak bangun dari tidurnya tanpa mencoba melepaskan genggaman tangan Ma Yue. "Ma Yue... Jangan tinggalkan aku!" ucap Li Yun Sha dengan sendu. "Saya...." Ma Yue terbungkam takkala Li Yun Sha tiba-tiba menciumnya secara sepihak di depan semua orang. Raja dan Ratu terkesiap, mereka tak tahu harus bicara apa lagi saat ini. Li Yun Jie hanya diam dan berekspresi dingin seperti biasa. Ia tak tahu haruskah ia berekspresi hancur atau sebaliknya. "Jangan pernah tinggalkan aku apapun alasannya." pinta Li Yun Sha lirih seusai mencium bibir Ma Yue. Gadis di depannya merona merah, ia sangat malu dengan segala tingkah Li Yun Sha yang dianggapnya terlalu berlebihan. "Aku tidak ingin kehilangan dirimu." ucap Li Yun Sha lalu merengkuh tubuh Ma Yue seolah ia tak ingin melepaskannya lagi. Ma Yue tak membalas pelukan pria itu namun ia tahu bahwa Li Yun Sha memang benar-benar mencintainya sepenuh jiwa. "Saya tidak akan meninggalkan Anda." jawab Ma Yue sekenanya. Li Yun Sha terdiam, ia masih saja memeluk istrinya dengan sangat erat. Melakukan hal itu bukan karena tak sadar melainkan memang sengaja. Li Yun Sha memang sengaja melakukannya agar orang-orang tahu bahwa apa yang ia lakukan itu murni dari dalam hatinya. Suatu perbuatan yang mencerminkan bahwa Ma Yue adalah 'MILIKNYA' dan dia tak rela jika yang 'lain' merebutnya. "Sebaiknya kau istirahat, Yun Sha?" ucap Raja mendekati Li Yun Sha yang masih bergelayut di pelukan Ma Yue. Bungsu bermanik cokelat melepas pelukannya, ia menatap sang Ayah yang begitu menyayanginya sejenak lalu kembali menatap sosok Ma Yue. "Aku hanya akan istirahat jika Ma Yue mau tinggal di sini." ucap Li Yun Sha bernada manja. Semua orang kembali terpaku, tinggal Ma Yue yang bingung harus memberi jawaban apa kepadanya. "Kau tak keberatan, kan?" desak Li Yun Sha seraya mendongakkan wajah Ma Yue yang terlihat gelisah. "Tidak Yang Mulia asal Anda berjanji akan segera sembuh." ucap Ma Yue dengan bibir gemetar. Li Yun Sha tersenyum simpul lalu kembali memeluk tubuh gadis ringkih itu dengan erat. Semua orang di ruangan itu membisu, menyaksikan segala tingkah polah si Bungsu yang terlalu manja pada Ma Yue. Sang Ratu melirik putera unggulannya dengan sedikit khawatir, Li Yun Jie hanya berekspresi dingin dan datar. Pria itu sudah terlatih untuk menghadapi situasi seperti ini. Baginya ia sudah terbiasa 'dikalahkan' oleh sang adik. -----****-------- Angin bertiup menderu, meniupkan dedaunan kering kesana dan kemari. Li Yun Jie hanya bisa menatapnya dari jendela kayu tanpa bergeming sedikitpun. Ia cukup menikmati pemandangan yang tak menjemukan itu hampir setiap hari. Sesaat ia kembali mengingat masa kecilnya bersama si bungsu. Banyak kenangan yang ia toreh bersama Li Yun Sha. Selama bersama sang adik, ia terlalu banyak mengalah tapi baginya tak apalah karena keluarganya memang menginginkan si Bungsu untuk terus hidup bagaimanapun caranya. Waktu itu...dua puluh tahun yang lalu... "Dewa, apa yang telah aku lakukan hingga kau memberikan ganjaran ini padaku." tangis Raja meraung-raung di kediaman Li Yun Sha. Semua orang menangis, di ranjang itu tergolek lemah si Bungsu dengan tubuh yang ringkih dan tinggal kulit yang membalut tubuhnya. Li Yun Sha sedari kecil sering sakit-sakitan, ia memiliki jantung yang lemah. Itulah kenapa sang Raja tak pernah memerintahkan Li Yun Sha untuk berlatih pedang atau melakukan hal fisik yang sedikit berat. "Kenapa Dewa? Kenapa kau memberikan sakit yang begitu berat untuk puteraku? Kenapa? Aku harus berbuat apa untuk membuatnya hidup lebih lama? Apa Dewa?" tangis Raja dengan pilu. Sebagai Ayah, ia merasa sedih luar biasa ketika mendapati putera bungsunya yang ringkih hampir sekarat karena sakitnya. "Sudahlah Raja, sebaiknya kita memanjatkan doa-doa agar Li Yun Sha segera sembuh." hibur Ratu lirih seraya menyentuh bahu suaminya. Ratu menangis, semuanya menangis kecuali Li Yun Jie yang hanya diam dan dingin sedingin es. "Dewa aku bersumpah, jika kau mengembalikan putera kami, aku akan memberikan apa saja yang di inginkan olehnya. Apa saja dan apapun itu wujudnya." Raja terus menangis setelah mengucapkan sumpahnya. Ia tak sadar jika sumpahnya kelak akan menuai kontroversi. Menuai sesuatu yang justru merugikan bagi puteranya yang lain. "Anda baik-baik saja Yang Mulia?" Lamunan Li Yun Jie pudar takkala Ma Yue menyapanya. Pria itu menoleh sejenak lalu kembali menatap dedaunan yang kering dan beterbangan. "Ya, aku baik-baik saja." jawab Li Yun Jie tanpa menatap Ma Yue di belakangnya. Gadis itu menyejajarkan tubuhnya, ia juga menatap dedaunan kering yang beterbangan ditiup angin. "Sepertinya sudah mulai musim gugur." ucap Ma Yue mencairkan suasana. "Sepertinya iya. Bagaimana keadaan Yun Sha sekarang?" tanya Li Yun Jie lalu melayangkan tatapan pada Ma Yue. "Sudah membaik, ia sedang tertidur makanya Saya bisa pergi sejenak dan meninggalkannya." ucap Ma Yue tanpa menatap sorot mata Li Yun Jie. "Aku harap kau bisa lebih sabar dalam menghadapinya. Li Yun Sha sudah terkenal manja sedari kecil, apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan. Bahkan apa yang aku miliki semua ku berikan padanya." ucap Li Yun Jie sendu. "Anda adalah Kakak yang baik. Seandainya saya menjadi adik Anda, Saya patut bersyukur memiliki Anda." hibur Ma Yue melirik Li Yun Jie. Pria itu tersenyum tipis, senyum yang jarang ia perlihatkan pada sembarang orang. Selama Ma Yue di sini, baru sekali ini ia melihat Li Yun Jie tersenyum semanis ini. "Aku sudah menjadi suamimu, aku adalah milikmu. Kau tak perlu menjadi adikku untuk merasakan kebaikanku." jawab Li Yun Sha dengan wajah bersemu malu. "Anda memang orang yang baik, saya bersyukur bisa mengenal Anda lebih dekat." "Apakah aku sebaik itu?" "Ya. Memangnya apalagi? Anda adalah tipe pria idaman setiap wanita. Saya yakin kelak Anda akan mendapatkan istri yang jauh lebih baik dari saya. Saya berdoa semoga kali ini Anda bisa hidup dengan sangat bahagia." ucap Ma Yue pelan lalu tersenyum simpul. Li Yun Jie terdiam, ia kembali tak berekspresi. Pria bersurai kelam itu menatap Ma Yue sejenak. "Boleh saja semua wanita menyukaiku tapi aku tak bisa menjamin apakah mereka betah denganku atau tidak." "Memangnya kenapa Yang Mulia? Anda pria hebat, Anda juga tidak buruk." "Aku memiliki sifat aneh. Kata mereka aku ini pria yang galak. Aku orang yang judes dan pedas." jawab Li Yun Jie dengan mimik wajah yang aneh ketika mengekspresikan dirinya. Ma Yue tersenyum lalu menahan tawanya, Li Yun Jie terheran-heran lantas menarik lengan Ma Yue. "Kau menertawakan sifat anehku?" "Tidak Yang Mulia." "Lalu kau menertawakan apa?" "Tidak apa-apa." jawab Ma Yue bersemu merah seraya masih menahan tawa. "Aku rasa kau memang menertawakanku." sungut Li Yun Jie sembari menatap keluar jendela. "Saya merasa aneh kenapa mereka bisa mengatai Anda pria yang galak, padahal Anda tidak segalak itu. Anda harus tahu bahwa wanita tak selalu mengiyakan apa yang dikatakan olehnya. Anda memang terlihat galak tapi Anda terlihat manis untuk sebagian orang." ucap Ma Yue pelan. Li Yun Jie menoleh, menatap Ma Yue dengan berbagai asumsi di otaknya. "Lalu... Ma Yue, apakah kau menyukai pria galak sepertiku?" tanya Li Yun Jie mencebik. DEG. Ma Yue terpana sesaat, wajahnya mendadak merona merah. Namun ia segera terkekeh kecil, hanya formalitas untuk menyembunyikan perasaan anehnya. Tawa Ma Yue hilang ketika Yun Jie menarik lengannya dan lebih dekat dengannya. Bagaimana bisa Ma Yue tertawa ketika wajah pria yang ia tertawakan begitu dekat dengannya, hanya beberapa inci saja. "Katakan saja, apa kau menyukai pria galak seperti diriku ini Ma Yue?" tanya Li Yun Jie terdengar berat dan serius. Mata Ma Yue tercekat, ia terpaku akan mata hijau si Sulung. Pria itu rupanya memiliki manik mata yang tidak biasa. Sejenak ia sadar akan posisinya, ia segera menurunkan pandang matanya. Wajahnya memerah seperti tomat, kepalanya terasa mengepul luar biasa. Ia tak biasanya seperti ini, diperlakukan aneh oleh Yun Sha sudah biasa baginya namun diperlakukan Li Yun Jie seperti ini, ia... "Apa kau tak mendengar kata-kataku?" ucap Li Yun Jie ketika melihat tatap Ma Yue begitu kosong. "Saya... Saya menyukai Anda dengan segala sifat Anda Yang Mulia." ucap Ma Yue sekenanya. "Apa kau tak keberatan hidup dengan pria yang galak dan judes sepertiku?" "Galak atau judes itu hanya bagaimana mereka menanggapinya Yang Mulia. Bagi Saya, Anda tidak galak hanya.... Hanya cerewet saja. Hm.. Seperti bebek." "Apa kau bilang?" ucap Li Yun Jie sedikit meninggikan nada suaranya. Ekpresinya terlihat shock, bagaimana mungkin pria setampan dia bisa dijuluki 'bebek' oleh si polos Ma Yue. "Kau tega mengataiku bebek?" ulangnya lagi seakan tak terima. Ma Yue merona ketika pria itu mencubit pipinya keras-keras, ia mengaduh pelan dan memundurkan langkahnya serta menunduk sesal. Apakah Li Yun Jie kali ini akan marah padanya? "Karena Anda jarang sekali bicara dan sekali bicara Anda seperti Kereta, hampir tak ada jeda. Itu berarti walau Anda judes, walau Anda galak, ada sifat hangat di diri Anda. Anda tak perlu tak percaya diri pada diri Anda." jawab Ma Yue lirih seraya menggosok-gosok pipinya yang merah. Li Yun Jie terdiam, ia menatap wajah Ma Yue yang terlihat imut ketika menggosok-gosok pipinya. Ia membenarkan apa yang dikatakan Ma Yue padanya. Ia jarang bicara tapi kali ini entah kenapa ia bisa bicara sepanjang dan selebar itu pada Ma Yue. Perlahan ia mendekati Ma Yue, menarik tangan yang sedari tadi menggosok-gosok pipi, yang membuatnya gemas sekali. "Apakah sakit?" tanya Li Yun Jie menyadari perbuatannya membuat Ma Yue tersakiti. Ma Yue hanya terdiam namun ekspresinya menandakan bahwa apa yang diterimanya tadi memang benar-benar sakit. Li Yun Jie segera menyentuh pipi Ma Yue, memerah. Pria itu tak habis pikir kenapa ia bisa mencubitnya sedemikian keras. Mungkinkah sejenak tadi ia merasa gemas pada Ma Yue? Jemarinya turun untuk turut mengelus pipi halus itu dengan lembut, ia merasa turut bersalah karena sudah menyakiti Ma Yue. Gadis itu mundur beberapa langkah, ia merasa tak nyaman dengan posisi mereka yang begitu dekat. Li Yun Jie mengerti akan ketidaknyamanan itu hingga akhirnya ia berhenti mengelus pipi Ma Yue. "Maaf jika aku menyakitimu." ucap Li Yun Jie pelan. Ma Yue memaksakan diri untuk tersenyum manis, seolah apa yang ia alami tidak terlalu mempengaruhinya. "Tidak... Tidak Yang Mulia. Ini tidak sakit kok." ucap Ma Yue sembari menggelengkan wajahnya. Li Yun Jie tak bersuara, ia menatap wajah Ma Yue di depannya. Hatinya tergerak, hatinya terus bertanya. Kenapa Li Yun Sha begitu menyukai Ma Yue? Dan kini waktu sudah menunjukkan hal yang sebenarnya. Li Yun Jie sekarang tahu kenapa adiknya begitu tergila-gila dengan istri mereka?! Bukan karena kecantikannya, bukan karena kebaikannya namun kelembutan hati gadis itu mampu menyentuh siapa saja yang berhadapan dengannya. Li Yun Jie menarik nafas dalam, ia meraih wajah Ma Yue sejenak. Kedua mata mereka kembali bertemu, tak ada suara sedikitpun hingga akhirnya pria bermata hijau itu melayangkan ciuman pertamanya pada Ma Yue. Gadis itu terkesiap, matanya membulat. Ia tak tahu harus berbuat apa, ia hanya meremas jemarinya kuat-kuat. Lambat laun matanya menjadi sayu. Ia mulai terbawa dan terbawa semakin jauh. "Li Yun Jie, benarkah perasaan ini hanya tertuju padamu?" Entahlah. Biar waktu yang membuktikan perasaan ini. --------****-------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN