5. Awal Tanpa Akhir

1922 Kata
Li Yun Sha merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia menatap langit-langit kamarnya dengan hampa. Sejenak pikirannya kembali pada Ma Yue. Ah.. Kenapa gadis itu kini mendominasi otaknya? Kenapa ia begitu takut kalau-kalau Sang Kakak akan merebutnya darinya? Sebagai lelaki, baru kali ini Li Yun Sha jatuh cinta. Ketimbang Li Yun Jie, dirinya memang kalah pamor. Semua wanita istana begitu memuja sang Kakak dibanding dirinya. Li Yun Sha hanya terkenal sebagai anak raja yang manja dan minim kekuatan. Sekali lagi, Li Yun Sha mendengus kesal. Tindakannya yang aneh membuat pelayan setianya, Weilan memberanikan diri untuk bertanya. Wanita paruh baya yang turut membesarkan sang pangeran itu mendekat ke sisi ranjang dan mulai bertanya. "Sepertinya Pangeran sedang memikirkan sesuatu?" ucap Weilan lirih seakan sedikit takut jika si Bungsu tiba-tiba menggertaknya. Sebenarnya bukan pribadi Li Yun Sha yang suka menggertak, dibanding menggertak pria itu lebih sering mendengus marah dan terdiam lama. "Aku memikirkan Ma Yue." jawab Li Yun Sha jujur tanpa menatap lawan bicaranya. "Ada apa dengan Nona Ma Yue?" "Sepertinya dia tidak tertarik denganku, dia kelihatannya lebih bahagia tinggal dengan Kakakku. Aku tidak suka hal itu, aku tidak mau kehilangan dirinya, Weilan." "Yang Mulia merasa cemburu?" "Tentu saja, aku baru pertama kali jatuh cinta dan itu dengan Ma Yue. Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa keadaan kami sekarang adalah berbagi istri. Itu menyakitkan, Weilan." ungkap Li Yun Sha dengan menggebu-gebu. Lin Yun Sha bangun dari rebahannya, ia kini duduk dengan lesu. Berbeda dengan Weilan, sang Pelayan itu hanya senyum-senyum sendiri melihat kecemburuan Tuannya yang terlihat begitu nyata. "Padahal kau tahu sendiri, aku tidak pernah kurang memberi perhatian padanya. Aku selalu disampingnya, selalu menemaninya. Tapi tetap saja dia tak bisa bahagia bersamaku." "Apakah Anda ingin tahu bagaimana caranya agar Nona Ma Yue tak bisa melupakan Anda?" tanya Weilan dengan nada sedikit menggoda. "Apa? Katakan!" ucap si Bungsu langsung tertarik. Weilan tersenyum penuh misteri, ia terdiam sejenak sebelum pada akhirnya ia harus menjelaskan panjang lebar pada si Bungsu. Karena ia tahu bahwa tak mudah menjelaskannya pada sang Pangeran, seteliti apapun ia menjelaskan tetap saja Sang Pengeran tidak mudah mengerti. "Anda segera harus 'melakukannya' Yang Mulia." ucap Weilan lirih. "Melakukan apa?" "Hubungan suami istri Yang Mulia." ucap Weilan pelan dan tertunduk malu. "Aku sudah menciumnya dan memeluknya, kurang apa lagi?" ucap Li Yun Sha merasa heran dengan dirinya. "Hubungan itu tidak hanya mencium dan memeluk Yang Mulia. Anda harus melakukan hal lebih yang membuat Nona Ma Yue hampir tak bisa melupakan Anda." "Kalau begitu ajari aku, Weilan. Kau lebih tua dariku, kau pastinya lebih tahu dariku." bujuk Li Yun Sha dengan wajah memohon. Wajah Weilan memerah, ia tak bisa menjelaskannya atau mempraktekkannya. Itu hal tersukar yang diberikan kepadanya, sebagai wanita ia tidak mungkin mengajari sang Pangeran. "Jika Anda mau, saya akan meminjamkan buku tentang 'hal itu' di perpustakaan istana Yang Mulia." jawab Weilan dengan wajah masih merona. "Memangnya ada?" "Perpustakaan istana sangat lengkap Yang Mulia." "Kalau begitu pinjamkan aku, ya." "Baik Yang Mulia." ucap Weilan seraya mengangguk. Wanita paruh baya itu segera beranjak berdiri dan membungkuk hormat. Ia harus melaksanakan tugas yang di amanatkan padanya yakni meminjam buku tersebut. Walau harus sembunyi-sembunyi, ia harus tetap melaksanakannya. Li Yun Sha, apapun permintaannya harus segera di laksanakan dan ia tidak ingin ditolak sama sekali. Itu adalah ciri khas dari si Bungsu. ----***---- Ratu Xie kembali menemui Ma Yue, wanita nomor satu di kerajaan Alam itu tak henti-hentinya memperingatkan Ma Yue tentang perjanjian itu. Siapa orangnya yang bisa hidup tenang jika setiap hari bahkan setiap menitnya merasa dirongrong dan terus di ingatkan akan janjinya. Walau sedikit sedih tapi Ma Yue tetap menerima kedatangan sang Ratu dengan hangat. Ia tak ingin mengecewakan wanita yang sudah mempercayainya baik luar maupun dalam. "Kau belum juga pergi ke kediaman Li Yun Jie?" tanyanya dengan mimik wajah sedikit heran. Ma Yue hanya membungkuk hormat dan menurunkan pandangannya tanpa mengurangi rasa hormatnya. "Maaf Yang Mulia, saya belum sempat kesana. Mungkin sebentar lagi saya akan pergi ke kediaman Pangeran." ucap Ma Yue pelan. "Aku hanya ingin mengingatkan akan perjanjian itu Ma Yue, semakin cepat semakin baik. Aku tidak ingin kedua puteraku semakin menyukaimu dan akhirnya mereka tidak bisa melepaskanmu. Kau harus ingat bahwa kehadiranmu disini hanya untuk mengandung benih puteraku, kenapa aku memilihmu? Karena aku yakin kau adalah gadis suci yang bahkan belum pernah tersentuh pria manapun. Itulah kenapa aku ikhlas menikahkan kau dengan putera-puteraku." ucap Ratu Xie panjang lebar. "Saya tidak akan lupa Yang Mulia, saya mempunyai amanah dan itu harus saya laksanakan sesegera mungkin." jawab Ma Yue dengan nada sangat sopan. "Baguslah kalau begitu." ucap Ratu tanpa menatap mata Ma Yue. Mereka kembali terdiam, hingga pada akhirnya kedatangan Li Yun Sha diumumkan dan membuat keduanya terkesiap. "Ma Yue, kau harus ingat suamimu bukan hanya Li Yun Sha saja, kau juga milik puteraku Li Yun Jie." peringat Ratu Xie lagi lalu meninggalkan gadis itu seorang diri. Ma Yue membungkukkan badan, ia menghargai setiap kata yang Ratu ucapkan. Ada benarnya jika Ratu Xie mengingatkannya, sejak semula kedatangannya di istana ini hanya untuk tujuan tertentu bukan untuk bersenang-senang bersama sang Pangeran Kembar. Li Yun Sha masuk ke kediaman Ma Yue dan berpapasan dengan Ratu Xie. Si Bungsu hanya membungkuk hormat lalu menatap kepergian Ibunya yang bahkan tidak menyapanya. "Ma Yue, ada apa? Kenapa Ibu datang kemari?" tanya Li Yun Sha heran seraya menghampiri Ma Yue. "Beliau hanya menanyakan apakah saya sudah makan atau belum Yang Mulia. Tidak ada hal khusus lainnya." ucap Ma Yue seraya melempar senyum. Si Bungsu hanya mengangguk lalu duduk di atas ranjang Ma Yue. Gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan hampa. Bagaimana ia mengutarakan maksudnya? Ia harus segera menunaikan tugasnya tapi sepertinya sulit mengingat kedua Pangeran adalah orang yang masih awam soal hubungan rumah tangga. Dirinya juga begitu, ia tak tahu menahu bagaimana caranya untuk mengatakan keinginannya. Seandainya kedua Pangeran ini tahu yang sebenarnya, mungkin ia takkan serepot ini untuk meminta. "Kenapa diam saja? Duduklah disini." pinta Li Yun Sha seraya menepuk sisi ranjang di sampingnya. Ma Yue membungkuk, dengan langkah pelan ia mulai duduk disamping Li Yun Sha. Mereka kembali diam beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sama dengan Ma Yue, Li Yun Sha pun memikirkan hal yang sama. Weilan memang sudah meminjamkan buku tapi ia terpaksa membuangnya dan memarahi Weilan. Entah kenapa melihat buku gambar berisi gambar erotis itu, ia merasa jijik sendiri dan akhirnya membuangnya dan memarahi Weilan habis-habisan. "Yang Mulia ada urusan apa kemari?" tanya Ma Yue lirih menggugah lamunan panjang si Bungsu. "Tidak ada apa-apa, aku hanya memastikan apakah kau sudah tidur apa belum." "Saya masih mencoba untuk membaca buku yang Anda berikan pada saya, isinya sangat bagus dan saya sangat menyukainya. Mungkin sebentar lagi saya akan merampungkannya." jawab Ma Yue pelan seraya tersenyum manis. "Wah kau sangat cepat ya, buku setebal itu tak mungkin bisa dibaca cepat dalam waktu 3 hari. Jika kau mau aku akan mengambil buku yang lainnya untuk kamu baca." ucap Li Yun Sha segera beranjak dari duduknya. "Terimakasih Yang Mulia tapi...." "Sudahlah kau tunggu saja sebentar, aku akan mengambilkan buku itu untukmu." ucap Li Yun Sha tersenyum lalu pergi meninggalkan Ma Yue yang tertegun seorang diri. Gadis itu terlihat gelisah, ia berjalan mondar-mandir. Bukan ini maksudnya. Kegelisahan Ma Yue memuncak ketika kedatangan Li Yun Jie diumumkan. Wajah gelisahnya tak dapat disembunyikan sama sekali. Ia menatap si Sulung sejenak lalu membungkukkan badan guna menghormat. "Kau belum tidur?" tanya Li Yun Jie seraya berjalan ke hadapan Ma Yue. "Belum Yang Mulia." "Lantas menunggu apa? Ini sudah larut malam, segeralah tidur. Aku hanya mampir karena aku melihat lampu minyakmu belum juga padam. Aku kira kau sudah tidur dan lupa mematikannya." ucap Li Yun Jie datar dan terlihat dingin. Tak ada jawaban dari bibir Ma Yue, perjanjiannya dengan sang Ratu terus terngiang di otaknya. Ia terus memikirkannya sehingga seringkali ia melamun tak tentu arah. "Baiklah, aku akan pergi. Segeralah berangkat tidur." ucap Li Yun Jie membalikkan badan. "Yang Mulia..." panggil Ma Yue lirih membuat si Sulung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Ma Yue dengan heran. "Saya ingin bicara." ucap Ma Yue dengan wajah merona hebat. "Bicara apa?" "Apakah Yang Mulia tidak tertarik dengan saya? Apakah saya kurang menarik? Apakah anda tidak ingin melakukan...." Ma Yue tak bisa melanjutkan kata-katanya. Wajah gadis itu memanas hebat, apakah pantas ia mengatakan duluan dan itu seperti terkesan bahwa dirinyalah yang meminta. "Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas sehingga aku paham." ucap Li Yun Jie kembali mendekati Ma Yue. Gadis bermata cokelat itu menarik nafas panjang dan tertunduk malu. "Apakah anda tidak ingin melakukan sesuatu dengan saya? Saya bosan harus terus menunggu, saya ingin pikiran saya lega. Saya.... Saya harus segera mengandung." ucap Ma Yue dengan perasaan malu luar biasa. Li Yun Jie terdiam, sebagai pria dewasa ia tahu apa maksud Ma Yue barusan. "Apa kau menginginkannya?" tanya Li Yun Jie ingin tahu membuat ekspresi Ma Yue makin merona dan terus tertunduk. Li Yun Jie menarik dagu gadis itu dan menatap dua bola matanya dengan tatapan ingin tahu. "Katakan padaku, apakah kau menginginkannya? Sebuah hubungan tidak bisa dilalui dengan kata paksaan. Aku bisa memberikan apa yang kau mau tapi aku tak yakin apa kau memintanya dengan ikhlas atau terpaksa. Yang kulihat sejauh ini kau terlalu memaksakan dirimu, Ma Yue." ucap Li Yun Jie datar. Ma Yue tercengang, bagaimana pria ini tahu apa yang ada di balik hatinya? Apa yang dikatakannya benar, memang sebenarnya ia belum siap untuk melakukannya tapi perjanjian itu... Ah lagi-lagi ia teringat akan perjanjian terkutuk itu. "Jika Yang Mulia menginginkannya, kapanpun saya siap karena saya adalah istri Anda." jawab Ma Yue dengan sedikit terpaksa. "Kau yakin tidak memaksakan kehendakmu? Kau terlihat putus asa, ada apa?" tanya Li Yun Jie heran. Ma Yue tak menjawab, ia menurunkan pandangannya lagi. Ia benar-benar tak bisa menjawab kali ini, sebenarnya ia ingin menangis tapi harga dirinya mengatakan bahwa ia sudah cukup menangis, ia tak boleh menangis lagi. Li Yun Jie terdiam, ia menatap setiap sudut wajah gadis itu dengan tatapan penuh selidik. Wajah gadis itu muram seolah ada beban di pundaknya. Pria itu menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan merengkuh pinggang Ma Yue. Gadis itu terkesiap ketika melihat Li Yun Jie meraba-raba tubuhnya. "Kita lihat seberapa besar niatmu itu, Ma Yue." ucap Li Yun Jie dengan ekspresi dingin. Tanpa pikir panjang, Li Yun Jie menyorong tubuh gadis itu hingga membentur dinding istana. Pria itu mulai mengecupi bibir istrinya dan turun ke leher. Tangannya tak hanya diam, perlahan ia menarik tali yang mengikat pakaian Ma Yue hingga sedikit terlepas Dengan ekspresinya yang datar dan dingin, Li Yun Jie mencoba melihat keseriusan ucapan Ma Yue padanya. Sejauh ini gadis bersurai legam itu hanya diam dan sesekali mencengkeram pundaknya. Detak jantungnya pun hampir mampu Li Yun Jie dengar. Pria itu kembali menyentuh d**a gadis itu, meremasnya lembut dan mengecupinya tanpa henti. Hingga pada akhirnya, tangan Li Yun Jie turun hendak meraba area pribadi gadis itu namun.... Tiba-tiba tangan Ma Yue menahannya kuat-kuat, dan ketika Li Yun Jie tetap berusaha menyentuhnya sang gadis semakin berontak dan menepis tangan Li Yun Jie. Pria itu tersenyum lalu mengakhiri ciumannya. "Aku sudah tahu, kau pasti belum siap Ma Yue. Jangan paksakan dirimu." ucap Li Yun Jie pelan seraya membenarkan pakaian Ma Yue yang morat-marit karena ulahnya. Tanpa mereka sadari, lagi-lagi Li Yun Sha melihatnya. Matanya tak dapat dibohongi tentang apa yang di lihatnya. Ia melihat bagaimana Kakaknya hampir membugili Ma Yue, ia juga melihat bagaimana ekspresi Ma Yue terhadapnya. Ma Yue tak pernah menatapnya seperti itu. Ia terluka. Kembali, ia kembali terluka sekali lagi ketika yang terakhir ia melihat bagaimana si Sulung mencium bibir Ma Yue. "Ma Yue... Lalu apa yang kau inginkan dariku?" pikir Li Yun Sha hampa diambang pintu seraya terus menatapinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN