Inisial Laki-Laki Lain

1462 Kata
Tubuh mungil tertidur lemah di atas ranjang. Rambut panjang sebahu dengan wajah pucat dan mata tertutup rapat, Alya nampak seperti putri tidur. Dia dilarikan ke rumah sakit usai tergeletak cukup lama di dalam toilet. Wajah cemas bercampur bingung meratapi tubuh tak berdaya itu. Arhan setia mendampingi istrinya meski tak dianggap. “Arhan!” panggil pak Chandra yang baru datang membuka pintu. “Iya Pak,” jawab Arhan mengangkat wajahnya. Pak Chandra mendekati Arhan sambil menepuk bahunya. Ditariknya satu kursi lalu duduk berdampingan. “Kakak saya, sudah salah jalan dari awal. Dia tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Semua urusan perusahaan dan rumah ditangani sendiri. Jadi dia kewalahan,” jelas pak Chandra membuka pembicaraan. Arhan menoleh menampakkan raut penasaran. Dia mengangguk-angguk mencerna cerita dari om Alya. “Alya tumbuh menjadi anak pembangkang sejak SMA. Dia sering membuat masalah di sekolah demi mencari perhatian ayahnya. Kalau soal urusan pendidikan, dia memang berprestasi. Tapi dia juga nakal,” lanjut pak Chandra menjelaskan tentang keponakannya itu. “Pak, jadi bagaimana posisi saya di sini? Jujur saya nggak enak sama Alya. Dia benar, saya nggak pantas jadi bagian keluarga Soedjatmiko. Lagipula, saya yakin kalau Alya bisa menjalani perusahaan ayahnya. Mungkin cuma butuh waktu saja.” Arhan merendah diri. Matanya melirik iba ke wajah Alya. “Kamu tetap jalani apa yang sudah ada sekarang ya! Nggak enak kalau dibatalin, kamu dengar sendiri ‘kan tadi siang kalau mereka lebih memilih kamu dibanding Alya. Secara mental, Alya belum kompeten.” Pak Chandra terus menangkis rasa bersalah yang menyelimuti benak Arhan. Arhan menarik napas panjang lalu menggenggam erat tangan halus nan mulus. Putri cantik sang atasan kantor rupanya sedang menanggung beban berat. Dalam kepala Arhan terus berpikir mencari cara agar ia dapat diterima oleh istrinya sendiri. Jika dia sudah diterima, maka mudah baginya untuk memperbaiki sikap Alya. “Saya rasa Alya mengalami depresi berat, Pak. Kasian dia, piatu dari kecil dan sekarang jadi yatim. Parahnya lagi, ada saya yang mengacaukan semua impiannya,” ujar Arhan sembari tersenyum getir. “Saya yakin kamu bisa mendapat hati Alya. Sebenarnya dia cukup ramah kalau kenal sama orang baru, tapi satu hal yang mungkin bikin kamu kesal. Dia masih seperti anak kecil yang sulit dikendalikan,” ucap pak Chandra. Arhan dan pak Chandra lanjut berbicara soal masa depan perusahaan ayah Alya. Pak Chandra bilang tidak bisa sepenuhnya membantu perusahaan kakaknya karena ia juga tengah disibukkan perusahaan barunya. Arhan mengangguk-angguk meski dalam hati terasa berat. Kembali ia memandangi wajah pucat si anak atasan. Seorang wanita yang belum ia kenal sebelumnya. Bertindak sesuka hati, berkata menyakitkan serta menolak kebaikan yang ia lakukan. “Pak, apa Bapak tau tentang laki-laki impian Alya itu seperti apa?” tanya Arhan berwajah polos. Pak Chandra terkekeh seraya mengangkat bahunya menjawab, “Tidak tahu. Kalau soal asmara, saya tidak tahu. Yang jelas, Alya itu anak yang sulit diatur. Egois, keras kepala, dan manja. Saya saja tidak tahu kelebihannya di mana selain cantik.” Arhan mengusap tengkuk leher pertanda kebingungan. “Memangnya kenapa kamu tanya begitu?” Pak Chandra penasaran. “Saya cuma mau tahu, laki-laki seperti apa yang Alya suka? Biar saya bisa jadi laki-laki yang diimpi-impikan Alya,” ucap Arhan lugu. Pak Chandra mengangguk-angguk seraya kembali menepuk bahu Arhan berpesan, “Tidak perlu jadi orang lain. Jadi diri kamu sendiri versi terbaik! Suatu saat nanti, Alya pasti akan jatuh cinta sama kamu.” Arhan menarik napas berat menerima nasehat itu. Dia mengangguk kecil mengiyakan perkataan pak Chandra. Pemuda desa yang sederhana ini sulit sekali menyanggah apalagi menolak permintaan lawan bicaranya. Hanya sebentar pak Chandra menemani Arhan di rumah sakit. Dia pamit pergi meninggalkan pengantin baru berdua di dalam kamar rawat inap. Sesaat setelah pak Chandra beranjak, Alya pun tersadar. “Mas … Mas …!” panggil Alya dengan suara lemah. Arhan menoleh dari depan pintu lalu menghampiri Alya. “Iya, kamu sudah enakan?” Arhan hendak memegang dahi Alya. Dia mencoba memeriksa suhu tubuh istrinya. Namun Alya dengan cepat menangkis tangan Arhan. “Tolong bawakan aku baju ganti! Aku nggak mau pakai baju ini,” ucap Alya seraya menunjuk baju biru bertuliskan nama rumah sakit. Arhan tersenyum menjawab, “Iya.” Dengan senang hati ia pulang ke rumah mencari pakaian sang istri. Dia mulai merasa dibutuhkan. Kalau sudah begitu, Alya akan seterusnya membutuhkan Arhan. Sesampainya di rumah, Arhan langsung menuju kamar Alya. Dibukanya pintu lemari nan besar itu. Dia melihat tumpukan baju menggunung dari bawah hingga langit-langit lemari. Semua nampak penuh terisi dengan warna berbeda-beda. Arhan mundur satu langkah sambil terperangah melihat isi lemari. Begitu banyak pilihan untuk dibawa. “Aduh, yang mana ini ya?” gerutu Arhan. Dia lanjut mencari baju santai berbahan menyerap keringat. Dimasukkannya tiga lembar piyama ke dalam tas dari bagian paling bawah. Tiba-tiba ada sesuatu yang ikut terjatuh. Sontak Arhan pun menoleh melihat apa yang menimpa kakinya. Sebuah buku berwarna merah muda dengan gambar kelinci putih nampak sangat memikat mata. Arhan mengambil buku itu. Dia membolak-balikkan buku itu, penasaran. Arhan menepi ke ujung ranjang lalu membuka buku itu. Sebuah guratan bertuliskan huruf A dan R menjadi pembuka. Mengernyit dahi Arhan menerka-nerka inisial R. Dia jadi semakin penasaran lalu membuka halaman berikutnya. Di sana tertulis cerita tentang pengalaman pertama masuk SMA. Tentang teman-teman baru yang menyenangkan serta tentang kakak kelas yang menyebalkan. Segaris senyum terukir di wajah Arhan ketika membaca kalimat demi kalimat tulisan itu. Dia membayangkan masa-masa indah Alya saat SMA. Dia yang penasaran lanjut melompati beberapa halaman sampai ia menemukan tanda love di tengah-tengah buku. Kembali ia dapati inisial R. “R itu siapa sih?” gerutu Arhan sambil terus membuka halaman berikutnya. Tiba-tiba selembar foto jatuh ke atas pahanya dari sela-sela buku. Reflek Arhan mengambil foto tersebut. Terbelalak mata Arhan melihat foto Alya merangkul erat seorang laki-laki tinggi memakai seragam basket. Hidung mancung, kulit putih dan bermata coklat menambah kesan tampan laki-laki dalam foto itu. Love you forever R pesan yang tertulis di bawah foto. “Jadi ini pacar Alya,” kata Arhan seraya kembali menaruh foto ke dalam buku. Dia bangkit dari ranjang hendak mengembalikan buku ke dalam lemari. Namun, isi hatinya terus menggelitik rasa ingin tahu. Arhan langsung membuka halaman terakhir. Pelan-pelan ia baca isi hati Alya yang tertulis. Nampak bekas tetesan air mata mengering di lembaran kertas. Aku tidak suka dia. Lebih baik aku mati daripada harus hidup tanpamu, R. Aku harap kamu datang menjemputku suatu hari nanti, dan kita akan hidup bahagia bersama. Bahu Arhan melemah membaca kalimat akhir dari buku itu. Dengan lemas, ia kembali menaruh buku ke dalam lemari. Terjawab sudah tanya dalam benak Arhan selama ini. Rupanya Alya masih berharap mantan kekasihnya kembali. Arhan termenung mengingat kata-kata ingin bahagia dan hidup bersama. Dia sadar diri bahwa ia tidak ada apa-apanya. Mana mungkin, dia merubah wajahnya yang ndeso itu menjadi wajah keturunan bule? Bagai tersambar petir di siang hari bolong. Arhan menjadi diam seribu bahasa. Sepanjang jalan kembali menuju rumah sakit, ia terniang-niang inisial R. Dari awal ia buka buku itu sampai ke halaman terakhir, dia tidak juga menemukan nama lengkap dari R. Sesampainya di kamar rawat inap, langsung ia letakkan tas itu ke atas meja. Arhan kembali duduk di kursi seraya membuang muka. Matanya seakan tidak berkedip karena terus berpikir siapa R? “Mas, kamu kenapa?” tanya Alya, menyapanya santai. “Nggak apa-apa,” jawab Arhan berwajah kecut. “Kamu bisa ke luar dulu nggak, aku mau ganti baju!” perintah Alya. Arhan menarik napas panjang menjawab, “Kan kamu bisa ke kamar mandi ganti baju. Nggak harus ngusir aku toh!” Sontak Alya terkejut mendengar jawaban ketus si pemuda desa. Baginya cara dia menjawab adalah bentuk keangkuhan Arhan. “Aku nggak mau ganti di kamar mandi, nanti kalau jatuh bajunya bisa basah. Jadi kamu bisa ‘kan ke luar dulu sebentar,” perintah Alya tak mau kalah. “Alya, aku baru saja sampai. Bisa nggak kamu biarin aku duduk di sini dulu? Di luar macet loh! Aku berangkat bawa mobil, balik ke sini naik motor biar cepat sampai,” jelas Arhan pelan-pelan. Alya berkacak pinggang memelototi si pemuda desa yang duduk di hadapannya. “Bisa keluar nggak sekarang?” cetus Alya tak mau kalah. Arhan tersinggung mendapati tatapan sinis Alya. Dia menarik napas panjang seraya bangkit dari kursi dengan cepat. Emosi memuncak di atas kepala membuat wajah santun itu berubah menjadi muram. Alya memang egois seperti anak kecil terlintas kalimat itu dalam benak Arhan. Sontak Arhan menghela napas panjang seraya membuang muka. Dia pun keluar meninggalkan Alya sendiri. Arhan duduk di bangku panjang di tengah-tengah lorong sepi. Disandarkannya kepala penuh penat pikiran. Dia memandangi atap-atap plafon penuh hampa. Kenangan tentang malam pertama mereka seketika hancur karena foto masa lalu Alya. Kedua telapak tangan Arhan mengepal geram meredam kekesalan. Bibirnya mengerucut tajam dengan tatapan kesal dia mengumpat, “Aku harus cari tahu siapa R itu! Aku tidak akan biarkan R kembali dalam kehidupan Alya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN