Hening menyelimuti suasana ruang kamar perawatan. Suara televisi bergema memecah keheningan. Mata kosong menatap lurus menonton acara di televisi, akan tetapi mata itu enggan berkedip. Pintu terbuka saat Arhan datang kembali membawa sebungkus kue.
“Udah ganti bajunya?” tegur Arhan berusaha tersenyum.
“Ya,” jawab Alya singkat tanpa menoleh ke arahnya.
Arhan menghela napas berat seraya menarik kursi ke samping ranjang Alya. “Alya, aku ngerti perasaan kamu. Tolong jangan perlakukan aku seperti ini, aku jadi serba salah.” Arhan tak kuasa meluapkan isi kepalanya. Dia tidak mau langkahnya terganjal karena ulah Alya.
Dengan mata kosong yang masih menatap televisi, Alya menjawab, “Aku masih nggak habis pikir kenapa ayah jodohin aku ke kamu? Kenapa juga harus kamu yang mewarisi perusahaan ayah. Kamu tuh pakai dukun apa sih? Kok ayah jadi nurut sama kamu?” Wajah Alya sontak menoleh menampakkan tatapan sinis.
“Astagfirullahalazim, Alya! Demi Allah, aku nggak pakai cara kaya gitu. Aku dan ayah kamu kenal sudah lama. Bahkan aku sudah anggap dia seperti ayah kandung aku. Ayah kamu yang minta aku kerja di perusahaan dia, sejak awal aku jadi asisten dosen,” jelas Arhan membela diri.
Alya menghunus napas kesal lalu ia membuang muka. “Kenapa ayah nggak pernah cerita soal kamu ke aku? Kalau aku tahu, ‘kan aku bisa tolak dari awal,” cetusnya.
Arhan menundukkan wajah Dia merenung sejenak teringat akan wajah inisial R yang diimpi-impikan Alya. Andai saja, ia juga tahu akan dijodohkan, mungkin Arhan juga sungkan menerima tawaran itu. Namun apa daya, perjodohan dan pernikahan itu dilangsungkan saat detik-detik terakhir kepergian ayah Alya.
“Maaf, aku mengerti perasaan kamu. Nggak usah kamu bilang begitu, aku pun sadar diri siapa aku? Sekarang, semua sudah terlanjur. Nggak mungkin kita cepat-cepat akhiri, apalagi aku sudah dibebani tanggung jawab di perusahaan ayah kamu.” Arhan murung seketika merendahkan diri. Dia berkecil hati. Dia jauh dari harapan Alya. Apalah Arhan si pemuda desa ini dibandingkan dengan laki-laki berinisial R itu. Terlebih, kehidupan Alya seperti orang-orang di atas langit. Berbeda dengan Arhan yang membumi.
Alya diam tak bergeming. Dia menekan remote, mematikan televisi lalu bersandar bantal belakang punggungnya.
“Alya, coba bilang ke aku. Aku harus gimana? Aku sudah tolak tawaran menjadi pemimpin perusahaan tapi mereka semua memilih aku,” ucap Arhan membujuk istrinya itu agar banyak bicara.
“Ya, mau gimana? Kalau memang kamu dipercaya sama mereka, aku bisa apa? Kamu nggak tahu ‘kan kenapa aku jatuh di toilet? Itu semua karena cewek-cewek di kantor ngomongin kamu dan jelek-jelekin aku. Coba kamu bayangin, kamu dengar sendiri ada orang yang jelek-jelekin kamu, gimana?” Alya terpancing oleh pertanyaan Arhan. Dengan tetesan air mata ia menceritakan apa yang menimpanya saat di toilet wanita.
Arhan terhenyak mendengar penuturan Alya. Matanya melirik acak seraya berpikir. “Ma-ma-maaf, memangnya kalau boleh tahu mereka bilang apa?” Arhan mencoba mengulik.
Alya menumpahkan air matanya. Dia berusaha tegar. Dengan suara bergetar ia kembali bercerita. “Mereka bilang aku beban ayah, cuma bisa senang-senang, dugem, pokoknya kalau aku pegang, bisa-bisa bangkrut. Dan satu lagi, katanya aku beruntung jadi istri kamu. Soalnya selanjutnya aku bakal ngebebani kamu, bukan ayah lagi.” Alya lanjut menangis sejadi-sadinya.
Arhan menepuk dahi mendengar cerita Alya. Dia menggeleng. Memang apa yang dikatakan orang-orang itu benar. Namun, waktu yang tidak pas membuat Alya mendengar sendiri penuturan itu. Arhan mengehela napas panjang lalu diraihnya telapak tangan Alya.
Alya terdiam membiarkan tangan Arhan meraihnya. Dia menunduk melihat jemari tangan Arhan di atas telapak tangannya.
Wajah Arhan ikut menunduk berusaha menatap mata Alya. Sorot mata berbinar-binar mampu membuat wajah lusu nan tertunduk itu terangkat. Tetes demi tetes air mata mengalir membasahi pipi. Diusapnya pipi chubby kemerahan dengan halus. “Kita patahin omongan mereka. Siapa bilang kamu beban buat ayah kamu? Apalagi buat aku, orang baru dihidup kamu. Biarpun aku yang memimpin perusahaan ayah kamu, aku bakal terbuka kok ke kamu. Jangan khawatir! Aku pasti libatkan semua urusan kantor bareng kamu,” ucap Arhan tersenyum manis menatap Alya.
Sedikit senyum terukir di wajah Alya. Dia mengangguk seraya melepas eratan tangan Arhan dari tangannya. Dia menoleh ke arah lain tak ingin larut dalam suasana. Jauh dalam hatinya masih menolak kehadiran si pemuda desa itu.
“Jadi apa rencana kamu?” tanya Alya bersedekap d**a.
“Kamu jadi sekertaris pribadi aku. Sama seperti yang ayah kamu lakukan ke aku. Aku gantiin posisi ayah kamu, dan kamu gantiin posisi aku,” jelas Arhan masih tersenyum menatap Alya kagum.
Sontak Alya jadi salah tingkah menangkap tatapan itu. Dia menyembunyikan senyum malu-malu. Pipinya merah merona serta bibirnya mengerucut. Alya manggut-manggut berkata, “Okay. Bagus juga ide kamu, tapi aku boleh ‘kan tahu semua tentang kantor? Aku mau tahu laporan keuangan, perencanaan, pokoknya segala hal tentang kantor!”
Arhan tersenyum manis menjawab, “Tentu saja boleh. Kamu ‘kan istriku, aku pasti terbuka kok ke kamu.”
Alya menghela napas menangkis rasa malu. Dia membuang muka menyembunyikan pipinya yang kian memerah. “Ya udah, tidur kamu sana! Pasti capek,” ucap Alya pura-pura ketus.
“Oh, ya udah ayo kita tidur!” kata Arhan sembari menarik selimut Alya lalu ia hendak menempatkan diri satu ranjang bersama.
“Eh, apa-apan nih!” Cegah Alya menepuk bahu Arhan.
“Loh, kata kamu tadi aku disuruh tidur? Gimana sih?” Arhan kebingungan menampakkan wajah lugu.
“Ya jangan di sini dong! Kamu pikir aku udah terima kamu jadi suami aku? Nggaklah! Itu sana, kamu tidur di sana!” kata Alya menunjuk sofa panjang di dekat jendela.
Mengurucut bibir Arhan mendapat usiran itu. Padahal dia berusaha merayu agar dapat tidur seranjang bersama sang istri. Setidaknya ia ingin memeluk tubuh mungil Alya satu malam saja. Agar luntur semua prasangka buruk yang melekat dalam diri Alya terhadapnya.
“Jadi, aku belum diterima sama kamu?” tanya Arhan lugu.
“Ya, belumlah! Nggak gampang,” cetus Alya seraya merebahkan tubuhnya menarik selimut.
“Baiklah, selamat malam,” kata Arhan menutup pembicaraan.
Alya diam tak menanggapi. Ia tak mau menoleh ke arah Arhan. Padahal di balik selimut, ia sedang berusaha terpejam menangkis perkataan Arhan yang sempat membuatnya berbunga-bunga.
***
Satu minggu berlalu usai Alya keluar dari rumah sakit. Di dalam kamar, Alya mengacak-acak lemari mencari pakaian yang cocok untuk ke kantor. Bagi Alya ini adalah hari pertama ia bekerja setelah sekian lama menempuh jalur pendidikan dan berdiam diri di rumah menikmati kekayaan ayahnya.
Pluk! Tiba-tiba buku harianya terjatuh ke lantai. Alya mengernyit seraya mengambil kembali buku itu. “Perasaan aku nggak taro buku itu di sini deh!” gerutu Alya sambil mengambil buku hariannya. Dia berpikir sejenak menerka-nerka sambil memeriksa isi buku. Takut bila seandainya foto kenangan bersama sang mantan hilang. “Oh iya, untung ada!” Alya bernapas lega saat tahu foto mereka masih ada.
Dilihatnya jam dinding menunjukkan tepat pukul setengah tujuh pagi. Gegas Alya menaruh kembali buku hariannya serta baju-baju yang tak ia pakai. Alya berganti pakaian bersiap menjadi sekertaris Arhan di kantor. Dia turun melalui anak tangga seraya memanggil-manggil Arhan. “Mas, Mas Arhan …!” panggil Alya celingak-celinguk.
“Sudah siap kamu?” tegur Arhan yang sudah rapi di depan pintu.
Alya terperangah melihat si pemuda desa. Dia berhenti melangkah menatap hampa Arhan. Dia memakai kemeja biru langit dan celana bahan hitam. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya pun tak mampu menabah kesan maskulin. Sungguh, penampilan yang terlalu sederhana untuk seorang CEO muda.
“Ayo, kok bengong?” tegur Arhan.
“Kamu tiap hari ke kantor begitu?” Alya memandang remeh dari ujung rambut ke ujung kaki.
“Iya, begini. Memangnya kenapa?” Arhan bertanya balik dengan menunjukkan wajah polosnya.
Alya menggeleng seraya bersedekap d**a. Banyak sekali kekurangan Arhan dari sisi penampilan baginya. “Nggak apa-apa, ya udah ayo jalan! Nanti kita telat,” kata Alya ketus sembari melewati Arhan begitu saja.
Di dalam mobil, Alya lanjut mendiamkan Arhan. Raut wajah ketus tak lupa ia pasang sepanjang jalan. Sementara Arhan yang tidak peduli membiarkan ulah istrinya itu. Arhan sudah terbiasa dibuat tidak nyaman.
Sesampainya di kantor, senyum, salam dan sapa menyambut kedatangan mereka. Sengaja Arhan mengajak Alya ke kantor pagi-pagi agar ia merasakan perjuangan mencari uang. Alya yang cuek sengaja sedikit menjauh dari Arhan. Dia malu harus jalan berdampingan pemuda desa itu.
“Pagi, Pak Arhan,” sapa seorang pegawai perempuan tersenyum pada Arhan.
“Pagi,” jawab Arhan balas tersenyum.
Alya bersiap menjawab sapaan pegawai itu, tapi ternyata dia melewati Alya begitu saja. Sial, dia cuma mau godain Mas Arhan doang gitu? Geram Alya dalam hati. Alya menangkis rasa cemburunya lalu ia lanjut membuntuti Arhan dari belakang menuju ruangan mereka. Ketika pintu ruangan tertutup, tinggalah mereka berdua di dalam.
“Udah, gini doang tiap pagi?” sindir Alya seraya menaruh tas laptopnya ke atas meja.
“Ya enggak dong, kita tunggu client nanti ada yang mau ketemu jam sembilan. Makanya aku minta kamu bangun pagi-pagi,” kata Arhan sambil duduk di kursi.
Alya menyandarkan pinggangnya ke ujung meja lalu bersedekap d**a menatap Arhan. “Heran ya, orang kaya kamu ada loh yang godain!” seru Alya menyindir.
Arhan mengernyit menerka maksud perkataan Alya. “Godain? Godain apa?”
“Liat tuh cewek tadi, cuma sapa kamu doang! Aku enggak. Giliran aku senyumin dia malah pergi gitu aja!” Alya mengurucutkan bibirnya.
Arhan tertawa kecil menanggapi kemarahan Alya. “Jadi kamu marah gara-gara itu? Kamu kesel? Apa kamu cemburu?”
“Ih, ngapain banget cemburu sama kamu!” cetus Alya lalu duduk membuka laptop dengan wajah menekuk.
Arhan menarik napas panjang lalu menarik kursi ke meja Alya. Dia duduk memandang wajah murung yang enggan tersenyum. Sejak pertama ijab qobul terucap, belum pernah Arhan melihat senyum manis di wajah sang istri.
“Kamu mau liburan nggak?” tanya Arhan.
“Ke mana?” jawab Alya cemberut sambil terus menatap layar laptop.
“Ke kampung halaman aku. Kebetulan, kamu belum ketemu sama ibu aku. Di sana banyak tempat wisata. Nanti kita jalan-jalan ke sana. Gimana?” bujuk Arhan.
Merenggang kerut-kerut di dahi Alya. Dia menjauhkan jemari tanganya dari keyboard. Lalu perlahan menghadap Arhan. “Boleh,” jawabnya singkat. Arhan pun tersenyum manis mendapati jawaban Alya. Akhirnya ada kesempatan bagi mereka berbulan madu. Arhan akan terus berusaha menanam benih-benih cinta dalam hati Alya sampai memorinya bersama sang mantan, terhapus.