Si Perempuan Berpakaian Sopan

1769 Kata
Jalan berliku tertutup kabut mengurangi jarak pandang sepanjang perjalanan. Kiri-kanan pohon-pohon besar rindang menutup langit membuat jalanan menjadi gelap. Padahal waktu menunjukkan pukul dua belas siang. “Kok semakin jauh, semakin gelap sih? Mau kemana kita sebenarnya? Aku belum pernah loh ke daerah ini!” gerutu Alya celingak-celinguk melihat pemandangan di luar. “Pulang ke kampung aku, kira-kira tiga jam lagi kita sampai,” jawab Arhan tersenyum menenangkan. Berbekal peta digital mereka nekad berangkat pagi-pagi dari rumah menuju kampung halaman Arhan. Dua jam berlalu keluar dari tol melalui jalan-jalan perkampungan tidak dikenal. Menelusuri hutan pinus, menyebrangi jembatan di atas sungai, semua terasa seperti petualangan. Namun tidak bagi Alya, dia nampak bosan. Wajah kecut, dahi mengkerut serta bibir mengerucut. Dia bersandar di kaca sambil memainkan ponselnya. “Di rumah kamu ada siapa?” tanya Alya. Matanya terpaku menatap ponsel. “Ada ibu aku. Dia tinggal sendirian di sana.” Arhan lanjut menatap lurus ke depan mengendalikan setir mobilnya. “Anaknya cuma kamu doang?” Alya mencoba mengulik membuka pembicaraan. “Ya, cuma aku. Bapak sudah meninggal waktu aku kelas enam SD. Ibu memilih jadi single parent sampai sekarang,” jelas Arhan tersenyum. Alya menghela napas panjang seraya memperbaiki posisi duduknya. Dia mengangguk-angguk memahami cerita Arhan. Dalam pikirannya menerka-nerka jika dulu saat ayahnya menjadi dosen, mungkin kasihan melihat keadaan ekonomi Arhan. Semangat juangnya bertahan membuat ayah Alya bersimpati dan ingin memiliki anak seperti dia. Alya terdiam sejenak, tak mau mengulik lebih dalam lagi. Dia menunggu sampai ke tempat tujuan agar tahu keadaan Arhan sebenarnya. Tiga jam berlalu setelah melewati hutan, sawah dan sungai, mereka pun sampai di sebuah desa di atas bukit. Kabut disertai rintik-rintik hujan menyambut kedatangan mereka. Arhan membukakan pintu untuk Alya sembari membuka jaketnya. “Ayo turun!” ajak Arhan sembari mengangkat jaketnya ke atas kepala. Alya menundukkan kepala di bawah jaket Arhan. Mereka berjalan cepat menuju pintu sebuah rumah sederhana. Angin bertiup membawa udara dingin menusuk kulit. Bergidik seketika membuat bulu kuduk Alya berdiri. Rupanya kaos berbahan katun dan celana jeans pendek tak mampu menghalau dingin. Alya bersedekap menyilangkan tangan ke kedua bahunya. “Mas, mana ibu kamu? Cepetan buka pintunya, dingin tau!” perintah Alya dengan bibir bergetar menggigil. “Sabar, aku udah panggil. Ibu pasti keluar,” kata Arhan tersenyum manis. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintu. “Nak, Arhan! Alhamdulilah, kamu pulang juga akhirnya.” Ibu tersenyum sumringah. Dipeluk dan diciumnya Arhan begitu erat. “Bu, perkenalkan ini istriku. Namanya Alya, anaknya pak Hendra.” Arhan memperkenalkan Alya yang berdiri tertegun di sampingnya. “Alya, ini ibu!” Arhan menyentuh bahu Alya. Alya tersenyum getir seraya menundukkan kepala meraih tangan ibu Arhan. “Masha Allah, cantik sekali anak perempuan ibu.” Ibu membelai halus dari pucuk rambut sampai bahu Alya. “Makasih, Bu.” Alya tersenyum terpaksa. Ibu menghiraukan balasan Alya yang terkesan kecut dan jutek itu. Dia hanya bisa tersenyum meringis sambil melempar pandangan heran tertuju pada Arhan. Arhan pun menangkap bahasa isyarat ibunya. “Alya capek, Bu. Katanya jauh banget,” sangkal Arhan seraya merangkul bahu Alya dari samping. “Oh begitu toh, mari masuk! Anggap saja rumah sendiri, Nak Alya!” Ibu membuka lebar pintu mempersilahkan Arhan dan Alya masuk. Sebuah rumah sederhana dengan tiga kamar tidur dan dapur yang luas. Ruang tamu berisikan kursi jati dengan anyaman terukir menambah kesan tradisional. Foto-foto keluarga yang terpajang di dinding nampak lusuh. Alya mengitari pandangan. Sedikit senyum terukir di ujung bibirnya. Dia menunduk sejenak menyembunyikan rasa kagum akan kesederhanaan keluarga kecil Arhan. “Kalian sudah makan?” tanya ibu Arhan. Alya menggeleng. “Belum, Bu. Soalnya kami mau buru-buru sampai,” jawab Arhan. “Ya Allah, pasti kalian lapar. Mari makan dulu!” Ibu Arhan gegas mempersilahkan anak dan menantunya itu menuju ruang makan. Arhan dan Alya pun membuntuti ibu dari belakang. Ibu duduk lebih dahulu lalu membuka tudung saji. Semangkuk besar sop ayam dan goreng tempe-tahu menyambut kedatangan mereka. “Silahkan, anak-anakku! Maaf ibu cuma bisa masak ini buat kalian,” ucap ibu dengan sorot mata berbinar-binar. Rasa senang tak terkira memuncak dalam hati ibu. Dia tersenyum lebar saat Arhan lahap menyantap masakannya. “Loh, kamu lapar apa doyan?” ledek ibu. “Dua-duanya Bu,” jawab Arhan sambil terus menyuapi nasi ke dalam mulut. “Ah kamu ini! Memangnya Alya nggak masakin kamu apa?” Ibu lanjut meledek. Tersentak Alya mendengar pertanyaan ibu. Bisik-bisik dalam hatinya menggelitik, mengatakan jika pertanyaan itu adalah ejekan. Semakin tertekuk wajah Alya, ia pun membuang muka sejenak. Arhan sadar Alya terlalu menunjukkan rasa tidak sukanya. “Oh, tentu dong! Alya buatin sarapan setiap pagi buat aku. Tapi ‘kan kalau masakan ibu nggak tiap hari aku makan,” sangkal Arhan tersenyum. Sengaja ia mengambil alih, terpaksa berbohong. Arhan ingin berhasil membuat Alya jatuh cinta padanya. “Wah, senangnya kalian akur! Eh, ibu tinggal sebentar ya. Lupa tadi ada janji mau ke balai desa.” Ibu beranjak bangkit dari kursinya lalu meninggalkan mereka berdua. Suasana mendadak berubah menjadi sepi. Alya menyuapi makanan itu sedikit demi sedikit. Sesekali ia mengaduk-aduk nasi di atas piring karena tak berselera. Dia menghunus napas kesal sambil menaruh melepas sendok dari eratan tangannya. “Ada yang jual apa gitu di sini?” sungut Alya memancing Arhan bicara. “Nggak ada,” jawab Arhan singkat lalu terus melanjutkan makan. “Masa sih nggak ada? Ya udah, aku mau masak mie aja,” cetus Alya kesal. “Makan saja yang udah di masak ibu. Memangnya kenapa sih kamu? Ini enak tau!” kata Arhan sambil menaruh satu centong nasi ke atas piringnya. Alya bersedekap d**a seraya menyandarkan bahu ke sandaran kursi. “Makanan ini enak, tapi dengar omongan ibu kamu begitu jadi nggak enak!” ketus Alya. Arhan meletakkan sendok dan garpunya perlahan. Ditatapnya Alya serius berkata, “Alya, ibu bilang begitu biar kamu jawab bukannya diam. Tolonglah sekali saja, hargai aku di depan ibu. Kalau nggak, bisa ‘kan kamu pura-pura? Biar ibu aku senang.” Alya kembali memperbaiki posisi duduknya. Dia meraih sendok dan garpu lalu kembali menyuap. Alya mengakui kesalahanya tanpa harus meminta maaf. Bagi Alya, bukan begitu caranya bila ingin mengajak menantu bicara. Pertanyaan itu seperti sindiran pedas yang tak layak didengar. Dari balik tembok suara mereka terdengar samar-samar di telinga ibu. Ibu tak sengaja melihat mimik wajah mereka saling bertekuk, murung. Segala tanya dalam benak ibu berkecamuk. Rasa ingin tahunya besar saat melihat tatap Arhan begitu memohon pada istrinya. Segera ibu mengambil tasnya yang tertinggal di dalam kamar lalu pergi. Sepanjang perjalanan menuju balai desa, ibu termenung memikirkan anak-menantunya. Bohong bila ia tak ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Mungkinkah Alya tidak suka masakannya? Atau ada sesuatu yang kurang? Ibu terus saja menerka-nerka mencari cara agar menantunya itu bisa bicara tentang banyak hal. Sementara di dalam rumah, Arhan mencuci piring bekas makan Alya. Dilihatnya sisa nasi dan sayur masih penuh. Arhan hanya bisa menghunus napas kesal menahan marah. “Mas Arhan, nanti kita tidur di mana?” tanya Alya dari tempat duduknya. “Di kamar aku,” jawab Arhan singkat. “Berdua? Seranjang?” Alya memastikan. “Ya, begitu.” Arhan menaruh piring ke atas rak lalu mengelap pergelangan tangannya. “Memangnya kamu mau tidur di kamar lain sendiri? Kalau malam di sini, suka mati lampu. Nanti gelap, terus dingin. Memangnya kamu berani?” Arhan meledek Alya. Dia menaikkan sebelah alisnya memberi kode tantangan. “Ya nggak berani lah, aku! Mau nggak mau tidurnya sama kamu. Tapi untuk di sini aja ya!” cetus Alya kesal. “Nah, itu tau! Lagian kalau kita pisah kamar, nanti apa kata ibu?” Arhan menarik koper dan barang bawaan mereka ke dalam kamar. Alya mengikuti Arhan ke kamar depan. Di belakang Arhan, ia sembunyikan senyum-senyum kecil dan sorot mata yang berbinar-binar. Alya senang datang ke kampung halaman Arhan yang begitu sejuk nan asri. Ditambah makanan enak dari ibu mertua membuatnya rindu akan masakan seorang ibu. Namun, kesombongan dalam diri Alya enggan luntur. Hingga malam menjelang, ibu baru pulang dari balai desa. Di dalam dapur Arhan menyiapkan makanan dibantu Alya yang merapikan meja. Sontak pemandangan itu menangkis kekhawatiran ibu selama meninggalkan mereka di rumah. “Wah, kalian masak?” kata ibu sambil melihat isi meja makan. Ada ayam goreng beserta lauk-pauk sudah matang tersaji. Alya gelagapan salah tingkah. Dia tidak tahu harus berkata apa, karena semua masakan itu Arhan yang buat. “Iya, Bu. Ini semua masakan Alya. Katanya masakan ini buat ibu.” Arhan menaruh sepiring tumis kangkung seraya menyenggol lengan Alya. Dia memberi isyarat agar Alya bicara lebih banyak lagi. “Eh iya Bu, aku bu-bu-buatin masakan ini buat ibu. Sebagai tanda perkenalan,” imbuh Alya gugup keringat dingin. Merekah senyum ibu mendengar suara Alya bertutur begitu lembut padanya. Tubuh ramping semampai, kulit putih mulus serta wajahnya yang ayu seperti bidadari membuat ibu bersyukur dalam hati. “Nak Alya, duduk di sini!” Ibu menepuk-nepuk bangku di sebelahnya. Alya melirik bingung ke arah Arhan. Arhan pun mengangguk tersenyum. Alya menarik napas lalu ia duduk di samping ibu. Jantungnya berdebar lebih cepat saat duduk bersebelahan dengan ibu. Titik-titik keringat dingin bermunculan di dahi. Setelah sekian lama ia haus akan sosok orang tua perempuan, akhirnya kini ia bisa merasakan makan bersama ibu. Meski dia bukanlah ibu kandung Alya. “Maaf ya, ibu ninggalin kalian tadi siang. Maklum, ibu aktif di kegiatan sosial jadi harus siap dipanggil kapan saja,” ujar ibu membuka pembicaraan. Alya tersenyum santun pada ibu. Ibu pun lanjut bercerita tentang masa kecil Arhan. Dia bercerita masa-masa pahit menjadi orang tua tunggal. Hingga akhirnya Arhan diterima di universitas ternama dan bertemu dengan ayah Alya. “Assalamualaikum ….” Suara dari ruang tamu sontak menghentikan cerita tentang masa lalu Arhan. Suara wanita muda itu terdengar mendekat menuju ruang makan makan. Alya celingak-celinguk memperhatikan seorang wanita bergamis ungu muda dan berjilbab ungu gelap. Tubuh ramping, berwajah teduh, lesung pipit di pipinya nampak saat melihat Alya duduk di sebelah ibu Arhan. “Assalamualaikum Mas Arhan, Bu,” sapa wanita itu. “Walaikumusalam. Eh Nak Tari, tumben mampir,” jawab ibu tersenyum. “Iya Bu, kata orang-orang Mas Arhan pulang. Jadi aku sengaja mampir ke sini.” Ya, wanita berkerudung itu bernama Tari. Dia melangkah mendekati meja makan. Matanya tertuju pada Arhan yang tertunduk sambil menyantap makanan. Wajahnya memerah ranum, tersipu malu. Dia menarik kursi lalu duduk di samping Arhan. Tersentak Alya melihat perempuan berpenampilan sopan itu justru lancang menempati diri. Apa yang ia kenakan di badannya tidak sesuai dengan kelakuannya. Semestinya ia tahu bahwa seorang wanita muslim tidak boleh berdekatan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Lirik sinis serta napas kembang-kempis menahan emosi. Gagang sendok lurus perlahan membengkok dalam genggaman Alya. Siapa nih cewek kurang ajar banget langsung lancang duduk di situ!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN