Hubungan Rumit Sahabat Lama

1514 Kata
“Mas Arhan, baru sampai?” tegur Tari lebih dahulu. “Iya,” jawab Arhan singkat lalu lanjut menyantap makanan. Di seberang meja, mata sinis serta wajah murung tertuju pada Tari. Tari pun balas tersenyum santun menyapa, “Hai Mbak, temannya Mas Arhan?” “Bukan, saya istrinya,” cetus Alya. “Istri?” Alis mata Tari naik sebelah. Seketika suasana menjadi canggung. Wajah ceria si perempuan berpakaian sopan itu nampak kebingungan. Dahinya mengernyit lalu ia melirik tertuju pada ibu Arhan. Ibu menangkap isyarat Tari. Dia gelagapan salah tingkah. Tidak tahu harus mulai darimana menjelaskannya. Tangannya mengetuk-ketuk kecil meja makan sambil menggigit bibir. “Iya, istri. Ini menantu ibu, namanya Alya,” ucap ibu seraya merangkul Alya dari samping lalu mengusap-usap pucuk kepala Alya. “Gimana? Cantik ‘kan anak perempuan ibu?” Ibu tersenyum sumringah berbagi padangan pada Alya dan Tari. “Makasih Bu,” kata Alya tersenyum seraya bersandar di bahu ibu. Sengaja ia lakukan itu agar menambah panas d**a si perempuan berpakaian sopan itu. “Loh, memangnya kapan kalian menikah? Kok aku nggak diundang?” tanya Tari tersenyum getir. Dia sedikit menggeser kursinya menjauh dari kursi Arhan. Dia malu sendiri karena merasa sok akrab. Arhan meletakkan garpu dan sendok yang dipegangnya. Dia menenggak segelas air putih lalu menjawab dengan tenang, “Kira-kira satu bulan yang lalu. Aku sengaja nggak bikin pesta besar-besaran di sini, karena kerjaan aku di Jakarta sibuk banget. Jadi, nggak tahu kapan bisa bikin pesta.” Ibu bernapas lega mendengar penuturan Arhan yang begitu lancar. Alya pun tersenyum simpul menunjukkan raut wajah tidak suka. “Aduh, aku jadi nggak enak sama Mbak Alya! Dateng-dateng udah langsung duduk di samping Mas Arhan,” kata Tari bergelagat salah tingkah. “Maklum Alya, Tari sama Arhan ini udah sahabatan dari kecil. Kemana-mana sering bareng, cuma pas lagi kuliah, mereka pisah. Arhan di Jogja, Tari di Malang,” jelas ibu Arhan sembari menuangkan air putih untuk Alya. Tak lupa, segelas air putih ia sajikan untuk Tari. Alya manggut-manggut setelah mendengar penjelasan ibu. Dia kembali menyantap makanan seolah tak mau ambil pusing siapa sebenarnya Tari. Toh, baginya perempuan itu hanyalah orang biasa yang ingin bertamu. “Iya Mbak, kita udah barengan terus dari kecil. Sejak Mas Arhan kerja di Jakarta, dia jarang pulang, jarang telepon saya juga. Eh nggak taunya, pulang-pulang sudah membawa pujaan hati,” ujar Tari tersenyum meringis. “Ya ngapain juga sih, aku telepon kamu Ri? Kita ‘kan bukan anak kecil lagi yang kemana-mana harus bareng.” Arhan beranjak dari kursi sambil mengambil piring-piring bekas ibu dan Alya. Tari tersenyum meringis menutupi rasa malu. Sementara Alya mengernyit sembari menghela napas panjang. Duduk diantara orang-orang asing, mendengarkan percakapan tak penting membuatnya pusing. “Bu, saya permisi pamit ke kamar ya! Nggak enak badan nih,” ucap Alya berasalan. Dia beranjak dari kursi lalu masuk ke kamar. Tari menyadari bahwa kehadirannya tidak disukai Alya. Ditatapnya punggung mungil nan mulus dari belakang. Pandangan Tari tak lepas sampai Alya masuk ke kamar depan. Dia sedikit bernapas lega seraya menyandarkan bahu ke sandaran kursi. “Tari, lain kali kalau mau masuk tunggu dibukain pintu dulu! Jangan asal masuk,” kata Arhan sambil mencuci tangan di wastafel. “Maaf, aku biasa panggil ibu kamu langsung cari ke dapur. Jadinya kebiasaan,” jawab Tari malu-malu. “Ya sudah nggak apa-apa. Kalian kalau mau ngobrol di ruang tamu sana! Ibu mau cuci piring dulu.” Ibu beranjak bangkit dari kursinya. Tari dan Arhan pun berpindah tempat dari ruang makan ke ruang tamu. Sambil berjalan, Tari bertanya lebih dahulu tentang kabar dan keseharian Arhan. Dia membuntuti dari belakang seraya menyembunyikan senyum malu-malu. Dari balik pintu kamar, Alya menguping pembicaraan mereka. Sesekali ia melihat jam dinding memastikan berapa lama mereka mengobrol. Sengaja ia tarik kursi dari meja belajar Arhan. Alya melihat wajah sumringah serta pipi ranum kemerahan di perempuan itu dari celah yang sedikit terbuka di balik pintu. Sementara Arhan menanggapinya santai. Dia menjawab sekedarnya, menjaga diri. Apa sih yang mereka bicarakan? Nggak jelas banget! Semuanya tentang masa lalu mereka, keluh Alya dalam hati. Diam-diam dia menyimpan rasa cemburu melihat Arhan dan Tari yang begitu akrab. “Maaf Mas Arhan, aku mau tanya kamu kenal Alya di mana?” Tari mulai berani bertanya. “Di kantor,” jawab Arhan singkat. “Secepat itu ya, kamu bisa mutusin nikah sama orang yang kamu kenal?” Dengan raut wajah takut-takut, Tari mengulik lebih dalam lagi. “Ya namanya juga jodoh. Siapa yang tahu sih,” jawab Arhan santai. Tari mengutik jemari tangannya yang berpangku di atas paha. Dia kehabisan kata-kata untuk bertanya lebih jauh lagi. Dia tersenyum getir seraya menampakkan wajah penuh harap. Mata berbinar-binar terpaku, tertuju pada Arhan berkata, “Ya sudah kalau begitu. Semoga kalian bahagia ya, sampai mau memisahkan. Aku pamit dulu.” Tari beranjak berdiri dari kursinya. Arhan tersenyum mengangguk lalu mengantarnya sampai di depan teras. Dia tersenyum manis melambaikan tangan. Tari pun berlalu pergi dengan sepeda motor maticnya. “Udah, nostalgianya?” tegur Alya yang diam-diam berdiri di belakang Arhan. Arhan tersentak melihat Alya tiba-tiba di belakangnya berdiri bersedekap d**a. “Pakaiannya nggak mencerminkan sikapnya ya! Berani banget dia masuk tanpa dipersilahkan dulu,” sindir Alya sinis. “Ya maklumin, namanya juga teman lama. Dia memang biasa begitu kalau nyariin ibu. Dia takut terjadi apa-apa sama ibu, soalnya ibu ‘kan udah tua,” sangkal Arhan. “Loh emang dia nggak lihat di depan ada mobil kita? Tadi dia juga bilang tahu kamu datang pas ketemu ibu di balai desa. Harusnya dia tau dong!” cecar Alya dengan suara meninggi. Suara lantang itu terdengar menggema memecah keheningan malam. Di desa sunyi yang ditinggali beberapa rumah saja, sontak menarik perhatian orang. Arhan melihat ke sekeliling, memastikan agar tidak ada tetangganya yang keluar rumah. “Sshh … Alya, jangan kenceng-kenceng ngomongnya, malu!” ucap Arhan suaranya berbisik. Mengernyit dahi Alya mendapat teguran itu. Dia berbalik badan lalu kembali menuju kamar tidur. Arhan membuntuti Alya dari belakang. Ditutupnya pintu kamar rapat-rapat lalu ia dekati istrinya yang duduk di atas ranjang. “Alya, kamu kenapa sih? Cemburu?” Arhan duduk di samping Alya. “Nggak tuh, biasa ajah!” cetus Alya membuang muka. “Kalau biasa ajah, nggak perlu teriak-teriak begitu. Di sini, di atas bukit. Kamu ngomong kenceng dikit ajah bisa kedengeran ke mana-mana.” Arhan menasihati Alya. “Tujuan kamu ngajak aku kesini untuk apa sih? Biar aku tahu gitu, kalau di sini kamu ada yang naksir? Biar aku tahu kalau kamu punya mantan pacar yang lebih baik daripada aku???” Alya balik mencecar sinis ucapan Arhan. “Mantan???” Arhan menaikkan kedua alis matanya. Dia tidak mengerti kenapa Alya bisa-bisanya menganggap Tari adalah mantannya. “Iya, si Tari itu mantan kamu ‘kan?” Alya terus mencecar. Arhan bertolak pinggang seraya menengadahkan wajah ke atas. Dia tersenyum remeh berkata, “Kamu dengar nggak tadi ibu bilang apa? Dia sahabat aku, kita berteman sejak kecil, kemana-mana kita sering bareng.” “Nggak ada yang namanya sahabat antara perempuan dan laki-laki. Pasti ada perasaan!” tegas Alya tak mau kalah. Arhan melepas eratan tangan dari pinggangnya. Dia menggeleng lalu menepuk dahi. Tak habis pikir jika obrolan mereka berujung kecemburuan di hati Alya. Alya pun tidak bisa menyembunyikan kekesalannya itu meski rasa cinta untuk Arhan belum tumbuh sempurna. “Kenapa? Kenapa diam? Pasti benar ‘kan omongan aku.” Alya terus mengejar jawaban Arhan. Lemas rasanya tubuh Arhan seketika mendengar ocehan Alya seperti gadis tanggung yang sedang dilanda amarah. Dia menaikkan kedua bahunya tak sanggup berkata-kata. Jika dijawab atau dijelaskan lebih panjang lagi urusannya. “Aku keluar dulu deh! Mumet kepalaku!’ Arhan yang kesal menarik gagang pintu kamar keras-keras. Tak sadar, di balik pintu ternyata ada ibu yang berdiri tertegun hendak mengetuk pintu. Dia pun tersentak, gugup melihat raut wajah Arhan dan Alya bak banteng bertanduk. Seketika lidah ibu keluh gelagapan. “Loh Bu, a-a-ada apa?” tanya Arhan gugup. “Itu Han, Tari … Tari,” ucap ibu gelisah. “Tari? Tari kenapa, Bu? Tari sudah pulang dari tadi,” kata Arhan seraya memegang kedua bahu ibu. Ibu menunduk sejenak lalu kembali mengangkat wajahnya berkata, “Tari kecelakaan, Arhan. Tadi ibu dapat telepon dari kakaknya. Sekarang sedang penanganan di rumah sakit.” Reflek Arhan mengambil jaket dari balik pintu lalu memakainya. “Rumah sakit mana, Bu? Biar aku ke sana sekarang.” Arhan beranjak keluar kamar mengambil kunci motor di atas meja televisi. Alya membuntuti Arhan dari belakang tanpa berkata-kata. Dia tercengang melihat sikap suaminya yang seketika sigap. “Arhan, ini sudah malam. Besok ajah kita jenguk ke sana,” cegah ibu seraya berjalan mendekati Arhan. “Nggak apa-apa Bu, aku nggak enak sama dia. Soalnya dia habis dari sini,” sangkal Arhan. Ibu menghela napas panjang seraya menunduk membuang muka. Dia jadi merasa tidak enak hati pada Alya. Alya hanya diam mematung melihat kegelisahan Arhan. Arhan meraih tangan ibu seraya pamit berkata, “Bu aku pergi dulu sebentar. Tolong jaga Alya ya!” Ibu mengangguk mengiyakan permintaan Arhan. Tercengang. Alya diam mematung melihat punggung tegap suaminya itu perlahan hilang menjauh. Ya, sekarang Alya tahu apa jawabanya. Sikap Arhan telah memberinya petunjuk bahwa mereka sedang dalam hubungan yang rumit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN