Buah Simalakama Si Pemuda Desa

1184 Kata
“Tari!” Arhan langsung duduk di kursi samping ranjang tempat Tari berbaring. Tari tersenyum lemah menahan rasa sakit. Sebagian kaki Tari diperban. Siku tangan dan wajahnya terluka memar lengkap dengan goresan-goresan yang membekas. Dia menatap Arhan payah. Napasnya pun tersengal-sengal. “Kamu, kenapa bisa begini?” Arhan menatap Tari penuh cemas. “Nggak tahu, aku nggak ingat. Tau-tau, aku terperosok jurang,” jawab Tari dengan suara lemah. “Ya ampun, kamu harusnya lebih hati-hati lagi. Sudah malam, gerimis, kamu harus fokus berkendara, apalagi penerangan di jalanan kampung kita masih minim,” ujar Arhan seraya mengusap lengan Tari. “Gimana mau fokus sih, kalau keadaanya begini?” ucap Tari dengan tatap hampa pada Arhan. “Hah?” Arhan mengernyit, tidak mengerti maksud Tari. Tari tersenyum getir lalu ia menatap langit-langit rumah sakit. Setetes air mata membasahi kedua pipi. Perlahan ia kembali menolehkan wajah ke sahabat laki-lakinya itu. “Goresan luka di tubuhku, akan sembuh seiring berjalanya waktu. Tapi tidak dengan goresan luka dalam hati yang aku rasakan sendiri. Bahkan kamu tidak pernah menyadari itu, Arhan,” ucap Tari lirih. Bibirnya bergetar mengiringi tetes demi tetes air mata yang mengalir. Arhan tertunduk memalingkan muka. “Maaf, aku semakin nggak ngerti apa maksud kamu,” sangkalnya. “Aku mencintaimu, Mas Arhan sejak SMP. Aku pikir kamu juga merasakan hal yang sama. Dalam bayanganku, aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyatakan perasaanmu di waktu yang tepat. Tapi nyatanya, itu tidak pernah terjadi. Takdir tidak berpihak padaku. Justru kamu memilih perempuan cantik itu.” Dengan mata berkaca-kaca serta senyum getir, Tari mengungkapkan isi hati yang ia pendam sejak masa remaja. Bagai tersambar petir di siang hari bolong. Mendengar pengakuan cinta dari sahabat lamanya membuat Arhan tak dapat berkutik. Ternyata kebaikan serta perhatian yang pernah ia lakukan untuk Tari disalah artikan. “Maaf Tari, aku tidak pernah menyangka kalau selama ini kamu menyukaiku. Padahal kamu sudah aku anggap seperti saudara sendiri,” kata Arhan mengangkat wajahnya perlahan. Tari menghela napas panjang. Kembali ia tatap hampa langit-langit kamar rawat inap. Benaknya mengajak kembali ke masa lalu mengingat manisnya kebersamaan mereka. Namun sekarang semuanya musnah. Kenyataan yang ia hadapi terasa pahit. “Benar ya, kata orang-orang kalau laki-laki itu pasti lihat fisik untuk memilih pasangan.” Tari berujar kacau. Pikiranya melayang jauh tak karuan. “Me-me-memangnya kenapa? Apa salah kalau aku suka perempuan cantik?” Arhan dibuat gugup akan pernyataan Tari. Tari kembali menoleh lalu tersenyum manis pada Arhan. “Nggak juga kok, tapi aku jadi mikir orang seperti Alya kenapa memilih kamu jadi suaminya? Dia cantik, kaya raya, pasti banyak laki-laki mendekatinya. Kenapa dia malah memilih kamu?” Pertanyaan Tari seakan mendesak Arhan untuk bercerita lebih banyak tentang pernikahan mereka Sementara bagi Arhan, dia tidak bisa menceritakan secara gamblang begitu saja pada Tari, meskipun dia sahabat lamanya. Terlebih cinta Alya padanya masih dalam tahap belajar. Arhan pun mengalihkan wajahnya. Dia mengitari pandangan ke sekitar ruangan, lalu menarik napas panjang. Dalam hatinya menyiapkan jawaban tepat agar Tari tidak banyak bertanya. “Kalau soal itu, kita mana tahu sih? Itu sudah takdir. Semua Allah yang menentukan,” jawab Arhan tersenyum manis. “Kenapa sih kamu nggak kasih tahu aku kabar bahagia kalian? Pernikahan kalian juga terkesan mendadak.” Tari terus menyisipkan pertanyaan tersirat itu di setiap ucapannya. “Kan aku sudah bilang kalau aku sibuk banget di Jakarta. Bahkan aku juga nggak tahu kapan bisa pesta.” Arhan membentengi diri. Dia berhati-hati agar tidak terpancing menjelaskan alasan pernikahan mereka. Saat tetesan air mata berhenti mengalir di pipi Tari, di saat itulah sorot penuh tanya tertuju pada Arhan. Rasa keingintahuan begitu besar terus menggelitik dalam hati Tari. Dia tidak bisa terima begitu saja jawaban yang menggantung. Tari jadi semakin curiga akan pernikahan mereka. “Mas Arhan, kita kenal sudah lama. Semua berubah sejak kamu bekerja di Jakarta. Kita jadi jarang ngobrol, bahkan sekedar tanya kabar pun enggak. Aku merasa kamu berbeda, apa semua itu karena kamu sudah kenal Alya?” desak Tari. “Tidak, aku cuma sibuk. Aku nggak ada niat buat menjauh dari kamu. Buktinya sekarang aku jenguk kamu, ‘kan?” Arhan langsung menepis prasangka Tari. “Maaf Mas Arhan, apa sebenarnya Alya sedang hamil makanya kamu harus buru-buru menikahinya?” Seolah tidak peduli pada tubuhnya yang terluka. Tari terus menguliti tentang pernikahan Arhan dan Alya. Jauh dalam lubuk hatinya ia masih tidak terima akan kenyataan itu. “Tidak Tari, aku dan Alya benar-benar saling mencintai karena kita dari awal sepakat buat terus kerja bareng tanpa harus pisah,” sangkal Arhan tersenyum. Dia tetap tenang menghadapi prasangka buruk sahabat lamanya itu Tari mengangguk-angguk. Dia memahami sampai di pertanyaan terakhir. Semakin ia bertanya, semakin ia sakit. Dia tidak akan menemukan jawaban yang ia mau. Mata Tari tersorot penuh harap pada Arhan. Dalam keadaan terkulai lemah, Tari masih memendam harap pada Arhan. “Mas Arhan, kalau kamu lagi kecewa sama Alya, lagi suntuk sama keadaan, aku siap mendengar semua cerita kamu seperti dulu lagi. Bahkan aku siap menjadi yang kedua jika kamu mau.” Tersentak Arhan mendengar perkataan Tari. Seperti tersambar petir di siang hari bolong. Gadis sopan yang ia kenal bisa mengucapkan hal senekat itu. Dia menunduk sejenak merenungi diri. Apakah sebenarnya yang ia lakukan salah? Bahkan Arhan sendiri tidak tahu perasaannya terhadap Tari. Di satu sisi ia harus menjaga wasiat yang telah dimandatkan, bahwa ia harus menjadi suami Alya. “Tidak Tari, kamu pembicaraan kita sudah terlalu jauh,” ucap Arhan menampakkan wajah getirnya. “Tujuanku datang ke sini untuk memastikan kamu baik-baik saja.” “Tidak!” bantah Tari cepat. “Aku tidak baik-baik saja. Sebenarnya aku tahu kamu pulang bersama istri kamu dari ibu, makanya aku sengaja datang dan masuk ke dalam tanpa izin,” lanjutnya sambil berurai air mata. “Aku cuma mau tahu seperti apa istri kamu? Kenapa kamu memilih perempuan seperti dia? Apa kurangnya aku?” Suara lirih itu menggema di ruang sepi nan sunyi. Melihat sahabatnya larut dalam emosi, Arhan hanya bisa menghela napas panjang. Kalau saja dia jelaskan kejadian sebenarnya, mungkin Tari akan lebih jauh menaruh harapan padanya. Padahal, Arhan sudah menaruh hati pada Alya. Dia yang sedang mengusahakan agar Alya jatuh cinta padanya dan berharap mereka bisa saling mencintai. “Sudah malam Tari, kamu harus istirahat. Jangan berpikir macam-macam! Aku yakin, pelan-pelan kamu pasti bisa menemukan laki-laki yang tepat. Meski bukan aku laki-laki itu,” pungkas Arhan seraya beranjak berdiri dari kursinya. Tari terdiam membiarkan sahabat lamanya itu beranjak bangkit. Tatap penuh harap kian mengiba saat Arhan perlahan membalikkan badanya. Arhan terus berjalan meraih pintu di depan sana. Tanpa berkedip Tari memandangi punggung Arhan yang menghilang dari balik pintu. Lorong panjang bangsal rumah sakit terasa sunyi sepi. Penerangan remang-remang mengiringi langkah kepergian Arhan. Ada satu di antara lampu-lampu itu berkedip-kedip seperti ingin mati. Arhan berhenti di bawah lampu yang berkedip. Tanganya mengepal geram menepis amarah bercampur kesedihan. Pikiran kacau berkecamuk dalam kepala. Segala tanya dalam benak Arhan berbisik menggoyahkan hati. Kilas balik tentang keputusannya pada waktu itu membuat logikanya berpikir keras. Kenapa? Kenapa aku malah menyukai Alya, gadis nakal yang gemar mabuk di tempat hiburan malam? Kenapa aku tidak ada rasa pada gadis baik-baik saja seperti Tari? Dan, kenapa baru terpikirkan sekarang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN