Bab 3 Namamu Donita

1743 Kata
Perguruan kungfu milik Steven tengah berduka cita, sebab mereka gagal menyelamatkan Yolanda dan Mona. Semua aktifitas di sana berhenti, tapi penjagaan diperketat, agar Norman tidak bisa melakukan penyerangan demi mendapatkan bayinya Yolanda. Perguruan ini terdiri dari rumah utama tempat tinggal Steven, Almira, Juan, dan Bethel. Lalu gedung bertingkat lima untuk tempat latihan, mess para murid, ruang administrasi, ruang rapat guru, dapur siswa, ruang guru, dan perpustakaan. Kemudian ada halaman besar yang terbagi dua. Satu untuk tempat latihan, lainnya taman. Di taman tersebut terbangun danau buatan yang diisi dengan ikan-ikan air tawar untuk dikonsumsi seluruh warga di perguruan. Di depan gedung, ada halaman untuk tempat parkir tamu dan keluarga siswa. Di kiri kanan halaman ditanami tanaman hias dan pohon rindang. Semua bangunan perguruan dibikin seperti bangunan perguruan kungfu Cina kuno. Bisa dimaklum sebab Steven lahir dari Samuel Cheng yang asli Cina dan Diana Smith dari Spanyol. Menyisir ke dalam kamar Steven di lantai tiga, tampak pria itu berdiri di depan jendela kamar yang ditutup vitrage dengan menggendong bayinya Yolanda. Saat mereka berhasil sampai ke perguruan, Juan menyerahkan bayi itu ke Steven, langsung sang kakek buyut membawa ke kamar ini. Steven memejamkan mata, teringat lagi saat Yolanda dianiaya hingga tewas, lantas dia pun melihat Mona tersungkur tengkurap di conblock tanpa nyawa. Air mata beliau meleleh, hatinya terasa sangat sakit. Dia tidak menyangka Norman sangat keji demi harta dan kekuasaan. Norman berbeda dari Joseph yang berhati baik, sederhana, dan tidak berambisi untuk meraih kesuksesan lebih dari yang sudah di dapat. Dibuka kedua mata sambil dikerjap-kerjapkan, lantas memandang bayi perempuan yang cantik dalam gendongannya. Dia menghela napas, merasa iba, sebab bayi ini sudah piatu, dan ayah belum diketahui berada di mana. “Donita Cheng─“ dari bibirnya meluncur satu nama, “Iya, Kamu bernama Donita Cheng.” Ujarnya memasang senyum karena sudah memberi nama bayinya Yolanda, “Donita─“ ditegur bayi kecil tersebut yang belum tidur, hanya memandangi dia, “Aku ini kakek dari mendiang ibumu. Kamu panggil dengan Zu Yeye* ya. Emm, meski sebenarnya kamu panggil dengan Wai Zeng Zu Fu* karena aku kakek ibumu.” Diperkenalkan identitasnya. “Tapi nanti Kamu kesulitan menyebut Wai Zeng Zu Fu, jadi panggil dengan Zu Yeye, lebih mudah pengucapannya.” Donita mendengar ini tersenyum, seolah mengerti yang dikatakan Steven. “Jangan sedih cicitku,” Steven masih mengajak Donita bicara, “Zu Yeye pasti mengasuhmu dan melindungimu hingga napas ini berakhir di dunia.” Dia berjanji akan momong Donita, “Lantas selain Zu Yeye, ada Almira, adik sepupu ibumu dari pihak ayahnya ibumu.” Melanjutkan memperkenalkan Almira, “Kamu bisa panggil dia dengan Bomu.” Donita kembali tersenyum, paham yang dibilang si kakek buyut ini. “Kemudian-“ Steven melanjutkan, “Ada Juan dan Bethel, dua asisten Zu Yeye.” Dia pun memperkenalkan Juan dan Bethel, “Kamu panggil Juan dengan Er Zu Yeye* dan Bethel adalah San Zu Yeye*.” Kali ini Donita bukan hanya tersenyum, tapi menggeliatkan badan yang terbungkus selimut flannel, sebab mendengar nama Juan disebut. Sepertinya dia mengenal Juan, karena pria itu melindungi dia saat di rumah Joseph, dan terus menggendong dia hingga ke perguruan ini. Dia merasa nyaman bersama Juan. Melihat reaksi Donita sedari tadi, hati lara Steven terhibur. Diayun-ayun pelan tubuh Donita, sambil memperlihatkan raut wajah lucu. Donita tergelak-gelak, kedua lesung di pipi menyebul, tubuh sedikit terlonjak-lonjak. Tok..Tok.. Dari luar pintu kamar, terdengar suara ketukan dua kali. “Masuk, Juan!” Steven mengenali siapa yang mengetuk, karena dua kali ketukan itu kode pengenal milik Juan. Dia masih asyik menimang Donita. Tidak lama masuk Juan dan Almira, “Kalian─!” sejurus kemudian suara Steven terdengar, “Kemarilah.” Diminta kedua orang itu yang tidak lagi berpakaian ninja. Juan dan Almira meluaskan pandangan, lantas berbarengan melangkah mendekati Steven yang masih di depan jendela kamar bagian kanan tempat tidur. “Yeye─“ Almira langsung menegur Steven, “Sekarang gimana?” lantas bertanya, “Tangjie dan Bomu sudah meninggal, kita harus melaporkan kejadian tadi ke Sishifu* untuk ditindak secara hukum.” Dipandangi Steven yang masih mengayun-ayun Donita. Sishifu adalah Alvian, asisten Steven di Badan Keamanan Dunia, juga guru senior keempat di perguruan kungfu. “Belum saatnya, Mira.“ Steven bicara sambil mengalihkan pandangan, melihat ke Almira. “Mengapa, Yeye?” Almira terheran, “Papa melakukan pembunuhan berencana, dan dilakukan sangat keji.” Dia tidak paham mengapa Steven tidak mengangkat kejadian tersebut ke ranah hukum. “Terlalu enak untuk Norman, Isala, dan Jeanny jika hanya ditindak hukum negara.” Steven menjelaskan, “Yeye mau mereka mendapatkan penderitaan lebih pedih dari yang mereka berikan ke Mona dan Yolanda, termasuk ke Joseph.” Juan menyimak semua ini, sudah tahu kalau Steven memutuskan membalas dendam tidak melalui jalur hukum. “Sambil menanti─“ Steven bicara lagi, “Kita semua mengasuh Donita.” Ujarnya mengarahkan mata ke Donita, “Dia anak istimewa, Mira.” Imbuh dia, “Dilahirkan dengan cahaya keemasan. Cahaya keberuntungan dan kebenaran.” Almira melihat ke Donita, “Yeye, sudah memberi nama bayinya Tangjie?” “Sudah─“ Steven menganggukan kepala, “Yeye memberinya nama Donita Cheng, status sementara sebagai cicit angkat, sebab Yeye menemukan dia di depan gerbang perguruan.” Mendengar ini, Almira tercengang, mengapa Steven mengatakan semua itu? Donita jelas adalah cicit kandung sang kakek. “Jika─“ Steven bicara lagi, “Yeye memberi dia status cicit kandung, maka Norman bisa kapan pun mengambil dia dari Yeye, sebab Norman sebagai adik kandung Joseph, lebih berhak mengasuh dia.” Dia menjelaskan maksud memberi status Donita sebagai cicit angkat, “Juan─“ lantas menegur Juan, “Kamu sudah menghubungi Jackson?” “Sudah, Tuan.” Juan menganggukan kepala, “Beliau dalam perjalanan kemari.” “Good.” Steven memuji pekerjaan Juan, “Apa ada laporan dari Bethel?” lantas memberi pertanyaan lain. *** Di dalam gudang yang berada di belakang pavilion pembantu di rumah Joseph, tergeletak jenasah Mona dan Yolanda dipermukaan sehelai kain putih pada ubin lantai. Setelah kejadian tersebut, Norman menyuruh Fasan membawa kedua jenasah tersebut ke sana, sementara jenasah yang lain dibawa ke satu ruang yang berada di bunker. Di sana tempat jenasah para korban Norman. Digeletakan begitu saja sampai menjadi tengkorak. Norman melihat jenasah Mona dan Yolanda, merasa ngilu, tapi dia tidak ada pilihan, sebab Isala dan Jeanny mendesak agar menghabisi kedua perempuan tersebut. Padahal dia masih membutuhkan keduanya untuk membuat dia kembali menjadi billionaire dengan cara mendesak Yolanda mengatakan siapa ayah Donita. Dia yakin ayah Donita seorang konglomerat hebat. Isala dan Jeanny memandang sinis jenasah Mona dan Yolanda, merasa puas duri dalam kehidupan mereka sudah hilang. Kini rumah megah Joseph milik mereka. Hanya saja mereka kesal sebab bayi yang dilahirkan Yolanda dibawa lari entah kemana oleh Steven. Norman tidak berani menemui Steven, sebab mengetahui kakek Yolanda itu bukan sekedar master kungfu, tapi punya power di kepolisian. Andai hari saat kematian Joseph, Mona tidak merengek ke Steven, dipastikan Norman digelandang ke polisi, sebab Steven menemukan penyebab kematian suami Mona tersebut akibat racun. Isala mengeplak lengan Norman, “Heh─!” ditegur suaminya, “Lakukan sesuatu dengan kedua jenasah si***n itu!” menunjuk kedua jenasah di lantai. “Kita makamkan di sebelah makam Joseph.” Norman menanggapi. Dia tidak tega melenyapkan kedua jenasah tersebut, sebab mengingat kebaikan Mona yang pernah menampung dia, Isala, dan Jeanny di rumah ini. “Dimakamkan?!” Isala terkejut, lantas mengeplak lengan suaminya, “Kamu gila kah? Si tua Steven bisa mengambil kedua jenasah itu untuk menjadi bukti di kepolisian!” dia tidak setuju jika dimakamkan di sebelah makam Joseph yang berada di pemakaman umum Los Angeles. “Betul, Papa─!” seru Jeanny menimbrung, “Mending Papa buang saja ke kamar mayat di bunker, biar menjadi tengkorak!” dia mengusulkan agar kedua jenasah ditaruh dalam kamar mayat di bunker. “Aku setuju itu─“ Isala menjentikan jari tangan kanan sekali ke udara, setuju sama usul Jeanny. “Papa─!” lantas mengeplak lagi lengan Norman, “Udah jangan banyak mikir, biar kedua jenasah itu nginep di sana sampai kiamat tiba.” Tanpa mereka sadari, Bethel mendengar dan merekam semua pembicaraan ini. Dia bersembunyi di antara para penjaga yang ada di gudang ini. Saat Steven dan rombongan berhasil keluar dari rumah Joseph, dia kembali ke rumah itu untuk mengawasi apa yang Norman lakukan atas jenasah Mona dan Yolanda. Steven yang menyuruhnya. Dia dengan mudah kembali sebab sebenarnya Steven sudah menyusupkan Lao San dan Nan Sung, dua murid andalan si kakek. Sayangnya, Lao San dan Nan Sung tidak bisa menghentikan malaikat maut merenggut nyawa Mona dan Yolanda, sebab akan ketahuan Norman bahwa mereka penyusup yang menyamar di antara para penjaga. “Huh!” terdengar helaan napas berat Norman, “Apa boleh buat!” dia menepukan kedua tangan ke permukaan p***, “Siapa suruh mereka mencoba melarikan diri.” Ujarnya memandang sinis kedua jenasah tersebut. *** Hansen keluar dari Mercedes Maybach Exelero milik dia yang berhenti tidak jauh dari jalan gang, tempat di mana Joey dan para ajudan menemukan dia yang tengah fighting sama segerombolan orang tidak dikenal agar Yolanda bisa melarikan diri. Sebenarnya dia belum boleh meninggalkan rumah Watson, mengingat luka yang dialami hingga kehilangan ingatan belum pulih sepenuhnya, tapi dia bersikeras pergi. Dia harus menemukan siapa perempuan yang selalu ada dalam mimpi dia. Dia yakin perempuan itu terkait sama dia yang kehilangan ingatan sebagai Hansen Salvador. Setelah kedua kaki menjejak di aspal jalan, Hansen menyingkir dari pintu, agar Joey bisa menutup kembali pintu tersebut. Mereka kemari tanpa diketahui Lydia dan Mike, istri kedua Watson dan anak sang billionaire dari si istri. Sebab Watson mencurigai keduanya yang mencelakai Hansen, hingga putra sulung itu sempat menghilang selama beberapa bulan. Ketika ditemukan nyaris dibunuh pula. “Tuan─“ Joey kini disisi Hansen, “Mari, saya antar Anda ke tempat saya menemukan Anda.” Ujarnya agar Hansen tidak hanya memandangi kesekitar lebih lama. Hansen menganggukan kepala, lantas mengikuti Joey ke jalan gang tersebut. Saat itu, di pelupuk mata Hansen melihat kejadian di masa lalu, di mana dia dan Yolanda terjebak di gang jalan yang buntu, lantas dia dengan berani melawan orang-orang yang mengepung mereka, sambil menyuruh Yolanda lari. Dia mengerjapkan kedua mata sambil menggelengkan kepala. Dalam batin berbicara. ‘Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Aku bersama perempuan dalam mimpiku itu di gang jalan ini?’ ~~~ Note: Zu Yeye: Kakek buyut dari pihak ayah, tapi dicerita ini Steven yang sebenarnya ayah dari Mona dan kakek Yolanda, memakai panggilan tersebut agar memudahkan Donita kelak memanggilnya. Wai Zeng Zu Fu: Kakek buyut dari pihak ibu. Er Zu Yeye: Kakek buyut kedua. San Zu Yeye: Kakek buyut ketiga. San dalam bahasa Mandarin berarti angka tiga. Sishifu: Guru keempat. Si dalam bahasa Mandarin berarti angka empat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN