“Tuan─!”
Joey cepat memegang lengan kanan Hansen, sebab melihat tuannya mengerjapkan mata sambil menggelengkan kepala.
“Anda kenapa?” ditanya atasannya ini dengan wajah cemas, “Kepala Anda sakit kah?” dia merasa kepala si tuan sakit.
Hansen melepas tangan Joey dari lengannya, lantas sedikit melambaikan tangan ke udara.
“Saya baik saja.” Dia mengatakan baik saja, lantas melangkah ke arah ujung gang jalan yang buntu ini. Kedua mata mengamati sekitar, berusaha mengenali tempat ini yang tadi dilihat sebagai lokasi dia dan Yolanda berada. Kembali dipelupuk mata melihat kejadian tersebut.
“Akh!” Yolanda memekik kaget melihat Hansen meninju kuat perut dan wajah seorang pria hingga terpelanting ke belakang mengenai paralon besar di tembok.
“Lari Yolanda!” Hansen kembali meneriaki Yolanda, “Lekaslah!” jeritnya sambil menangkis pukulan dari pria lain.
“Tidak Viktor!” Yolanda menggelengkan kepala, “Kamu suamiku, aku tidak bisa meninggalkanmu di sini!”
“Lari kataku, sayang!” Hansen berseru lantang segera berlari setelah meninju kemaluan pria yang menyerangnya, menarik kaos hitam pria lain yang akan menyambar Yolanda, dilempar sekuat tenaga ke sembarang tempat, lantas memegang kedua lengan istrinya itu, “Lari, sayang, larilah.” Dia minta sang istri lari, “Aku segera menyusulmu. Percayalah.”
Yolanda menggelengkan kepala, air matanya berlinang, “Tidak mau!” dia tetap bersikeras bersama Hansen, “Viktor, kita sudah berjanji ke Tuhan, apa pun yang terjadi tetap bersama.”
“Tidak bisa, sayang.” Hansen memegang kedua sisi wajah Yolanda, “Kamu larilah, biar aku hadapi mereka semua. Tetaplah hidup untukku dan impian kita punya momongan.” Lantas mendorong sang istri ke belakang, sebab dua pria menyerang mereka.
“Viktor!” terdengar jeritan lantang Yolanda, karena saat itu ada satu pria dengan cepat memukul kepala Hansen dengan stick, “Viktor!” jeritnya karena suaminya jatuh tersungkur ke depan, tapi ditahan pria lain, dan diberi hadiah tinju beberapa kali di perut.
Saat pria yang memegang stick hendak memukul lagi kepala Hansen, sebilah belati menghantam stick tersebut hingga terlepas, lantas belati lain mengenai sisi lehernya, dia pun ambruk tewas.
Kedua mata Yolanda membesar, tidak percaya dengan yang dilihat, apalagi setelah itu tampak Juan melesat di udara sambil melempar jarum akupuntur ke arah kedua pria yang memukuli Hansen. Keduanya ambruk tewas.
“Ershifu?!” desis Yolanda mengenali Juan, “Tuhanku!” dia terpekik sebab pinggangnya disambar cepat Juan, lantas dibawa terbang meninggalkan tempat ini, “Ershifu!” jeritnya sebab Hansen tersuruk ke aspal, “Kita tolong Viktor!”
“Dia ada yang menolong, Nona besar.” Juan tidak memperdulikan permintaan Yolanda.
Hansen yang tersuruk, melihat Yolanda dibawa lari Juan, merasa lega, sebab dia mengenali Juan. Juan yang ikut membantu Yolanda mengobati dia. Kemudian kepalanya terasa sangat sakit, cepat memegang kepala itu dengan kedua tangan, lantas ada satu pria mengayunkan pedang panjang hendak menebas leher dia, tapi satu tendangan kuat mengenai tangan yang memegang pedang, dan menit berikut satu peluru menembus sisi keningnya, tewas.
“Tuan muda!” Joey yang melakukan semua aksi tadi, cepat berjongkok dihadapan Hansen yang masih memegangi kepala karena rasa sakit luar biasa mendera dia, “Tuan muda! Tuan, bicara sesuatu ke saya. Ini Saya, Joey, asisten anda.” Dipegang kedua lengan si tuan, diguncang.
Sedangkan para ajudan yang bersama Joey menangkap para pria yang tersisa.
Rasa sakit mulai hilang, Hansen mendengar suara Joey, dialihkan pandangan.
“Joey?!” dia mengenali Joey, “Kenapa Kamu di sini?” dia terheran. Ingatannya sebagai Hansen Salvador pulih, tidak ingat kejadian saat kehilangan ingatan.
“Anda sendiri kenapa di sini?” Joey justru bertanya, “Sejak Anda pergi dari kantor pusat WS Group, Anda menghilang. Kami mencari Anda kemana-mana.”
“Ini di mana, Joey?” Hansen merasa asing dengan tempat dia berada saat ini.
Setelah melihat semua peristiwa itu, Hansen berdiri di tempat dia terduduk di aspal dan berbincang sama Joey.
‘Jadi seperti itu kejadiannya?’ bisik batinnya, ‘Saat Joey menemukanku, Aku tidak ingat baru mengalami kejadian hetic bersama perempuan tersebut yang adalah istriku, karena ingatanku sebagai Hansen sudah pulih. Lantas, namaku saat ingatanku hilang adalah Viktor.’ Dia membuat kesimpulan atas apa yang dilihatnya, ‘Perempuan itu bernama Yolanda.’ Dia pun jadi tahu nama perempuan dalam mimpinya.
Gegas, dia memutar badan, “Joey!” dipanggil Joey yang berdiri tidak jauh dari dia, dilambaikan sekali tangan meminta asisten ke dia. “Joey!” ditegurnya saat mereka berhadapan, “Apa saat Kamu menemukan saya, melihat ada perempuan dibawa lari pria seusia Mama Lydia?”
Joey menghela napas, dia memang melihat Yolanda dibawa lari Juan, di mana saat itu Juan menjeritin dia agar menolong Hansen.
“Joey!” Hansen menghardik Joey.
“Saya melihat perempuan itu, Tuan.”
Hansen terhenyak, lantas menjitak kening Joey.
“Mengapa tidak kamu katakan ke saya mengenai itu?”
“Maaf, Tuan, karena saat itu, saya melihat kepala belakang anda terluka cukup parah, lantas anda pun pingsan. Jadi saya bawa Anda ke WS Hospital.”
“Kenapa saat saya bertanya apa yang terjadi sama saya, tidak kamu ceritakan melihat istri saya dibawa lari seseorang di kejadian kamu menemukan saya?”
“Anda saat itu hanya bertanya, di mana anda, mengapa saya menolong anda. Anda tidak bertanya kejadian apa yang mengenai anda.”
“Kamu melihat semua kejadian sebelum menemukan saya?”
Joey menggelengkan kepala, “Tidak, Tuan, sebab saya datang di saat istri anda dibawa lari pria itu dengan jurus meringankan tubuh.”
“Kamu serius?”
“Sangat serius, Tuan.” Joey menganggukan kepala, sebab memang dia datang terlambat. “Tuan, maaf, Anda sedari tadi menyebut kata istri.” Lantas bertanya, “Apa Anda sudah ingat kejadian di mana Anda hilang ingatan?”
***
“Akh!”
Satu ajudan terkena peluru bius di leher, lantas ambruk pingsan ke lantai. Kemudian disusul satu rekannya. Lalu muncul Bethel, Alvian, Lao San, Nan Sung berpakaian ninja dan masker wajah.
Setelah itu, Lao San mengambil kunci dari saku salah satu penjaga, cepat membuka pintu kamar mayat di bunker rumah Joseph. Kemudian Lao San dan Nan Sung mengambil dua jenasah yang dibungkus sarung plastic steril, baru mereka masuk ke dalam, gegas, menuju jenasah Mona dan Yolanda yang digeletakan di antara banyak jenasah dan rangka manusia korban kekejian Norman.
Mereka diperintahkan Steven untuk membawa kedua jenasah tersebut agar dimakamkan di pemakaman keluarga Steven yang berada di bagian terbelakang perguruan.
Di luar bunker, berjaga beberapa murid andalan Steven yang semua berpakaian ninja dan masker wajah.
Kini, Bethel dan Alvian membungkus jenasah Mona dan Yolanda dengan kain putih dan dimasukan ke dalam sarung plastic steril khusus jenasah, sedangkan Lao San dan Nan Sung mengeluarkan dua jenasah yang mirip Mona dan Yolanda dari sarung steril, diletakan ke lantai.
Kemudian Bethel dan Alvian meletakan jenasah Mona dan Yolanda di punggung Lao San dan Nan Sung, baru mereka meninggalkan ruangan ini. Dengan ilmu meringankan tubuh mereka cepat sampai di gerbang belakang halaman pavilun. Para murid yang berjaga di luar pun sudah tiba di sana.
***
Steven memandangi jenasah Mona dan Yolanda yang sudah dimandikan dan dimasukan ke dalam peti jenasah dari kayu jati berukiran lambang perguruan yang kini berada di aula utama perguruan.
Tampak wajah tuanya pilu. Keluarga dia kini hanya Donita, sebab Almira adalah keponakan kandung Joseph menantunya.
Hari ini, kedua jenasah siap dimakamkan di pemakaman keluarga Steven, disaksikan sang pria, Almira, Juan, Bethel, Alvian, seluruh penghuni perguruan, tentara dan polisi yang bekerja untuk pria itu. Mereka semua mengenakan pakaian putih dan bendera perguruan yang dipasang ke lengan kanan atas.
Almira yang disebelahnya dengan menggendong Donita, berlinang air mata. Hati Almira sangat berduka, sebab selama ini, meski dia dibesarkan Steven, sesekali Yolanda dan Mona mengunjungi dia. Mereka berbincang sejenak dan terasa hangat. Meski Mona dan Yolanda dijadikan pembantu, Norman memperbolehkan keduanya ke perguruan menengok Steven.
Namun saat itu, kedua perempuan tersebut dikawal Kinan dan para ajudan Norman, agar tidak lepas dari tangan pria itu.
Tampak pula di belakang Steven dan Almira, ada Juan, Bethel, Alvian, semua murid perguruan, tentara dan polisi. Mereka semua terlihat pilu, sebab gagal menyelamatkan Mona dan Yolanda dari maut.
Tidak lama, Steven mengambil Donita dari Almira, dibawa ke Mona, lantas bicara ke bayi cantik itu yang mengenakan dress putih dan kepala memakai bando dengan bunga krisan putih juga.
“Donita─“ dipanggil si cicit, “Beliau ini adalah Zu Mu*,” diperkenalkan Mona, “Ibu dari Mucin* Kamu.” Kemudian membawa Donita ke jenasah Yolanda, “Sayang─“ kembali memanggil Donita, “Ini Mucin Kamu, namanya Yolanda Candara.” Memperkenalkan sang ibu ke cicit kecil tersebut. Air mata dia berlinang, “Tuhanku!” dia menyebut nama Tuhan, “Aku mohon Engkau baguskan nasib dan takdir Donita cicitku. Hapuslah nasib dan takdir buruk agar dia tidak meninggal tragis seperti Yolanda.” Memanjatkan doa permohonan ke Tuhan untuk Donita.
Saat itu, tangan mungil Donita terulur ke arah wajah Steven, disentuhnya. Membuat Steven melihat ke dia. Tampak Donita tersenyum cerah.
Note:
Zu Mu: Nenek dari pihak Ayah, tapi Steven memakainya agar memudahkan Donita menyebutnya kelak.
Mucin/Mu Gin: Ibu.