Hansen berdiri di mulut gang jalan buntu tersebut, matanya menyisir ke sekitar, berusaha mengingat kejadian sebelum peristiwa perpisahan dia dan Yolanda. Dia bertekad menemukan Yolanda, merasa gadis itu yang menyelamatkan dia dari maut, sayang mereka berpisah, tapi si gadis tiap malam terlihat di mimpi dia.
Ketika melihat peristiwa perpisahan, dia baru tahu kalau menikahi Yolanda, pantas jika wanita tersebut selalu ada dalam mimpinya, pasti Yolanda menanti dia. Sebab dia berjanji akan menyusul Yolanda.
“Tuan─“ Joey yang berada di sebelah kanan Hansen, menegur, “Tuan, baiknya kita pulang. Kesehatan Anda belum pulih seratus persen.” Ujarnya meminta si tuan untuk kembali ke rumah Watson.
Hansen tidak menanggapi, sebab saat ini pelupuk mata melihat dia dan Yolanda berlari-lari ke arah gang jalan buntu dari sebelah kanan. Dia pun melangkah ke sana, ingin tahu dari mana awal tempat mereka berlari.
“Tuan!” Joey kaget, gegas, menyusul. Para ajudan pun mengejar mereka, “Tuan, Anda mau kemana?” ditegur tuannya yang tampak terus melangkah ke depan sambil mengamati setiap bangunan di sekitar jalan.
Hansen tetap tidak menanggapi, konsentrasi menyusuri jejak peristiwa masa lalu itu agar menemukan Yolanda. Jika Yolanda benar dia nikahi, maka dia harus membawa wanita tersebut ke pelukan dia.
Langkah dia terhenti di depan satu café sederhana. Di sana tampak dia dan Yolanda duduk di kursi meja customer di terasnya. Dia dan sang istri memandangi sehelai kertas, yang diyakini surat nikah sementara dari catatan sipil. Kemudian dia mencium mesra bibir Yolanda, terlihat bahagia menjadi suami cucu Steven tersebut.
‘Tuhanku─‘ dia bicara dalam hati, ‘Jadi di sini awal tempatku dan Yolanda melarikan diri?’ tanyanya, ‘Dan ternyata saat Aku kehilangan ingatan, jatuh cinta sangat dalam sama Yolanda, dewi penyelamat nyawaku.’ Dia tersadar telah jatuh cinta ketika kehilangan ingatan.
Padahal sebelum kejadian itu, dia pria dingin akan cinta, hanya mengelola WS Group dan menyelesaikan pendidikan strata dua. Apa dia pernah disakiti wanita? Tidak pernah, karena tidak menaruh minat berhubungan cinta.
Kini dia melihat dirinya melepas ciuman, lantas mengeluarkan dompet kain seperti kantung koin di jaman Cina kuno, kemudian memberikannya ke Yolanda. Sang istri tampak surpraise, segera melihat apa isi dompet tersebut, dan ternyata seuntai kalung emas dengan liontin bentuk burung. Istrinya terbata-bata, tidak menyangka diberi kalung. Kemudian dia memasangkan kalung tersebut ke leher si istri.
‘Aku saat jatuh cinta-‘ kembali dia bicara dalam hati, ‘Ternyata romantic sekali ke istri.’ Terkagum melihat diri sendiri bersikap romantic ke Yolanda, ‘Tapi, Yolanda sangat pantas mendapat romantic dariku, dia tulus menyelamatkanku.’ Ujarnya karena melihat rupa cantik Yolanda yang bersih, menandakan perempuan itu menolong tanpa pamrih.
Setelah itu, kedua mata dia melihat dirinya dan Yolanda baru datang ke café tersebut, di mana tangan sang istri menggayut ke lengan kanannya. Hal ini membuat dia kembali melangkah, harus tahu dari mana dia dan Yolanda awal berjalan hingga ke café. Ternyata Tuhan perlahan membimbing dia untuk melihat perjalanan cinta dia dan Yolanda di masa lalu.
Joey dan para ajudan segera mengikuti tuan muda tersebut. Mereka tidak tahu kalau sang tuan sedang menyusuri jejak masa lalu.
Langkah Hansen berhenti, lalu matanya melihat ke kanan, menemukan gedung Catatan Sipil, Chinatown.
‘Di sini kah aku menikahi Yolanda?’ tanya hatinya, lalu gegas, melangkah ke gedung tersebut. ‘Tuhanku-‘ disebut nama Tuhan, ‘Semoga di sini ada alamat Yolanda, sebab saat itu Aku tidak tahu di mana rumahku.’ Dia berharap mendapatkan alamat rumah sang istri.
Joey mulai menyadari Hansen tengah menyusuri jejak perempuan bernama Yolanda yang menurut sang atasan adalah istri. Wajahnya menjadi cemas, sebab dokter Kansil berpesan agar Hansen tidak banyak berpikir yang berat. Menelusuri jejak masa hilang ingatan adalah hal berat.
Namun dia tidak bisa mencegah, sebab tahu Hansen tidak tidur setiap malam, karena melihat Yolanda, maka Hansen harus mencari tahu siapa Yolanda sampai tuntas. Dengan begitu, hidup Hansen pun menjadi tenang.
Kini mereka berada di dalam ruang ground. Hansen langsung mendekati desk resepsionis.
“Permisi─“ disapa petugas di sana, “Di mana ruangan bagian penyelenggara pernikahan?”
“Tuan, Anda hendak menikah?” si petugas bertanya sambil berdiri, “Jika begitu, di mana pasangan Anda?” melanjutkan pertanyaan, mana pasangan Hansen.
“Saya bukan ingin menikah─“ Hansen membantah, “Tapi ingin mengetahui siapa yang menikahkan saya dan istri sepuluh bulan silam di sini.”
“Maksud Anda?” petugas tidak paham yang disampaikan Hansen, “Apa ada masalah dengan pernikahan tersebut? Jika iya, Anda bisa menemui Tuan Flaun, konsultan pernikahan di ruangan 302, lantai 3.”
Mendengar ini, Hansen seperti mendapat pencerahan. Siapa tahu dengan bicara sama konsultan pernikahan, bisa mendapat informasi mengenai pernikahan dia dan Yolanda di masa lalu.
“Oke, deal.” Dia langsung menyetujui pengarahan petugas.
“Mari, Tuan-“ petugas tersenyum ramah, “Saya antar Anda ke Tuan Flaun.”
***
Di dalam kamar tidur utama rumah Steven, tampak pria itu menepuk-nepuk lembut perut Donita yang sudah pulas tidur di kasurnya yang luas. Dia memutuskan menempatkan Donita di kamarnya, dalam penjagaan dia.
Selepas pemakaman, dia kembali mengurung diri di kamar, tidak ingin diganggu siapa pun. Makanan dan minuman untuk dia di antar Juan.
Aktifitas di perguruan diaktifkan, Bethel dan Alvian yang mengelola. Sedangkan Almira kembali kuliah.
Wajah Steven masih berduka, tapi tidak bermuram durja, sebab ada Donita, cicit yang menggemaskan. Tidak seperti bayi baru lahir, kedua mata Donita sudah terbuka, dan bisa mengenali siapa di dekat si anak, sebab anak itu istimewa. Kedua tangan dan kaki bayi tersebut pun sudah bergerak aktif, meski terbatas digoyangkan, dan terulur ke depan.
Steven berhenti menepuk-nepuk perut Donita, pelan merogoh salah satu saku samping celana kungfunya, dikeluarkan seuntai kalung peninggalan Yolanda untuk Donita. Diamati liontin kalung tersebut, tampak oleh dia saat Juan memberikan kalung tersebut ke dia.
Juan cepat mendekati Steven setelah mereka semua sampai di aula perguruan, dipindahkan Donita ke gendongan tuan besar ini sambil meletakan sesuatu ke dalam tangan kiri tuannya.
“Tuan─“ Juan pelan bicara, “Ini benda peninggalan Nona Besar.” Ujarnya menjelaskan apa yang diberikan dia secara diam-diam, “Saya mengambil dari leher cicit Anda, agar tidak dilihat siapa pun.” Imbuh dia, sebab memang saat mengambil Donita dari tangan Almira, kedua mata melihat kalung di leher si bayi, cepat dilepas dengan ilmu kungfunya, disimpan dalam saku bagian dalam pakaian ninjanya.
Almira tidak melihat ada kalung itu di leher Donita, sebab tergesa mengambil dari Yolanda.
Steven dengan cepat menyimpan kalung tersebut ke dalam telapak tangannya.
Steven menghela napas, Juan, Bethel, dan Alvian, selalu cepat tanggap. Melihat ada barang bukti, pasti diamankan tanpa setahu siapa pun. Kedua mata dia masih mengamati bentuk liontin kalung yang adalah burung elang merentangkan ke atas kedua sayap, d*** membusung, dan si burung memiliki sembilan lengkungan ekor.
‘Melihat liontin ini─‘ Steven bicara dalam hati, ‘Pria yang diselamatkan Yolanda waktu itu, kuduga salah satu dari dua putra Tuan Watson Salvador, konglomerat terkemuka di Los Angeles yang berasal dari Italia.’ Mulai mengenali bentuk liontin, ‘Jika benar, pantas Juan bilang kondisi pria tersebut terluka parah dan kehilangan ingatan, pasti akibat dicelakai musuh Tuan Watson.’
Tiba-tiba, dia terdiam, kedua mata melirik cepat ke arah pintu, merasa ada yang mengintai sebab tampak samar di daun pintu terpasang kamera kecil. Setelah itu manik dia menyisir ke sekitar, termasuk ke Donita, lantas telapak tangan yang memegang kalung cepat ditutup, menyimpan kalung di sana.
Saat itu pula dengan tangan lain, cepat mengeluarkan saputangan dari saku depan kemeja kungfunya, dihadapkan saputangan tersebut ke kamera kecil yang terpasang pada dinding tempat tidur. Menghapus rekaman dia yang mengamati liontion kalung, diganti dengan dia tidur disisi Donita.
Pikiran dia kembali ke belakang, di mana bicara sama Lao San, Nan Sung, dan Alvian dengan diam-diam, untuk mencaritahu mengapa mereka gagal menyelamatkan Mona dan Yolanda. Mereka bicara di satu ruangan rahasia yang berada di areal pemakaman keluarga Steven.
“Tuan-“ Lao San memandang Steven, “Kinan memang dipaksa Tuan Norman untuk memberitahu mengenai rencana anda melarikan Nyonya Mona dan Nona Besar, tapi sebelumnya Saya melihat Tuan Norman bicara sama seseorang di ruang kerja beliau.” Dituturkan apa yang diketahui selama menyusup ke dalam barisan penjaga rumah Joseph, “Kejadian itu dua hari sebelum Tuan Norman memaksa Kinan mengkhianati kita.”
“Lao San─!” Alvian menegur Lao San, “Jika kamu tahu itu, mengapa tidak memberitahu saya?”
“Maaf, Tuan, para penjaga di sana diawasi ketat sama Tuan Norman,” Lao San merasa bersalah, “Tapi ada saya mengirim sos ke Tuan Juan, minta beliau menerobos masuk ke pavilion untuk melarikan Nyonya Mona, Nona besar, dan Nona cilik.”
“Juan memang mendapat sos kamu─“ Steven membenarkan, “Maka saya ubah rencana, mengirim Juan dan Bethel.” Menjelaskan apa yang dilakukan setelah Juan mendapat sos, “Saya juga minta Lao San dan Nan Sung membantu Juan dan Bethel secara diam-diam.”
Alvian menyimak, lantas, “Lao San─“ kembali menegur Lao San, “Apa ada Kamu mencaritahu siapa orang misterius itu?”
Lao San menganggukan kepala, gegas, merogoh saku di dalam seragam ninjanya, dibawa keluar satu plakat dari emas berbentuk bulat diameter 5 sentimeter, diberikan ke Steven.
Kedua mata Steven kembali melihat ke daun pintu, tampak oleh mata six sensenya, orang tersebut masih mengintai dia.
‘Untuk apa Kamu lakukan itu?’ tanya batinnya pilu.