Happy Babies, outlet terkemuka khusus menjual semua keperluan bayi, balita dan anak disewa penuh sama Watson. Sebab si opa tidak mau Donita dilihat bersama dia di sana.
Kini si opa membawa cucu cantik itu memilih bermacam baju, popok, mainan, aksesoris, pokoknya semua yang ada di outlet tersebut. Donita digendong tegak, bersandar ke d*** sang opa. Tampak kakek dan cucu berwajah cerah. Lantas di belakang mereka mengekor Joey, Juan, Alvian, Larisa-owner outlet, dan dua pramuniaga.
Watson berhenti di depan satu deret baju batita untuk perempuan, lantas melambaikan tangan ke arah Larisa. Si owner segera tahu Watson minta diperlihatkan baju-baju di sana. Gegas, dia dan dua pramuniaga memamerkan satu persatu ke Watson.
Si opa dengan hati-hati memindahkan posisi Donita, yang tadi badan menempel ke d***, kini punggung tertaruh di sana. Bermaksud membuat si cucu melihat model-model baju. Tapi, meski kedua mata Donita bisa melihat, belum dapat memilih baju yang diinginkan.
Larisa segera memilih satu baju yang dirasa bisa menarik minat Donita. Dress terusan dengan model dua piece. Bagian atas blouse yang menyatu sama rok setengah lebar. Lengan blouse sedikit menggembung seperti balon, lantas bagian depan dihias beberapa bunga mawar mini dari kain. Warna dress cerah yaitu, cream kombinasi soft red.
“Sayang─” ditegur si bayi, “Lihat dress ini,” meminta agar cucu Watson melihat ke dress, “Ini cocok untuk kamu yang cantik.” Ujarnya sambil melepas hanger baju, lantas ditempelkan ke badan bagian depan sang bayi.
Watson mengamati dress itu, membayangkan Donita memakainya. Dia juga mengawasi si cucu, pengen tahu apakah bereaksi suka atau tidak. Ternyata Donita menggoyangkan badan, merasa suka dipasangkan baju cantik.
“Kamu suka, sayang?” Larisa tersenyum sebab paham bahasa gerakan bayi. “Ayuk, kita pasangkan ke badanmu ya.” Diajak bayi ini bicara, “Lantas nanti kita carikan aksesoris manis agar penampilanmu tambah cantik.”
Watson tersenyum, melihat pula Donita menggoyang badan, merasa lega cucu menyukai dress itu.
“Tuan Watson─” Larisa menegur Watson, “Mari, kita ke private room.” Menawarkan si opa untuk ke private room yang sudah dia sediakan, “Biar petugas saya nanti membawakan banyak barang yang bisa Nona cilik pilih.” Imbuh dia, sebab merasa tidak enak hati Watson membawa Donita berkeliling outlet.
“Boleh.” Watson setuju, lantas tangannya menunjuk dress yang masih ditempelkan ke badan Donita, “Anda bawa juga dress ini.” Dia minta Larisa membawa dress tersebut, “Karena Donita menyukainya.”
“Pasti, Tuan.” Larisa hendak melepas dress tersebut, tapi Donita menangis.
Owa..owa..owa..
Tangis itu membuat Watson dan Larisa kaget.
“Sayang─!” Watson cepat memutar badan Donita, ditempelkan ke d***, digoyang-goyang lembut, “Kenapa menangis?” ditanya si cucu. Tapi cucu malah meneleng-nelengkan kepala ke arah dress yang diambil Larisa.
Larisa melihat gerakan ini, “Sayang─” dia kini tahu kenapa Donita menangis, “Tante ngga ambil bajumu kok.” Kekeh dia memamerkan dress itu, “Tante mau bawa ke private room, nanti kamu pakai di sana ya.” Dijelaskan mengapa mengambil dress itu.
Entah kenapa tangan-tangan mungil Donita terulur ke dress itu, seolah minta dari tangan Larisa. Larisa tersenyum geli, paham adat balita, jika menyukai sesuatu, tidak mau diambil. Dia berikan ke tangan Watson, biar si kakek yang membuat kedua tangan Donita memegang dress tersebut. Dan begitu tangan si mungil menyentuh dress, tangis pun surut. Wajah berubah cerah.
“Pandainya kamu─!” Larisa merasa senang melihat tingkah Donita, “Tuan Watson─” lantas menegur Watson yang riang karena Donita menyukai dress tersebut, “Cucu anda pandai sekali.” Dipuji Donita.
“Makasih Larisa.” Watson mengucapkan terima kasih, “Donita menurunkan kecerdasan mama papa-nya.”
“Pasti itu, Tuan.” Larisa tersenyum, “Tuan, maaf, apa mamanya nona cilik sedang bekerja, jadi anda yang membawa nona kemari?” dia bertanya di mana ibu Donita.
Watson terdiam, sekelebat teringat wajah Yolanda yang dilihat pada foto milik Steven, lantas menghela napas.
“Mamanya sudah meninggal, Larisa.” Dia bicara pilu menjawab pertanyaan Larisa, “Meninggal setelah melahirkan Donita.”
Larisa terhenyak, lantas menjadi pilu, “Maafkan saya, Tuan.” Dia menyesal bertanya di mana ibunya Donita, “Saya turut berduka cita, Tuan.” Dia pun menghaturkan belasungkawa.
“Terima kasih, Larisa.” Watson tersenyum tipis, “Tapi Donita ada saya dan papanya.” Ujarnya, “Ada pula kakek buyutnya.”
Larisa menjadi ngilu mendengar ini, sebab Donita hanya dimomong para pria, tidak berani bertanya apakah tidak ada perempuan yang ikut mengasuh Donita.
“Anda benar, Tuan.” Larisa memutuskan setuju perkataan Watson, “Mari Tuan, kita ke private room, izinkan saya dan para petugas di sini menyenangkan nona cilik.”
Watson menganggukan kepala, lantas dengan di antar Larisa dan dikawal rombongannya, ke private room. Sampai di sana dia tersenyum, sebab Larisa sudah menggelar permadani lembut di lantai, lantas ada banyak boneka lucu-lucu tersusun. Meja dan sofa dikeluarkan, agar Donita bisa santai dalam gendongan Watson saat memilih bermacam barang. Kemudian terdengar lagu anak-anak dengan music yang riang. Membuat private room jadi menyenangkan.
Tidak lama, Watson duduk lesehan di atas permadani dengan memangku Donita. Bersama dia pun, duduk Larisa, Joey, Juan, dan Alvian. Si opa langsung mengganti baju Donita dengan dress cantik itu, lalu Larisa mencarikan aksesoris untuk dipadankan dengan dress.
Larisa mendapatkan bandana dengan hiasan bunga mawar merah, dipasangkan ke kepala Donita. Tampaklah si bayi cantik sekali. Melihat ini, Joey, Juan, dan Alvian tergerak mengeluarkan ponsel masing-masing, lantas meminta Watson untuk berfoto bersama Donita.
Si opa dengan senang hati melakukannya, sebab ingin moment ini ada dokumentasi yang kelak bisa dikasih lihat ke Hansen.
Setelah itu, si kakek dan rombongan membantu Donita memilih baju, sepatu, kaos dalam, dan banyak lagi. Setiap pilihan mereka diperlihatkan ke Donita. Jika si bayi mengulurkan tangan menyentuh barang, maka diartikan menyukainya. Jika hanya diam dengan bibir kadang mengerucut, kadang manyun, itu Donita tidak suka.
Selain memilih barang, Donita dan Watson kerap kali berfoto centil dengan bermacam gaya. Moment ini disiarkan langsung ke Steven melalui ponsel Alvian. Melihat keriangan Watson dan Donita, hati Steven terhibur, sangat lega Watson menyayangi Donita.
***
Seorang perempuan berpakaian hitam-hitam, menutupi wajah dengan masker hitam, dan menyembunyikan rambut dalam scraf hitam pula, masuk ke dalam pavilion belakang perguruan kungfu Steven.
Sampai di sana, perempuan tersebut memandangi seluruh ruangan, lantas tertuju ke ranjang yang rapih. Kemudian pelupuk mata melihat peristiwa ranjang panas Hansen dan Yolanda yang pernah terlihat olehnya dari celah pintu.
Hansen membawa bibir ke hamparan mulus leher Yolanda, dinikmati sepenuh hati. Kedua tangan mulai melecuti pakaian di badan gadis itu.
Yolanda meresapi stimulasi Hansen ini dengan kedua mata terpejam, membiar pakaian dilepas pria itu. Dia pun tidak menolak saat tubuh tanpa sehelai benang dibaringkan ke permukaan ranjang. Kedua mata dia melihat Hansen melepas pakaian hingga polos. Dia menelan saliva, sebab tubuh yang dulu terluka parah, kini tampak aduhai.
Menjadi teringat saat dia membersihkan dan mengobati tubuh tersebut. Kini tubuh itu segera menyentuh dia untuk menyatukan hasrat cinta.
Hansen memulai lagi kemesraan mereka. Bibirnya merasai leher Yolanda, kedua tangan memainkan melon kembar si nona.
“Akh─” terdengar lenguhan pelan Yolanda yang tergelesir sentuhan hasrat Hansen, “Viktor!” tubuhnya menggeliat kesenangan di mana kedua tangan spontan mengelusi punggung sang CEO. Kedua mata terpejam, merasa inikah cinta dewasa? Benarkah dia yang dijadikan pembantu dicintai Hansen? “Viktor─” disebut nama pria itu sebab merasakan melonnya mulai dinikmati putra Watson tersebut. Napasnya mulai memburu. Bagian bawah tubuh dia bergesekan dengan badan sang CEO.
Tidak lama Hansen mulai menyurukan pusaka kramatnya yang belum pernah menjajah oase perempuan mana pun ke dalam oase milik Yolanda.
Yolanda merasa sedikit perih karena gesekan pusaka itu dan terhentak manakala pintu oase berhasil dibuka.
“Ugh!” terdengar pula suaranya, lantas kedua mata terbuka, melihat Hansen kini memaju mundurkan pusaka dalam oase, membuat napasnya sedikit sesak dipenuhi hasrat pria itu. “Akh─!” lenguhnya kembali terdengar sebab Hansen mulai mengocok oase dia dari pelan, sedang, lantas kencang dan kuat. “Viktor..akh..Tuhanku..akh..!” hanya kata-kata itu yang meluncur dari bibirnya. Kedua tangan meremasi sprei, tubuh menggeliat. Ingin dia melepaskan diri tapi kenikmatan membelenggu.
Pergumulan tersebut begitu panas, sebab Hansen menggebu-gebu ke Yolanda. Pria ini pun tidak memakai k****m, ingin maksimal bercinta dengan kekasih hatinya.
Perempuan itu menghela napas, duduk di kursi, badan dihadapkan ke ranjang yang menjadi saksi bisu percintaan panas Hansen dan Yolanda. Satu tangan dia mulai mengepal kuat, wajah tampak geram.
“Harusnya─” suara dia pun terdengar, “Aku yang mendapat itu dari Viktor.” Ujarnya merasa kesal mengapa Yolanda yang dimesrai Hansen. “Tangjie hanya pembantu dengan pendidikan rendah.” Dihina Yolanda sambil memukul kepalan tangan ke meja.
Bugh!
Setelah itu dia kembali menghela napas, “Sial!” dari bibir dia menyembur kata makian, “Dia sudah mati, Viktor tidak bisa kutemukan!” merasa semakin kesal karena Yolanda yang sudah dibunuh Norman, tapi dia tidak menemukan jejak Hansen. “Mengesalkan!” dia menyembur marah lagi, “Yeye tidak mengejar Norman s****n itu untuk dibunuh polisi!” teringat Steven tidak menuntut Norman ke jalur hukum, “Bayi itu pun dalam penjagaan ketat Yeye!” teringat pula Donita, “Mengapa tidak sesuai yang aku rencanakan!” jeritnya kesal bukan main.