"sepertinya kamu tidak bersedia membahas masalah itu. aku minta maaf atas perbuatanku dan Azizah tadi. aku melakukannya karena sedikit iri padamu. aku yakin kamu punya kisahmu sendiri yang tidak ingin kamu bagi dengan orang lain. lupakan masalah pertanyaan ku tadi, ayo kita mulai bekerja. "
Tutik kembali membawa Nisha melewati lorong-lorong dirumah besar itu menunjukkan kamar per kamar dan pemiliknya.
" biasanya jam 9 Tuan dan Nyonya sudah tidak ada dirumah ini, mereka memiliki aktivitas masing-masing, para tuan muda pergi ke perusahaan, nyonya besar biasanya arisan, para nyonya berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. jadi ini adalah kesempatan pada kita untuk membersihkan kamar mereka dan mengambil pakaian kotor. jangan sekali-kali masuk ke kamar mereka kalua mereka ada dirumah. apakah kamu mengerti.? "
"iya kak, saya mengerti. "
"sepertinya kamu sudah biasa melakukan pekerjaan berat. sebenarnya apa pekerjaanmu sebelumnya.? "
"saya bekerja sebagai cleaning service kak. "
"tuan muda ketiga menghamili seorang cleaning service.??!" Tutik begitu terkejut, tanpa sadar ia melontarkan kata-kata itu yang membuat Nisha terdiam dan tertunduk.
"ahh.. maaf, aku tidak bermaksud merendahkanmu, hanya saja selama 5 tahun bekerja dirumah ini, tuan muda ketiga merupakan pribadi yang paling sulit di dekati di bandingkan kakak-kakak nya. aku hanya tidak menyangka ia bisa melakukan hal itu. apakah kamu melakukan kecurangan padanya.? "
Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya ,air mata mulai menggenang di wajah cantiknya. membuat Tutik bersalah telah melontarkan kata-kata itu.
"ahh.. maafkan aku, lagi-lagi mulutku bertindak lebih dulu, tolong lupakan kata-kataku. " Tutik mengenggam tangan nisha berusaha meminta maaf padanya. Nisha hanya bisa tersenyum kemah, tiba-tiba serangan mual datang melandanya. Nisha begitu bingung dan panik ,dia menutupi mulutnya, Tutik menyadari kalau nisha akan segera muntah. Tutik membuka kamar terdekat ( yang kebetulan kamar Zico) dan membawa nisha ke toilet kamar itu.
hoooeeeek... hooeeek....
Nisha memuntahkan isi perutnya .Tutik berusaha membantunya dengan cara menepuk-nepuk punggung Nisha. entah mengapa segala rasa benci dan iri yang tertanam pada hatiya berubah menjadi rasa kasihan. dia merasa yakin kalau gadis yang polos itu tidak bersalah. pasti laki-laki iti yang bersalah.
setelah hampir 10 menit berjuang memuntahkan isi perutnya, akhirnya Nisha menyandarkan tubuhnya di dinding toilet. wajahnya terlihat pucat pasi, keringat dingin memenuhi wajahnya ,Tutik merasa kasihan. dengan lembut ia membersihkan keringan di kening Nisha dengan handuk yang ada disana.
"kamu tiap hari mengalami hal ini.?? "
"ba.. baru beberapa hari kak.. "
"kasihan sekali kamu, seharusnya di masa-masa seperti ini ada suami yang mendampingi mu. jangan seperti aku.. "
"ma.. maksud kakak..? "
"gak..., gak ada maksud apa-apa, nanti kalau kita sudah dekat dan dalam kondisi santai, aku akan menceritakan kisah hidupku. sekarang ayo kita turun. aku akan membawamu ke kamarmu. sepertinya kamu tidak bisa melakukan pekerjaan- pekerjaan rumah tangga dengan kondisi tubuhmu yang seperti ini. "
"ta... tapi kalau saya tidak melakukannya nyonya besar akan marah. "
"dia tidak akan begitu marah, ada cucunya diperutmu. "
"ta... tapi beliau tidak menyukaiku kak. "
"mungkin dia tidak menyukaimu tapi ia tidak bisa mengabaikan cucunya sendiri, ayo turun kebawah dan sebaiknya kamu segera beristirahat. " Tutik menuntun Nisha ke kamarnya, sebenarnya Nisha begitu keberatan, dia begitu sadar dengan posisinya dirumah iti. dia tidak lebih dari seorang perempuan hina yang keberadaannya sangat tidak di inginkan semua orang. laki-laki itu membuatnya tinggal dirumah ini bukan karena ia menginginkannya, melainkan mengiginkan anak di dalam kandungannya. maka dari itu, dia harus membuat dirinya sendiri berguna dirumah ini .caranya dengan melakukan pekerjaan rumah, karena hanya hal itu yang bisa di lakukannya.
Nisha kembali kekamarnya, didalam kamar ia berusaha merebahkan tubuhnya. ketika sedang memejamkan matanya, terdengan bunyi pesan masuk di ponselnya, Nisha begitu penasaran siapa yang menghubunginya.? apakah rekan kerjanya.? apakah orang di kampung.? dengan segeran Nisha mengambil ponsel yang diletakkan di meja sebelah tempat tidurnya. ternyata dari nomor tak di kenal, tapindia sedikit familiar dengan nomor itu.
"jangan lupa untuk memeriksa kandunganmu 2 minggu sekali. minta kak Qintan untuk menemanimu. jaga dirimu dan bayi itu baik-baik. jangan melakukan pekerjaan -pekerjaan yang melelahkan. bila ingin makan sesuatu minta bu Lastri untuk membuatkannya .bila ingin makan sesuatu yang tidak ada dirumah, kirim pesan padaku. aku akan menyuruh Hery untuk membawakannya untukmu. bila butuh sesuatu hubungi aku. "
Nisha membaca pesan itu berulang-ulang, seandai pesan itu bukan dari laki-laki jahat itu, mungkin dia akan senang menerimanya. sudah lama tidak ada orang yang begitu perhatian padanya selain ibunya. mendapatkan perhatian sekecil apapun sudah membuatnya senang. namun sayang sekali, pesan itu datang dari orang yang tidak ingin dilihatnya.
Nisha memutuskan untuk mengabaikan pesan itu, ia kembali memejamkan matanya. mungkin ceritanya berbeda bila ia hamil anak laki-laki yang ia cintai. dia akan mencintai laki-laki itu dan anaknya. semua perhatian itu pasti membuatnya senang, proses kehamilan ysng berat ini pasti tidak dirasakannya. dia pasti dengan senang hati akan menunggu kelahiran bayi itu bersama laki-laki yang di cintainya.
tapi sekarang ia hamil anak yang tidak di inginkannya, sebenarnya tidak ada alasan baginya untuk membenci anak ini, namun karena ayah anak ini laki-laki yang di bencinya sedikit banyak dia tidak bisa memberikan cintanya untuk anak ini. dia sedikit kasihan bada bayinya itu, semoga saja pada saatnya tiba ia meninggalkan anak ini nantinya tidak akan ada penyesalan dalam hatinya. semoga bayinya akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. dia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Cinta itu kepada bayinya.
bulir-bulir air mata mengalir di pipi nisha. sepertinya bayi dalam kandungannya adalah bayi pertama dan terakhir akan di lahirkannya. dia memutuskan untuk tidak menikah dan tidak memiliki anak untuk selamanya. dengan pikiran seperti itu, Nisha mulai terlelap.
Nisha terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ketukan dengan keras dan daun pintunya mulai terbuka.
"siapa yang menyuruhnya untuk bermalas-malasan .! aku sudah memberitahukan mu Lastri agar memperlakukannya sama dengan yang lain. Kenapa kamu membiarkan nya bersantai d enak -enakan begini ketika yang lain masih melakukan pekerjaannya.? "mama datang dengan marah-marah, Nisha kembali duduk dari posisi awalnya yang tidurnya.
" bukan begitu nyonya. kasihan dia nyonya, tadi dia muntah-muntah dan wajahnya pucat maka dari itu saya menyuruhnya beristirahat sebentar sebelum melakukan pekerjaan seperti yang lainnya.. "
"jangan perlakukan dia dengan istimewa ,dia bukan siapa-siapa, dia sama dengan kalian bahkan posisi dia lebih rendah dari kalian. ingat itu.! "
"heh, kamu cepat turun dari tempat tidur dan kerjakan pekerjaan mu.! jangan kamu pikir kami menyediakan makan dan tempat untuk tidur ini gratis. "
"ba... baik nyonya, sa.. saya akan segera melakukannya.. " Nisha turun dari tempat tidur dan mulai berjalan ke dapur mencari pekerjaan yang bisa di lakukannya. "
***