"bangunkan dia. "
kepala ART membangunkan Nisha dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan lembut.
"nona muda, bangun.pagi sudah datang.nona muda, nona... "
"dia bukan nona muda .! statusnya sama dengan kalian bahkan lebih rendah.!" merasa tidak sabar, mama menarik kaki Nisha. membuat gadis itu terjatuh dari kasur. Nisha lansung bangun seketika.
"a... a... ada apa ini.? " tanya nisha kebingungan.
"kemasi barangmu. tempatmu bukan disini.! " mama manarik tangan Nisha, berusan membuat gadis itu berdiri dan segera kaluar dari kamar itu.
Nisha berjalan dengan patuh, dia mengemasi barang-barangnya dan berusaha membawanya sekaligus.kepala asisten rumah tangga ingin membantunya tapi tidak di izinkan.
"gak perlu kamu bantu. sekarang dia jadi anak buahmu. tunjukan dia kamarnya. "
"ta.. tapi kata tuan muda, nona ini akan tinggal di kamar ini nyonya.. "
"aku penguasa dirumah ini.! perkataanku adalah peraturan. tidak mematuhi peraturan yang ku buat, siap-siaplah keluar dari rumah ini.! segera bawa dia ke kamarnya agar dia tahu posisinya.! dasar wanita tidak tahu diri. " mama berkata api-api membuat kepala asisten takut sendiri.
akhirnya kepala ART mengikuti perkataan mama, dia membawa Nisha ke kamar khusus ART, di dalam kamar ia berusaha meminta maaf kepada Nisha.
"maaf nona,saya tidak bisa menolak perintah nyonya. tolong jangan berkata macam-macam kepada tuan muda. kami juga takut pada beliau. dirumah ini kita bukanlah apa-apa, hanya seseorang yang menjalankan perintah. sekali lagi saya minta maaf nona. " kepala asisten memegang lengan nisha, meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
"iya bu gak apa-apa, saya memang tidak pantas tinggal dikamar mewah itu bu. saya lebih pantas tinggal disini. malah tempat ini lebih Bagus dari kamar kos saya. saya bersyukur bisa tinggal disini bu. " Nisha menatap ruangan dengan ukuran 2x3m itu dengan puas .dia menggengam tangan asisten itu dengan hangat, berusaha menghilangkan segala kegelisahannya.
"maafkan saya nona, nyonya memberi perintah agar nona melakukan pekerjaan seperti yang kami lakukan... "
"tapi saya sudah bekerja di perusahaan.."
"menurut pak Zico nona tidak perlu lagi ke perusahaan. nona disuruh menetap disini sampai bayi itu lahir. "
Nisha tidak bosa berkata apa-apa, dia sangat bingung dengan kondisinya. kalau dia tidak di ijinkan bekerja lagi,lalu bagaimana ia bisa mengirimakan uang kepada keluarganya.seharusnya di pasal perjanjian ia menambahkan, PIHAK 1 dilarang ikut campur urusan PIHAK 2 masalah kerjaan. tapi apalah daya pihak 1 ada pimpinan perusahaan tempatnya bekerja jadi pasti akan bersikap semena-mena terhadapnya.
"ba.. baiklah, jadi apa yang harus saya kerjakan sekarang bu.? "
"nona sebaiknya menganti baku nona dengan seragam ini. setelah itu, nona bisa ikut saya ke dapur." kepala asisten yang bernama Lastri itu memberikan baju seragam yang ada di tangannya. kemudian ia membiarkan Nisha untuk berganti baju. belum sempat berganti baju sudah terdengan bunyi ketukan pintu di kamarnya.
tok... tok.. tok.. Nisha membuka pintu kamar dan ternyata bu Lastri ada di depan pintu.
"ya bu.. ?"
"nona, asisten Gery menunggu anda di depan. sebaiknya anda temui dulu karena ini pasti berhubungan dengan perintah tuan muda."
dengan enggan Nisha mematuhi saran itu. dia tidak ingin bertemu pria itu dan asistennya. kenapa sekarang asisten menyebalkan itu mencarinya lagi.?
diruang tamu nampak asisten Gery menunggunya dengan tidak sabar. setelah melihat Nisha,ia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Nisha.
"ini dari di rektur, gunakan ini untuk kebutuhan anda. terserah anda mau gunakan untuk apa. yang ini gunakan untuk keperluan bayi itu. entah itu buat control ke dokter, beli vitamin, beli buku atau film pengetahuan tentang bayi. pokoknya apapun untuk keperluan bayi pakai kartu ini. mengerti.?" asisten Gery menyerahkan dua kartu ATM kepada Nisha.
"sa.. saya tidak butuh ini..! saya akan mengambil kartu yang ini. " Nisha mengambil kartu yang di khususkan untuk keperluan bayi.
"anda harus mengambil semua kartu ini. anda tidak kerja lagi di perusahaan sekarang. anggap saja direktur mengajimu seakan-akan kamu masih kerja di perusahaan. oke.? " Gery menyerahkan kedua kartu itu di tangan Nisha, tampa berpamitan ia Langsung pergi meninggalkan Nisha yang tidak memiliki kesempatan untuk menolak.
Nisha menatap kedua kartu ATM itu dengan bingung. akhir nya ia memutuskan untuk menyimpan kedua kartu itu dengan baik dan menggunakannya di saat-saat ia benar-benar membutuhkannya.
Nisha kembali ke kamar barunya. segera menganti bajunya dengan baju seragam dan pergi mencari bu Lastri.
"nona silahkan ikuti saya." bu Lastri mengajak Nisha berkeliling dirumah super besar itu. mengenalkan segala macam pekerjaan yang biasa di lakukan oleh ART. terakhir dia membawa Nisha ke dapur.
"Tuan muda sudah berpesan kepada saya untuk menjaga anda, jadi nona tidak perlu melakukan semua jenis pekerjaan ini. ketika ada nyonya besar, nona hanya perlu berada di dapur ini. dan melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. ketika nyonya tidak ada dirumah, nona bisa kembali ke kamar dan beristirahat .nona harus benar-benar memperhatikan kesehatan nona, terutama kesehatan bayi nyonya. "
"tapi saya bersedia melakukan semua pekerjaan ini bu, saya sudah terbiasa melakukannya... "
"nona, tuan muda sudah berpesan seperti itu. saya tidak bisa mengabaikan permintaan beliau. karena sekarang nyonya besar tidak ada dirumah, silahkan nona kembali ke kamar dan beristirahat."
"tapi ini masih pagi bu, saya tidak bisa bermalas-malasan, ijinkan saya membantu pekerjaan ibu." Nisha memegang tangan bu Lastri memohon untuk membantuya.melihat mata bening dan bulat itu membuat bu Lastri tidak bisa menolak permintaan Nisha. akhirnya bi Lastri membiarkan Nisha berada di dapur melakukan pekerjaan yang ringan-ringan.
di dapur iti terdapat 2 ART lainnya yang seumuran dengan Nisha dan melihat Nisha dengan tatapan tak suka.
"tik, kalau kamu pengen cepat kaya caranya gampang lho... "
"emang gimana caranya za.. ? aku lelah jadi pembantu terus za, aku pengen cepat-cepat kaya."
"kamu tinggal lempar tubuhmu ke ranjang tuan muda dan hamil anaknya. percaya deh, jamu bakal bisa lansung jadi kaya mendadak kayak dia tuh... " Azizah melempar pandangan tak sukanya pada nisha.
"kaya dari mananya za.?? dia sama kayak kita loh, lihat nasib dia malah lebih menyedihkan dibanding kita. udah dihamilin, gak di nikahin mala disuruh jadi pembantu. bener-bener pengen panjat sosial tapi gagal. kasihan sekali nasibnya. " Tutik berkata seraya mencibir Nisha.
membuat hal itu semua tidak membuat nisha bersedih, dia mala bersyukur pria itu tidak menikahinya, setidaknya ia tidak perlu tinggal satu atap dengannya .
menjadi pembantu membuatnya menyedihkan.??? tentu saja tidak, dia sudah terbiasa dangan pekerjaan seperti ini. seumur hidup sudah di habiskan menjadi pesuruh orang lain. jadi nasib seperti ini benar-benar tidak membuatnya sedih.
hal yang di i inginkannya adalah agar sembilan bulan cepat berlalu. dia ingin segera melahirkan bayi ini. memberikan apda pria itu kemudia ia akan memutuskan hubungan dengan pria itu dan bayinya untuk selamanya.
***