Dua Puluh Tujuh: Kebohongan

1836 Kata

"Bunda bilang juga apa kak, istirahat! Kalau udah begini, siapa yang ngerasa gak enak? Kakak sendiri kan? Bandel banget sih di bilangin. Kamu tetep bisa makan kok kalau libur sehari." Omel Qiana sambil mengganti kompres Dio. "Biasanya engga kok bun" "Udah diem, gak usah bales kalau bunda lagi ngomel. Kamu udah sakit sekarang, jangan kasih alasan apapun" Qiana menatap kesal Dio. Entah apa yang merasuki anaknya, beberapa hari ini Dio kerja seperti orang gila. Jika biasanya Dio sibuk, beberapa hari ini bisa dikatakan jauh lebih sibuk. Tidak pulang, selesai dari satu pekerjaan lanjut pekerjaan lain sampai akhhirnya drop dan terbaring di atas tempat tidur dengan kondisi tubuh lemah dan demam. Dio tersenyum, wajahnya begitu pucat "maaf bunda" "bunda bilang diem ya kak. Bunda lagi marah nih.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN