Aurora membuka matanya yang terasa berat. Semalaman dia hanya bisa menangis. Menangisi fakta yang begitu menyakitkan. Apa yang sudah dia lakukan, apa yang sudah dia korbankan, ternyata semua untuk sebuah kebohongan. Dia bahkan melukai orang yang mencintainya sepenuh hati. Air mata kembali membasahi pipinya, rasa sedihnya tidak akan hilang begitu saja, setiap kalimat yang keluar dari mulut Arfi menempel begitu rekat, dan selalu berhasil memancing air matanya untuk terus menetes. Pintu kamar terbuka, Aurora mengusap pipinya dengan kasar. "Tanda tangan!" Arfi melempar berkas ke pangkuan Aurora. Aurora meraihnya, membacanya dengan seksama, awalnya dia kira berkas tersebut adalah gugatan cerai, tapi salah. Surat-surat itu adalah pemindahan harta atas nama Aurora ke Arfi. Aurora adalah satu

