Malam mulai turun di Semarang. Hujan rintik mengguyur jalanan, membiaskan cahaya lampu kota yang temaram. Dari jendela apartemen lantai dua puluh itu, Nu menatap ke luar dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat, namun matanya tajam — seperti seseorang yang baru saja kehilangan sekaligus menemukan kesadaran baru. Ryan duduk di belakangnya, berselimutkan handuk setelah mandi. Napasnya belum sepenuhnya stabil, tapi kesadarannya kini benar-benar pulih. Di sofa, Yuni Ndaru, Tya, Bianca, dan Dinda tengah sibuk menyiapkan secangkir teh jahe hangat. “Nu,” panggil Ryan pelan, “Apa kamu yakin mau lawan ibumu sendiri?” Nu menoleh. Pandangan matanya lembut tapi penuh luka. “Kalau ibu bukan lagi ibu yang aku kenal… kalau yang tinggal di tubuhnya sekarang cuma dendam dan kegelapan, aku harus melawannya,

