Suasana di ruang tengah apartemen Ryan masih terasa hangat setelah malam berlalu. Pagi diisi dengan sarapan bersama. Namun ada sesuatu yang belum terselesaikan. Ryan duduk di sofa, wajahnya letih namun lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Nu duduk di sampingnya, meremas tangannya erat, seakan ingin memastikan Ryan tetap ada di sisinya. Yuni Ndaru, Tya, Bianca, dan Dinda melingkari mereka. Hening cukup lama sebelum akhirnya Tya membuka suara. “Nu, Ryan… ada sesuatu yang sebenarnya udah lama pengen aku kasih tahu,” kata Tya pelan, tapi tegas. Semua mata langsung tertuju padanya. Tya menunduk sejenak, menahan napas, lalu melanjutkan. “Tapi sebelum itu, aku minta maaf. Maaf banget kalau ini bikin sakit hati.” “Kenapa, Tya?” tanya Nu penasaran. Tya mengeluarkan ponselnya, menggulir

