Tawa memenuhi ruang makan apartemen Ryan. Aroma sup jagung, sambal goreng cumi, dan lodeh santan yang gurih masih mengepul dari mangkuk-mangkuk besar di meja. Piring-piring berisi nasi hangat menambah suasana akrab. “Enak banget, sumpah. Aku baru kali ini masak rame-rame sampai ketawa terus,” ujar Tya sambil menyendok sambal goreng. Yuni Ndaru mengangkat alis. “Padahal tadi kita panik setengah mati. Liat, sekarang malah kayak arisan ibu-ibu.” Semua tertawa, termasuk Ryan. Ia duduk di samping Nu, wajahnya jauh lebih segar dari beberapa jam lalu. Sesekali ia menatap Nu, matanya penuh kelembutan yang membuat Nu merasa hatinya mencair. Bianca mencondongkan tubuh ke depan. “Mas Ryan, jujur aja… tadi kamu tuh sebenernya kenapa? Kita bener-bener takut kehilangan kamu, lho.” Ryan terdiam seje

