Pagi di Semarang datang dengan kelembutan yang menipu. Sinar matahari merembes pelan lewat tirai kamar apartemen Ryan, mencium pipi Nu yang masih terlelap di pelukannya. Udara hangat, aroma kopi baru, dan dengung lembut AC menciptakan suasana yang seolah menghapus seluruh kelam semalam. Ryan membuka matanya perlahan. Di depannya, wajah Nu tampak damai, bibirnya sedikit terbuka, rambutnya berantakan menutupi sebagian pipi. Sejenak, Ryan menatapnya lama, merasakan detak jantungnya yang berirama tenang. Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian badai, aku merasa utuh. Di meja samping ranjang, lilin kecil sisa pesta tadi malam masih menyisakan lelehan lilin yang mengeras. Kue “BIAR HATI SAJA” tinggal setengah. Tapi bagi mereka, itu lebih dari sekadar kue — itu simbol kebangkitan. R

