“Sayang, Lilith Sayang, kenapa jendela kamarmu akhir-akhir ini tak kau biarkan terbuka, kau tak apa-apa?”
Lilith menoleh ke ibunya yang mendatanginya ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Dia masih duduk di kursinya, dengan kedua tangan memegangi gelas berisi s**u di atas meja.
Wanita paruh baya berambut merah menyala itu tampak letih selepas bekerja. Dia buru-buru melorot ke atas kursi, memandangi putri semata wayangnya yang sedang murung, lalu mengganti pertanyaan, “kau kelihatannya banyak pikiran, Sayang?”
“Maaf, Mom, aku merasa ada yang mengawasiku, jadi aku lebih baik tak membuka jendela terlalu lama.” Lilith mengatakannya dengan suara amat lembut, hampir tak dipercaya kalau dia adalah gadis SMA tahun terakhir. Dia terlalu lembut layaknya seorang gadis kecil.
Dan ya, sang ibu selalu merasa kalau Lilith adalah gadis manisnya.
“Mengawasi apa? Apa kau ada masalah lagi? Dengar, bentuk bully apapun—yang mungkin—,” ucap wanita itu agak sulit mengutarakan maksudnya agar tak membuat Lilith takut. Dia masih ingat kejadian saat Lilith masih di sekolah menengah pertama, tahun-tahun penuh tuduhan kalau putrinya itu terkutuk—penyebar kesialan.
Lilith menyunggingkan senyuman. “Bukan, Mom, jangan khawatir, tak ada yang mengangguku, mereka baik padaku, tidak perlu pindah sekolah atau semacamnya.”
“Sungguh?”
“Sungguh, kalau aku bohong, hidungku pasti panjang,” canda Lilith sambil menyentuh ujung hidungnya, “tidak’kan?”
Mom mencubit hidungnya dengan gemas. “Lilith Isadora Wilson, kau manis seperti biasa.”
Lilith memalingkan wajah hingga cubitan itu lepas. “Hentikan, jangan selalu memperlakukanku seperti anak-anak, aku sudah tujuh belas tahun.”
“Oh, Sayang, bagi kami kau masih seorang gadis tiga belas tahun yang imut dan polos. Lagipula kau baru seminggu berulang tahun, kami bahkan belum sempat memberimu hadiah, maafkan kami, tapi jangan khawatir, kami menyiapkan sesuatu yang cantik untukmu.”
“Tidak perlu, kalian sudah memberikan kue kemarin, itu sangat menyenangkan, lagipula untuk apa merayakan ulang tahun, bukankah itu mendekati kematian, mengapa dirayakan.” Lilith terdengar tak suka dengan konsep kematian. Sejak dilahirkan, dia memiliki satu ketakutan—yang kebetulan adalah ketakutan semua orang yaitu kematian. Akan tetapi, ketakutannya pada kematian melebihi semua orang, bukan karena dia takut meninggalkan dunia ini, tapi dia merasa seperti akan mengulangi kemalangan lagi.
Ya, terkadang dia menyadari ada yang aneh dengan kehidupannya,s egalanya selalu sama—dan parahnya dia seperti terjebak di sebuah labirin tanpa ujung, dimana saat dia mati di dalamnya, dia akan hidup lagi disitu, dan akan terus terjadi selamanya. Namun mengapa dia sampai berpikir demikian? Darimana pemikiran itu berasal?
Mom mengerutkan dahi. “Setiap tahun kau selalu mengatakan itu, ayolah, Sayang, jangan menakuti Mom, kau jangan berkata seperti akan mati begitu—kau masih remaja, ayahmu saja sangat senang saat bertambah usia, tambah usia tambah keberuntungan.”
Lilith kembali tersenyum. Dia lupa kalau harus senantiasa bersikap baik, bagaimanapun wanita yang ada di depannya ini sangatlah baik. Tidak mungkin dia menunjukkan sisi suram padanya.
“Aku tahu, tapi tidak perlu yang mahal, oke,” ucapnya.
“Hadiahmu akan selalu mahal karena kau putri kami satu-satunya,” kata Mom berdiri lagi, lalu mengacak lembut rambut lurus putrinya itu, “sudahlah, kau sudah makan siang, Sayang?”
“Aku sudah makan roti isi di lemari pendingin.”
Mom buru-buru membuka pintu lemari pendinginnya, menemukan sisa roti kemarin. Dia menghela napas panjang, lalu meraih semangkuk pasta dan sausnya. Dia menaruh makanan itu di meja dapur. “Kan sudah Mom buatkan pasta tadi, tinggal dihangatkan saja, kenapa malah makan roti sisa kemarin? Itu jatahnya ayahmu.”
Lilith tertawa kecil. “Tolong jangan buat Dad sakit perut lagi, Mom tahu perutnya sangat rapuh.”
Mom memanaskan pasta itu di dalam microwave. “Lebih baik ketimbang putriku yang harus menghabiskan makanan sisa.”
Mendadak, ada sahutan suara, “apanya yang sisa?”
Lilith menoleh ke arahnya. “Dad, selamat datang.”
Mom menoleh sekilas, “oh, Sayang, tumben sudah pulang. Kantormu bangkrut?”
“Lil monster,” panggil pria paruh baya berkaca mata itu seraya mengecup kening sang putri, lalu mendaratkan pula ciuman mesra pada sang istri yang masih sibuk menyiapkan pasta. “Jangan bilang pasta lagi, tidak bisakah kau membuatkan makanan yang layak untuk keluargamu?”
“Oh, jangan pernah menghina pasta Mrs. Lene Wilson—kau dapat makanan sisa, Sir,” bisik Mom mengedipkan mata pada suaminya, “ambil di kulkas.”
Dad tertawa terbahak-bahak. Ia melonggarkan dasinya, lalu duduk di kursi yang bersebrangan dengan Lilith. Dia bergurau dengan berkata, “apa kita semiskin itu sampai makan makanan sisa setiap hari? Apa gunanya aku bekerja di perusaan finance itu mati-matian kalau cuma makan roti isi sisa kemarin.”
Lilith tersenyum lebar. “Kenapa Dad pulang lebih awal?”
“Palingan alasan sakit perut,” jawab Mom menahan tawa.
Dad meralat, “ada insiden di kantor, seperti ada sesuatu yang menghantam atap kantornya dari atas, tapi aku pulang sebelum mereka mengetahui apa itu.”
“Apa?” Mom kaget, lalu bertanya dengan candaan, “menghantam? Maksudmu meteor?”
“Entahlah mungkin alat berat yang tak sengaja menghantam, tapi anehnya aku melihat cahaya terang sekali dari kaca jendela kantor sesaat setelah hantaman atap itu, makanya agak aneh—lalu lenyap, sudahlah,yang penting aku pulang—dan kita bisa makan roti sisa bersama,” jawab Dad sama sekali tak peduli apa yang membuat bangunan kantornya nyaris ambruk. “Tonton saja Breaking News, mungkin ada siarannya—kalau ada.”
“Kalau kau saja tidak peduli, mungkin pohon runtuh,” balas Mom menaruh piring pasta ke dua keluarganya itu, “kita makan saja.” Dia melihat Lilith yang tampak memikirkan sesuatu lagi. “Lil, kau jelas memikirkan banyak hal? Jujurlah, Sayang.”
Dad menyeringai. “Jangan-jangan ada laki-laki ya?”
Lilith malah penasaran dengan penjelasan ayahnya barusan. Setiap kali dia mendengar kata ‘cahaya’, dia selalu mengaitkannya dengan malaikat dan surga. Dia juga tidak paham, mengapa makin lama, kegilaannya pada surga dan neraka makin kelihatan. Apakah terlalu banyak membaca buku mitologi? Ataukah karena terlalu kepikiran teman sekelasnya yang bernama aneh itu?
“Lil?” panggil Mom mulai khawatir, dia hendak menyentuh telapak tangan anak gadisnya itu.
Akan tetapi, Lilith beranjak pergi dengan alasan, “aku lupa mengerjakan tugas sains, Mom, aku ke kamar dulu.”
Dia meninggalkan kedua orang tuanya dengan tanda tanya besar.
Tujuannya hanyalah kamar, lalu laptop, dan saluran internet.
Di dalam kamarnya yang serba warna pastel, dia duduk di tepi ranjang, lalu mulai berselancar di dunia maya, mencari tahu kemungkinan pemberitaan kantor ayahnya.
Aneh sekali, dia seperti ingin memastikan sesuatu.
“Kalau dipikir-pikir, sejak usiaku menginjak 17 tahun, orang-orang itu mulai datang—,” ucapnya pada diri sendiri sambil membuka video pemberitaan kantor ayahnya yang masih baru saja diposting dengan judul:
CAHAYA MENGHANTAM ATAP KANTOR E.L Finance?
Sesuai judul, isi rekaman CCTV yang berdurasi hanya lima belas detik itu menunjukkan ada cahaya yang menghempas turun dari langit, langsung menghantam atap, namun kemudian tak ada yang terlihat—cahaya itu sirna.
“Cahaya terang?” ulang Lilith mengingat kesaksian sang ayah. Walaupun orang-oang berkomentar kemungkinan ini hanyalah pantulan cahaya saja, namun dia merasa ini—semakin aneh.
Ada enam murid baru yang bernama unik, masuk ke sekolahnya selepas dia berulang tahun.
Ada satu murid lainnya yang langsung memikat hatinya di detik pertama berpandangan.
Setelah pertemuan itu,kantor sang ayah yang tertimpa cahaya hanya berjarak satu kilometer dari tempat tinggalnya.
Lilith melirik ke buku mitologi iblis yang ada di atas meja samping ranjangnya.
“Siapa mereka?” gumamnya mengeryih.
***