Starry High School bukanlah sekolah terbaik di kota ini, tapi semenjak kedatangan ketujuh murid baru itu, mendadak banyak murid dari sekolah lain yang mulai memperhatikan area ini. Mereka semata-mata hanya ingin mengetahui para kawanan serigala yang dikatakan mampu membius mereka sampai ke langit.
Ketujuh lelaki itu selalu pulang dan berangkat sekolah bersama dengan dua mobil Chevrolet hitam mengkilat. Kendaraan itu sama sekali tidak “wah” saat berjajar di antara kendaraan lain di area parkir sekolah, tapi merekalah yang membuat semua orang tertegun.
Ketampanan tidak manusiawi, mereka adalah dosa, sama sekali tidak masuk akal.
Luc dan keenam temannya tampak keluar dari parkiran dengan gaya modis lagi. Mereka lebih pantas masuk studio pemotretan ketimbang sekolah.
“Dasar sombong,” ucap Lilith malah tak suka saat mereka jadi pusat perhatian. Entah kenapa ada percikan kecemburuan yang mengalir dalam dirinya, terutama saat Luc menyapa beberapa adik kelasnya.
Dia berjalan di koridor menuju ruang kelas di lantai dua. Sebentar lagi mata pelajaran sejarah akan dimulai, itu salah satu favoritnya. Setidaknya saat pelajaran itu berlangsung, dia dianggap ada di mata sang guru.
Saking semangatnya mendaki anak tangga, dia sampai tak sadar kalau di belakangnya sudah mendekat teman barunya. Lucius Ferre. Anehnya, dia sendirian tak ditemani teman-temannya.
“Selamat pagi, kau dari kemarin belum memberikan namamu,” sapanya berjalan di sebelah Lilith. Aroma wewangiannya yang menggoda ini sontak merasuk ke dalam hidung gadis itu. Tidak diragukan lagi sisi maskulinnya, dia adalah seorang Alpha.
Kalau saja di luar sekolah, reaksi normal Lilith adalah lari terbirit-b***t ke rumah.
“Lilith,” ucapnya pelan sambil membuang muka, jantungnya berdebar-debar. Dia meyakinkan diri kalau sebentar lagi sampai di ujung anak tangga, jadi tak perlu takut. Namun mengapa harus takut? Ini takut atau malu?, dia seperti ingin mengubur dirinya sendiri.
Tak suka dihiraukan lagi, Luc langsung menghadang langkah Lilith.
Lilith terhenti sebelum langkah terakhir anak tangga ini. Karena kebingungan, dia berpindah arah, tapi tetap dihalangi oleh lelaki misterius ini. “Kumohon meyingkirlah.”
“Bagaimana kabarmu”
“Baik.”
“Kau tak ingin tanya kabarku?”
Lilith ragu dengan sikap supel Luc ini. “Mmm—”
“Aku juga baik-baik saja,” sahut Luc tersenyum ramah.
“Lucius, aku harus ke kelas,” ucap Lilith ingin menerobos tubuh tinggi lelaki ini, “bisakah kau menyingkir?”
“Panggil aku Luc, bukankah sudah kubilang kemarin?”
“Iya, Luc, boleh aku lewat? Aku ada kelas sebentar lagi.”
“Kau ambil kelas apa hari ini?” tanya Luc mengacuhkan permintaan Lilith. Dengan egois, dia masih menghadangnya sembari mata tetap memperhatikan wajah gadis itu. Tak puas rasanya memandangnya.
“Sejarah,” jawab Lilith lirih, ragu dan gelisah.
“Aku juga. Apalagi?”
“Math.”
“Sama.” Luc menyeringai. “Besok aku ambil biologi, jangan-jangan sama juga?”
Lilith mengeryitkan dahi. Ia merasa kalau lelaki di depannya ini seperti menunjukkan kalau dia akan mengambil mata pelajaran sama dengannya, di waktu yang sama, kalau bisa dia akan memesan tempat duduk bersebelahan.
“Apa mereka temanmu?” tanyanya penasaran.
“Mereka?”
“Jangan pura-pura tak tahu, kalian mendadak masuk sekolah ini, kau berangkat dengan mereka tadi pagi.”
“Oh iya, mereka? tentu saja, mereka teman-temanku. Mengapa?”
“Aneh.”
“Aneh kenapa?”
“Ya, kalian—mendadak ke sini.”
“Kami hanya pindah sekolah.”
“Tapi kalian—”
“Kalian apa?”
“Lupakan.”
“Oh, apa kau tertarik pada salah satu dari mereka?”
“Apa? Tidak,” bantah Lilith menggeleng cepat, “bukan begitu.”
“Berarti tertarik padaku?” goda Luc dengan nada bersahabat layaknya telah kenal lama.
“Tidak juga!” Lilith membantah lebih keras, meskipun itu dusta. Iya, ia bukan seorang gadis normal kalau tidak menyukai sosok lelaki di depannya.
Luc menahan tawa. “Sikapmu manis, kau tahu itu?"
“Kenapa—kenapa kau sangat—” Lilith tak tahu kosa kata yang cukup pantas ditujukan padanya. Ia ingin mengatai, ‘dasar tukang rayu’, tapi sebenarnya itu hanya pujian. Lagipula sosok Luc terdengar sangat supel, pribadi yang menyenangkan, berbeda dengan dirinya.
“Sangat apa? Tampan? Terima kasih.” Luc tertawa kecil.
Lilith tak bisa membalas ucapan itu, memang benar, apanya yang mau dibantah.
“Aku hampir tak percaya ini,” kata Luc kembali memperhatikan penampilan anggun Lilith. Pandangan matanya tampak sendu sekaligus lega. “Akhirnya kita bertemu, Lilith.”
“Bertemu lagi? Maaf, tapi aku sungguh tak mengenalmu.” Lilith mengerutkan dahi, pertanda mulai curiga. “Apa kalian yang mengawasiku? Teman-temanmu mengambil apapun kelas yang kuambil, bahkan kelas bahasa Spanyol.”
“Well, bukan berarti aku mengambil kelas apapun yang kau ambil, tapi aku juga mengambil bahasa Spanyol lusa.”
“Kau bohong, apa maksudnya kalian menyamakan kelas denganku?”
“Kita memang akan selalu sekelas, kebetulan.”
“Tidak mungkin.”
“Lagipula aku suka Spanyol,” ucap Luc tersenyum lagi, “mi amor.”
Lilith berpikir sesaat, apa barusan itu termasuk sebutan bercanda, rayuan atau apa? Apa dia selalu seperti ini pada semua gadis—di minggu pertamanya masuk sekolah?
“Aku bisa membaca pikiranmu loh,” bisik Luc mendekatkan wajah, “aku tidak pernah merayu siapapun kecuali dirimu, jangan khawatir.”
Lilith terperanjat. Ucapan Luc seperti seorang kekasih yang meyakinkan kalau hanya dirinyalah yang terpenting di dunia. Spontan saja, dia mundur, nyaris saja terjungkal ke belakang kalau saja pergelangan tangannya tak diraih oleh Luc. Dia terdiam lama—sama seperti kemarin, begitu pandangan mata mereka bertautan, lagi-lagi perasaan aneh ini muncul.
Penantian macam apa ini? Mengapa aku sangat menantikannya, pikirnya menelan ludah.
Setelah Lilith kembali seimbang, Luc melepaskannya, lalu berkata, “maaf, mungkin aku mengejutkanmu.” Ia minggir untuk memberikan jalan kepada Lilith. “Ayo kita ke kelas bersama-sama dan kita—” Terhenti karena Lilith berlari mendahuluinya dengan wajah tersipu.
Ia terdiam lama di anak tangga itu, mengamati punggung gadis itu menjauh. Bukan hanya jantung Lilith yang berdebar, bahkan dia sendiri juga bisa merasakan kalau jantungnya bekerja lebih cepat. Jatuh cinta untuk kedua kalinya pada orang yang sama.
“Kau memang cantik dalam wujud apapun,” bisiknya dengan seringai lebar. Ada jutaan rencana tersembunyi dalam lengkungan bibir itu.
Hati-hatilah, kita diawasi, bisikan yang tiba-tiba mengalun di telinganya.
Dia menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali—terlihatlah mata memerah layaknya kobaran api membara. Melalui sepasang mata itu, dia bisa melihat kebalik tembok gedung ini, para cahaya turun dari langit.
Sebagian, kembalilah ke neraka, perintah Luc dalam hati. Dia berjalan menyusuri koridor lantai dua karena ada suara derap kaki mendekat dari lantai bawah.
Seorang murid lelaki berpas-pasan dengannya, tak sengaja dia melihat mata merah itu. Akibatnya, dalam sekejab dia merasa jiwanya terbakar, napasnya sesak seolah dia direnggut dari tubuhnya—tak berselang lama, ia ambruk di lantai.
Luc segera mengembalikan bentuk mata hitamnya. Ia menyeringai pada tubuh murid itu.
“Maaf, Sobat, aku lupa,” bisiknya lantas melarikan diri ke ruang kelas sejarah.
***