Lilith tidak nyaman dengan satu kelas dengan Luc dan beberapa temannya. Ya, kini mereka tak berenam, melainkan hanya bertiga, hingga sekarang pun dia haya hafal kalau si rambut pirang terang itu bernama Draven Asmodeus, lalu si tampan bertubuh berotot itu Kier Amon, dan si pemilik wajah manis dengan rambut madu itu adalah Reissig Mammon.
Selama pembelajaran tatapan mereka tak tertuju pada sosok guru pria tua yang mengajar, melainkan pada dirinya. Hal ini membuat beberapa teman sekelasnya, terutama para gadis, berbisik-bisik membahasnya.
Rita dan Jennifer adalah ratu di antara murid tahun terakhir sekolah ini, mereka sudah memiliki kekasih, tapi kelihatan rela memutuskan hubungan demi mendapat salah satu dari Luc dan teman-temannya. Keduanya sama-sama cantik dan modis, tak bisa dibandingkan dengan selera berpakaian anggun Lilith. Dan yang paling kentara, mereka paling cerdik saat menarik perhatian. Bahkan sanggup membuat Luc menoleh karena suara bisikannya.
Saat Jennifer, si cantik berrambut pirang lurus seperti bintang Hollywood itu bertatapan mata dengan Luc, dia berusaha membuat kerlingan matanya tampak menggoda. Tidak main-main, dia bahkan memainkan pensil di atas meja dengan cara yang s*****l. Bagi Lilith itu tindakan tak tahu malu karena dilakukan di saat gurunya menulis di papan.
Kau-aku, akan b******a?, ucap Jennifer dalam hati dengan tetap menatap Luc. Dia mengatakan isi hatinya dengan isyarat tangan.
Akan tetapi entah apa yang terjadi, tak lama setelah menatap mata Luc, gadis ini merasa perutnya mendidih, ada sesuatu hendak keluar dari dalam. Rasanya asam lambungnya naik ke tingkat yang berbahaya, perasaan mualnya tak terkendali. Sambil menutup mulut, dia berlari keluar kelas dengan ekspresi tak mengenakkan.
Semua orang kebingungan.
"Jenny?" teriak Rita panik.
Mr. Poe, guru sejarah mereka, menoleh ke ambang pintu, "Miss Grange, mau kemana kau?"
Akan tetapi Jennifer sudah terlanjur berlari ke sepanjang lorong, dan muntah di mana-man, sehingga beberapa murid kelas lain berhamburan keluar, mendapati gadis itu pingsan di lantai.
Sambil membuang bukunya, Mr. Poe mengumumkan, "kelas ditunda sampai minggu depan," lalu buru-buru menghampiri tubuh gadis itu. "Miss Grange? Minggir-minggir-" Dia mendorong murid tahun pertama yang jijik sekaligus ketakutan. "Miss Grange?" Ia segera menggendong tubuh itu menuju ke ruang kesehatan sekolah. "Kalian semua kembalilah ke kelas, dan jangan coba-coba mengabadikan muntahan teman kalian-"
Kelas Lilith ikut keluar, banyak di antaranya yang mengikuti Mr. Poe, terutama Rita yang sangat khawatir. Sedangkan Lilith bertahan dengan mengintip di balik kusen pintu.
Beberapa guru ikut membantu menertibkan mereka semua.
"Ayo masuk, biar petugas kebersihan yang membersihkan lantai-"
"Jangan ada yang menginjaknya, oke."
"Kalau masih ada yang berkeliaran di lorong, akan saya hukum."
Luc melewati Lilith, diikuti tiga temannya. Mereka pergi meninggalkan kelas, menuju ke arah kafetaria.
Draven tampak menahan tawa. "Kau sangat kejam, ini bukan neraka."
"Bagaimana kau bisa menyebut itu kejam? Aku hanya membakar perutnya, dia mengajakku b******a, menjijikan sekali, seleraku tinggi," sahut Luc lirih sekali, diiriingi tawa kecil.
"Semua orang yang melihat kita memang berpikir begitu," bisik Reissig Mammon menyeringai lebar. "Mereka serakah, dan aku suka itu."
"Ya." Luc menoleh sekilas, tepatnya pada Lilith yang melongo atas ucapan mereka. "Dia baru seleraku."
Kier Amon menampakkan seringainya. "Kau tahu situasi kita buruk, Luc, lakukan sesuatu sebelum Michael menunjukkan sayapnya."
Luc memalingkan wajah lagi, tapi kepalanya masih melukiskan wajah cantik Lilith. "Tenang saja, kali ini-aku tak peduli perintah apapun, aku menginginkannya lebih dari apapun."
Lilith segera menyambar ransel serta buku-bukunya, lalu memberanikan diri untuk menghadang langkah kaki mereka. Dia seperti seorang kijang yang hendak menyerang empat serigala hutan. Ya, saat tatapan para lelaki itu tertuju padanya, tungkainya mendadak lemas-lupa caranya berjalan.
Luc tersenyum. "Kelas kita sudah selesai, kau mau ikut kami ke kafetaria?"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lilith memastikan tak ada orang yang masih berlalu lalang di lorong ini, kecuali murid yang sudah selesai kelasnya.
"Kami duluan," bisik Reissig Mammon menyeringai pada Luc, lalu menepuk bahunya, kemudian berjalan menjauh bersama dua temannya, meninggalkan mereka berdua.
Luc berbalik badan, lalu bejalan berlawanan arah dari temannya. "Bagaimana kalau kita ke perpustakaan saja?"
"Aku tanya pembicaraan apa barusan itu? Kenapa dengan Jennifer?" tanya Lilith menyelidik.
"Jennifer mungkin sakit perut."
"Aku tidak bercanda."
"Dan aku tidak berbohong, asam lambungnya naik, dia muntah."
"Itu ulahmu ' kan?"
"Tega sekali kau menuduh murid baru sekejam itu," ucap Luc malah menyeringai k**i seolah bangga terhadap perkataan Lilith. "Apa buktinya?"
"Dengan-sihirmu," celetuk Lilith asal bicara.
Luc menahan tawa. "Kalau teman-teman kita mendengar, mereka akan semakin menjauhmu."
"Aku-serius, kalian tadi bertatapan mata-lalu-"
"Oh, kau memperhatikan kami?"
Lilith menciptakan dusta, "well, tidak sengaja."
"Kau percaya semacam sihir?"
"Aku percaya sains."
"Ya sudah, kutunjukkan sesuatu yang ada di perpustakaan saja, dan memjawab apa yang jadi pertanyaanmu semenjak seminggu yang lalu-dan makin keheranan sejak bertemu denganku kemarin, kenapa? Tak bisa tidur memikirkanku 'kan?"
"Aku tidak memikirkanmu."
"Inilah yang kusukai darimu, kau tak mempan dengan pengaruhku, kau Lilith-ku, kau penuh tantangan-dan aku senang bisa menemukanmu."
"Sebenarnya omong kosong apa yang kau bicarakan?"
"Ayo ke perpustakaan."
"Aku bukan ingin diajak ke perpustakaan."
"Aku tahu, Lilith, tapi kau takkan percaya kalau kuberitahu, makanya kita pelan-pelan saja, kau suka buku bacaan itu?" Luc melirik ke salah satu buku yang dipeluk Lilith, mitologi iblis. "Tampaknya suka sekali membawanya."
Lilith agak malu, bagaimanapun dia akan dianggap aneh kalau membawa bacaan berat seperti ini. Semua teman-temannya membaca majalah fashion, namun dirinya malah sejarah iblis. Kalau saja mereka tahu, dia akan semakin dikaitkan dengan 'kutukan'.
"Tidak, hanya meminjam, ini waktunya mengembalikan di perpustakaan," katanya.
Luc memberikan senyuman ramah lagi. "Nah, bagus'kan? Sekalian kita ke perpustakaan."
Mereka berjalan berdampingan di sepanjang lorong, membuat beberapa murid terkejut. Ya, dari yang sedang menyimpan sepatu di loker, ataupun yang hendak keluar dari kelas-semuanya tertegun sesaat menatap keduanya.
Lilith tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
"Mereka berkata 'oh lihatlah kutukan itu berjalan dengan murid baru', 'oh mana mungkin ini nyata, 'tidak mungkin, kenapa Luc berjalan dengan gadis itu', dan hal-hal omong kosong lain." Luc malas berpandangan dengan wajah-wajah yang penasaran dengannya. "Sejak aku disini, pikiran mereka isinya sama semua-tapi memang aku tampan, yang paling sempurna, bahkan sebelum Adam dipuja, akulah yang paling sempurna."
Hah, bicara apa dia ini?, pikir Lilith memandangi seringai jahat Luc yang mendukung ungkapan culasnya barusan. Dia heran mengapa makin lama, lelaki ini terdengar sangat sombong. Ketampanan yang ia miliki memang di luar nalar, tapi sikap sombong itu tak perlu senyata itu ditunjukkan, terlebih sampai membandingkannya dengan manusia pertama.
Luc menoleh kepadanya, lalu menjawab isi hatinya, "aku bicara tentang betapa sempurnanya diriku, Lilith, dan kau tahu itu."
Lilith sontak terhenti, matanya melotot, lagi-lagi lelaki ini bisa membaca apapun yang dia pikirkan. Apa maksudnya ini sebuah telepati? Apa dia punya kemampuan metafisika?, pikirnya mengeryihkan dahi.
"Bukan, bukan telepati," bantah Luc meninggalkannya dengan masuk ke dalam perputakaan.
Lilith hampir tak percaya apa yang dia dengar. Makin mengenal sosok lelaki ini, dia semakin ingin tahu, apa yang terjadi?
_______