05. Seorang Raja Neraka

1262 Kata
Misterius. Kata itu cocok menggambarkan sosok Luc. Lilith sudah menduga sesuatu, tapi dia tak mau mempercayainya. Hanya karena namanya Lucius Ferre, lalu dia menyebutnya Lucifer. Hanya karena dia membuat teman sekelasnya muntah di sepanjang lorong kelas, bukan berarti di Lucifer juga. Lantas siapa? Perpustaaan sekolah ini cukup luas, ada tiga puluh rak buku yang sudah dibedakan menurut jenisnya, hampir seluruhnya adalah mata pelajaran biasa. Selepas menyerahkan buku pinjaman ke petugas yang berjaga, Lilith berjalna mendekati Luc yang ada di rak khusus bacaan fiksi. Saat ini kondisi tempat ini tidaklah ramai. Kalau saja bukan karena masalah Jennifer yang sekarat di lantai tadi, mereka juga pasti sedang ada di kelas. Dimanapun dia berada, Luc memang menjadi sumber lirikan murid lain, bahkan saat mereka sedang membaca pun-masih sempat mengintip dari balik buku. Ketika Luc mengedipkan mata pada seorang gadis yang duduk sendiri di meja baca, sengatan penuh gairah langsung menyergap tubuh targetnya itu. Sontak saja dia salah tingkah, bahkan lututnya terhantam pinggiran meja saat berdiri. Gadis itu kabur karena tidak kuat menahan godaan itu. "Kenapa?" Lilith memperhatikannya. "Kenapa kau menggodanya?" "Aku tidak menggodanya, aku tersenyum padanya," jawab Luc berjalan menyusuri buku-buku yang ada di rak, mencari sesuatu yang lebih spesifik tentang sejarah iblis. "Sebenarnya di era ini lebih praktis kalau kita membacanya di internet, tapi terkadang buku lebih menyenangkan membaca berdua." Lilith memberikan tatapan selidik lagi. "Oh, tersenyum dan menebar pesona?" "Aku tidak menebar pesona, mereka yang terpesona padaku, itu sudah sewajarnya." "Kau percaya diri sekali." "Tentu saja, kenapa? Cemburu?" "Tidak!" Luc menahan tawa. "Ooh~" Lilith yang tersipu menegaskan, "aku hanya heran, kenapa kau percaya diri sekali? Memangnya siapa kau ini?" "Lucifer Morningstar," jawab Luc lirih sembari menarik sebuah buku mengenai pengetahuan para iblis. Ya, dari judulnya saja sudah jelas menjelaskan isinya: TUJUH DOSA BESAR "Maaf?" Lilith merasa pendengarannya kurang jernih. Luc kemudian duduk di salah satu kursi, lalu membuka buku itu, langsung menuju ke halaman tentang iblis bernama Lucifer. "Walaupun gambarnya tampak jahat, sebenarnya aku baik dan tampan- jelas tak terlalu buruk rupa." "Hah?" Lilith memastikan tak ada yang mendengar ucapan aneh Luc. Dia ikut duduk di sebelah kursi lelaki ini, lalu memperhatikan halaman yang menjelaskan tentang siapa itu Lucifer versi mitologi.  Lucifer, (Latin: Lightbearer) Greek Phosphorus, or Eosphoros, in classical mythology, the morning (i.e., the at dawn); personified as a male figure bearing a torch, Lucifer had almost no , but in poetry he was often herald of the dawn. In Christian times Lucifer came to be regarded as the name of before his fall. - Britannica. com "Baik, jadi kau Lucifer, malaikat angkuh yang akhirnya diturunkan derajatnya menjadi iblis, lalu kau menjadi Satan?" sindir Lilith mengangguk-angguk, suaranya dibuat selirih mungkin. Ia beruntung berada jauh dari meja penunggu perpustakaan. "Kau tahu, aku juga punya nama iblis, jadi aku paham perasaanmu karen apunya nama hampir mirip dengan nama iblis ini." Luc menatapnya, tersenyum kecil. "Kau mengataiku turun derajat?" "Aku menyindirmu," ralat Lilith sembari menoleh ke arahnya. Mata mereka kembali berpandangan, jarak wajah mereka sangat dekat- sudah seperti sejengkal. Kalau saja ada wali kelas mereka, mereka pasti dituduh tengah menjalin kasih. "Kau tak percaya aku Lucifer?" "Aku percaya kau Lucius Ferre." "Lucius Ferre itu Lucifer. Aku memang dia." "Itu tidak mungkin." "Kenapa tidak mungkin?" "Ini hanya mitologi." "Cerita seperti ini bisa ada di buku para manusia, karena sejak awal turun-temurun dikisahkan sejak Adam tercipta, Lilith." "Kau hanya seorang remaja, Lucifer haruslah seorang raja." "Kau akan menyesal kalau tahu berapa usiaku." "Aku tak mau berdebat, ini perpustakaan," bisik Lilith masih mengawasi sekitar yang sepi. Mereka diapit oleh banyak rak dan tak seorang pun terlihat akan akan. "Lagipula Zeus juga mitologi, tapi dia tidak ada di dunia ini." "Jangan samakan mitologi lokal dengan mitologi yang berasal dari Al-kitab, jika kau percaya Tuhan itu ada, maka kau harus percaya-dia punya malaikat kesayangan yang sekarang sudah jatuh bernama Lucifer, yaitu-aku." "Omong kosong." "Sungguh." "Dengar, Luc, jangan mengerjaiku hanya karena aku tidak disukai di sekolah ini." "Tidak disukai? Mengapa aku mengerjaimu?" "Karena aku pembawa s**l, siapapun yang menghinaku biasanya menjadi s**l, tak ada yang berani mendekatiku karena percaya kutukan itu. Apa kau merekam pembicaraan kita? Jadi kau bisa menertawaiku nanti dengan teman-temanmu, lalu membual, oh betapa polosnya gadis itu-dia percaya aku Lucifer." "Aku tidak merekam apapun, dan kau bukan pembawa s**l, kau hanya mengutuk mereka karena menghinamu." "Maksudmu?" "Kau Lilith." "Aku memang Lilith." "iblis wanita yang menjadi pengantin Lucifer." Lilith tertegun, tak paham sama sekali, dia ingin memeriksa kening Luc, tapi takut sekali. Mana mungkin dia percaya omong kosong barusan? Kalau saja ia tak malu, dia pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Apa dia sedang bercanda? Ataukah dia hanya merayu seperti tadi? Luc menjawab pikiran itu, "aku tidak bercanda, aku tidak merayu, aku benar-benar Lucifer, dan aku turun sejak seribu tahun yang lalu-demi mencarimu." "Hah?" Lilith melongo. "namaku Lilith, Lilith Wilson, manusia di Cedar City, negara bagian Utah, bukan iblis wanita." "Ya, kuakui terlalu cepat mengatakannya, tapi aku tidak sabar, aku merindukanmu, Lilith-ku," bisik Luc meraba dagu Lilith yang begitu halus. Sorot matanya kembali sendu, suasana hatinya seperti bara api yang meredup. "Aku mencarimu-aku sangat merindukanmu." "Hei-kita di perpustakaan," kata Lilith sontak menyingkirkan tangan Lucifer, lalu menyingkir darinya. "Apa kau berusaha merayuku?" "Aku tidak merayumu." "Dengar, Mr. Ferre, kau tak bisa merayuku, aku-aku bukan seperti gadis lain yang bisa kau kelabui, aku tak terpengaruh padamu. Pesonamu itu-wajahmu yang tak masuk akal itu, tak bisa mengelabui mataku, kau playboy." "Wajahku tak masuk akal?" "Kau seperti bukan manusia-" "Terlalu tampan?" "Jangan sombong." "Sebenarnya aku ingin menunjukkan wujud iblisku, tapi aku takut kau belum bisa menerimanya, jadi untuk sementara aku akan mengakui siapa aku dulu saja-dan kita akan mulai saling mengenal." "Aku bukan iblis, kau bukan iblis, hanya karena wajahmu tidak wajar dan namamu aneh dan teman sekelas kita muntah-muntah setelah melihatmu, aku tidak bisa menuduhmu iblis." Luc tersenyum lagi. Akan tetapi belum sempat dia ingin mengatakan sesuatu, Lilith pergi keluar perpustakaan dengan mulut menggumamkan ketidakpercayaan. "Lilith," panggilnya. Saat Lilith sudah hampir selagkah keluar perpustakaan, mendadak pintu ganda itu terbanting menutup keras. Dia sontak mundur sambil memegangi d**a yang berdebar sekejab. Sosok pria penunggu perpustakaan yang sedari tadi duduk di belakang meja samping pintu itu mulai menggumamkan sesuatu yang aneh. Wajahnya berubah kehitaman dengan mata memerah kala menatap Lilith. "Mr. Duxton?" Lilith mundur begitu tahu penjaga yang baru menginjak usia kepala tiga itu menunjukkan gejala kerasukan. Aneh sekali, dia bisa melihat wajah pria itu menghitam seperti penggambaran iblis yang ia baca. Mr. Duxton melompat ke atas meja hingga membuatnya retak sebagian. Entah apa yang terjadi, tapi bobot tubuhnya seperti bertambah berkali-kali lipat, juga masa ototnya yang tampak seperti hendak menyeruak dari balik kulit. Mengerikan. Lilith segera berbalik badan dan lari menuju tempat Luc tadi. "Luc! Mr. Duxton berubah aneh! Tolong!" Mr. Duxton mendekati sebuah rak buku, lalu mengangkatnya hingga membuat seluruh buku berjatuhan. Padahal perabotan itu terbuat dari kayu dan besi kokoh, namun kedua tangannya seperti mengangkat ranting, tak berat sama sekali. Lilith menoleh, ketika itu pula raknya dilempar ke arahnya. "Aahh!" jeritnya masih berusaha berlari. Sesaat sebelum pinggiran rak itu berhasil menghantam kepala Lilith, Luc tahu-tahu sudah muncul. Tangannya menghentikan laju rak itu dengan cara mencengkramnya seperti tengah menerima lemparan bola bisbol, kemudian menurunkannya di lantai. "Pergi," perintahnya sambil menunjukkan mata merahnya pada Mr. Duxton hingga pria itu pingsan. Sosok yang merasukinya terlihat keluar dari tubuh, seperti bayangan hitam yang lari terbirit-b***t menembus tembok. Lilith yang syok lantas menutup mulut, pandangannya tertuju pada Luc. Kekuatan tangan yang tidak manusiawi itu membuatnya tak bisa berkata-kata dalam beberapa detik. "Siapa kau ini?" tanyanya menahan napas. "Raja iblis di neraka," sahut Luc menoleh ke arahnya dengan senyuman kejam serta kilatan mata merah membara, "Lucifer Morningstar.". _________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN