"Jadi, apa itu tadi?"
Lilith tak bisa lagi menunggu jawaban lebih lama lagi. Dia sudah menuruti permintaan Luc untuk mengobrol berdua saja di sebuah kedai donat, tak jauh dari sekolahan mereka. Keduanya sepakat membolos kelas matematika untuk membahas hal ini.
"Disini indah ya? Aku tahu kau suka disini?" Luc malah memandangi seisi cafe bernuansa serba coklat ini, dekorasinya cukup modern hingga cocok dijadikan tempat singgah remaja seperti mereka. Dia juga memperhatikan meja bundar di hadapan mereka, yang sudah tersedia dua porsi es krim spesial. Walaupun ini bukanlah seleranya, tapi demi Lilith, dia rela memakan makanan yang akan menguap sebelum masuk perutnya itu.
Lilith agak malu. Dia memalingkan wajah saat sadar seperti tengah berkencan. "Aku-membolos, dan meninggalkan Mr. Duxton di perpustakaan, mengikutimu kemari-itu demi tahu kenapa tadi seperti-mengerikan, aku yakin wajah Mr. Duxton menghitam, dia kesurupan?"
"Ya, dia kerasukan malaikat rendahan, kupikir itu bawahan Michael, dia yang paling setia pada perintah Ayah, dia masih belum ingin menunjukkan diri, mungkin muak melihatku berkeliaran di dunia dengan tampang remaja selama seribu tahun."
"Maaf?" Lilith tak paham sama sekali.
"Oh, biar kujelaskan, anggap saja barusan ada sosok mengerikan yang merasuki tubuh Mr. Duxton, dan dia berencana membunuhmu."
"Dan kau bilang yang merasuki itu malaikat? Malaikat yang suci, bersayap putih? Jahat? Ingin membunuhku? Maksudmu? Kenapa kau tidak bilang yang normal-seperti Mr, Duxton kerasukan arwah gentayangan sekolah?"
"Lalu kenapa dia mengincarmu? Dia hendak membunuhmu setelah aku mengaku siapa diriku dan memberitahu siapa dirimu." Lux terdengar serius., dia menajamkan mata hitamnya, yang sesekali memancarkan kilatan merah.
Lilith meneguk ludah. "Membunuhku? Kenapa malaikat ingin membunuhku? Apa salahku?" Ia menghela napas panjang karena masiht ak percaya dengan ini. Akan tetapi setelah melihat mata kemerahan Luc tadi, keraguannya mulai luntur-dia hidup di dunia dimana iblis itu nyata.
"Sederhana, karena aku menemukanmu, para malaikat akan membunuhmu, dan mengulangi reinkarnasimu yang tidak berujung ini. Dengan begitu, kau akan lupa lagi-dan semuanya akan berjalan seperti semula."
"Reinkarnasi?"
"Kau iblis Lilith, itu sungguh, aku kesulitan mencarimu-karena kau terlahir menjadi manusia, ada triliunan manusia di muka bumi ini, dan mencarimu tidak segampang itu, aku bukan malaikat yang menangani orang hidup, aku menangani orang mati-masalahnya adalah, kau tidak pernah mati, Lilith, kau memang mati-tapi langsung hidup menjadi bayi lagi, tidak melewati masa kematian."
"Aku tidak mengerti, Luc, sungguh, jelaskan lebih pelan-dan mendetail."
"Ayah memotong lidahku agar tidak akan mengatakan alasannya padamu."
"Ayah?"
"Ya, Ayah kita semua, kau tahu siapa Dia, Lilith."
"Aku bereinkarnasi?"
"Setiap tujuh belas tahun sekali, selama seribu tahun ini."
"Tujuh belas tahun sekali?"
"Seharusnya kau mati setiap tujuh belas tahun sekali, siklus pendek itu dilakukan agar keberadaanmu makin tak jelas di mataku."
Lilith tersentak kaget, dia melototi Luc tak percaya. "Aku sudah berusia tujuh belas-tahun, apa aku akan mati?"
"Tidak, karena kau sudah tahu siapa dirimu, kutukan takdirmu tidak berlaku, dan itulah kenapa dalam seminggu ini banyak sekali cahaya yang turun kesini, mereka berniat membunuhmu tanpa campur tangan mereka-ya dengan cara merasuki orang."
"Kenapa?"
"Karena Ayah tidak pernah mengijinkan malaikat-Nya campur tangan atas kehidupan manusia yang di luar garis takdirnya, artinya kau tidak punya garis takdir lagi, kematianmu belum ditetapkan, dan kau hanya bisa mati karena penyakit alami manusia-atau kejadian lain, seperti pembunuhan."
Lilith hampir kehabisan napas untuk mengetahui fakta mendadak itu.
"Aku iblis?"tanyanya memikirkan runtutan hidupnya yang terasa sangat masuk akal jika dia memang bekas iblis di neraka."Aku benar-benar iblis?"
"Eh, sebelumnya kau iblis, tapi kini kau hanyalah manusia, aku masih belum tahu bagaimana caranya mengembalikanmu menjadi iblis-karena itu sepertinya tidak mungkin." Luc terjebak pada pemikirannya sendiri, selama seribu tahun itu pula-dia tak dapat menemukan caranya.
"Pantas saja-aku selalu merasa kalau aku seperti aneh, seolah mengulang kegiatan yang sebenarnya belum pernah kulakukan, saat kecil aku merasa aneh-aku seperti-" Lilith memperhatikan telapak tangannya sendiri. "Aku bisa merasakan tubuh ini, tapi aku yakin-ada yang aneh, ini bukan tubuhku. Apa wajahku memang seperti ini? Maksudku, apa aku terlihat mengerikan, berkalung ular seperti yang ada di gambar-gambar?"
"Biar kutebak, kau juga agak tak suka melantunkan pujian pada Ayah, bukan?" tanya Luc menyeringai, "kita memang membangkang dari-Nya."
"Ayah-" sebut Lilith yang langsung membuat jantungnya berdebar. Ada perasaan aneh, seperti amarah, tapi juga bahagia. Ia tertegun lama, memikirkan kejadian kematian ketiga orangtua asuhnya selama ini. "Kurasa aku tahu kenapa mereka meninggal dunia, dan mengapa orangtuaku yang sekarang-tidak."
"Ada apa?"
"Ketiga orangtua asuhku taat pada-Nya, sedangkan orangtuaku yang sekarang-mereka ateis, pantas saja aku merasa sangat nyaman, dan mereka begitu nyaman denganku-bahkan sangat menyukaiku, mereka berkata aku pembawa keberuntungan, di saat orangtuaku sebelumnya tertimpa kemalangan."
"Dan ya-di sepanjang seribu tahun ini, jelas tak terhitung berapa banyak yang mati karena mengasuhmu."
"Aku terdengar seperti Antichrist."
Luc tersenyum kecil. "Kau hanyalah iblis yang dibuang menjadi manusia." Dia menggenggam telapak tangan Lilith dengan lembut. "Dan aku bahagia menemukanmu setelah seribu tahun ini, Sayangku."
"Kau mencariku seribu tahun?"
"Ya, aku bahkan sampai menyamar selama ini, menantikanmu-itulah kenapa aku memilih wujud remaja karena aku yakin akan menemukanmu saat berusia 17 tahun, aku ingin dekat denganmu-dan akhirnya semua usahaku berhasil."
"Kenapa aku harus berpisah darimu?"
"Tadi'kan sudah kubilang aku tidak bisa mengatakannya karena itu perintah Ayah."
"Apa aku melakukan hal buruk?"
"Iblis selalu melakukan hal buruk, Lilith."
"Aku-masih tak percaya? Memangnya apa salahku sampai diturunkan?"
" Sudah kubilang Ayah tak memperbolehkan aku menyebarkan rahasia langit padamu."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Menunggu hingga malaikat mencabut nyawaku?"
"Aku disini," ucap Luc membelai telapak tangan gadis itu. Sorot matanya menjadi penuh cinta tulus yang hingga membuat Lilith tak percaya kalau lelaki ini adalah iblis. "Aku akan melindungimu, sekalipun Ayah tak mengampuniku lagi-biarlah Dia membuangku pula/"
Lilith masih tak mengenali sosok ini. Dia menarik tangannya dengan sopan. "Maaf, aku-belum bisa, aku-tidak kenal sama sekali denganmu, dan aku masih kebingungan."
"Aku Lucifer, kau selalu memujaku, kau satu-satunya yang memberikan pujian dengan tulus, di saat semuanya memuja Adam, kau memujaku, kau mencintaiku-"
Lilith tak kuat mendengar ungkapan tersebut. Bagaimana sosok raja iblis yang digambarkan sangat k**i malah terdengar seperti orang yang terlalu lama terpuruk karena kehilangan cintanya? Tidak mungkin, tidak mungkin nyata.
Ini hanyalah mimpi, dia meyakinkan diri.
"Aku bisa membaca pikiranmu dan ini bukan mimpi,Lilith, aku Lucifer, kau Lilith, kita dipisahkan langit-tapi aku menemukanmu." Luc mencondongkan tubuh ke arah gadis itu, lalu menyentuh keningnya dengan telunjuk. "Dengar, aku akan membuatkan perlindungan padamu-jadi malaikat rendahan takkan bisa mendekatimu."
Dia menggambar bentuk pentagram di kening halus tersebut. Goresan itu membuat kulit Lilith terbakar untuk sejenak, tapi kemudian menghilang, lalu meresap ke dalam dagingnya.
Lilith sontak berdiri seraya memijat kening yang telah disentuh Luc, rasanya masih agak sakit-seperti ada yang ikut mengalir bersama darahnya. "Aku mau pulang, sampai jumpa."
Luc tersenyum kecil. "Ya, aku akan selalu mengawasimu, jadi sampai bertemu besok di sekolah."
Lilith bungkam.
_________