Lilith menjadi makin pendiam.
Sejak kemarin, dia hanya berbicara sepatah dua kata saja dengan orangtuanya. Ini malah membuat mereka juga kebingungan. Mereka menduga ini adalah masalah "laki-laki", sebentar lagi sekolah Lilith akan mengadakan prom night.
Tentu saja bukan, Lilith begini karena masih belum bisa menerima keadaannya. Dia pecaya, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Berulang kali dia menyentuh keningnya untuk memastikan kejadian kemarin itu benar-benar terjadi.
Dan iya.
Sikapnya menjadi paranoid. Hari ini, dia agak bimbang saat berjalan menuju sekolahaan. Dia berhenti sejenak di ambang pintu pagar, memastikan orang-orang sekolahnya tidak ada yang berubah seperti Mr. Duxton.
Semua masih aman, petugas keamanan, beberapa kerumunan siswa lain tampak berlarian dan tertawa riang. Dia pun berjalan masuk ke halaman depan-jalan terus ke koridor menuju ruang kelas biologi, kelas terjauh di lantai satu.
Suasana pagi yang ramai, parkiran kendaraan sudah hampir penuh, sedangkan taman juga sudah dipenuhi murid laki-laki. Semua berjalan seperti biasa, tak ada yang menganggap Lilith ada, semuanya normal.
"Aku hanya paranoid," ucap gadis ini mulai tenang, "tak ada bahaya."
Dan tembakan pertama pun terdengar dari depan pagar sekolah. Suaranya keras menggelegar.
Semua mata mengarah ke depan gerbang.
"KALIAN SEMUA AKAN MATI!" teriak seorang remaja lelaki yang merupakan siswa tahun kedua. Dia menerjang masuk ke halaman sekolah itu sembari mengacungkan s*****a laras panjang ke sembarang arah. Sekilas wajahnya menjadi gelap, seringaiya muncul seolah-olah dia tengah kerasukan.
Wajah-wajah para siswa menjadi horor. Kepanikan melanda.
"AAAAAHHHH!" Mereka menjerit sambil melarikan diri menuju ke koridor sekolah. Pihak petugas sekolahan bergegas mengambil alat keamanan sekaligus mencari bantuan polisi.
Di saat semua berhamburan menjauh, Lilith mematung tak berdaya.
Tembakan dilepaskan-mengenai pohon.
Raung ketakutan makin menjadi-jadi. "AAAAAHHHH! TOLONG!"
Tembakan lagi-mengenai bahu seorang murid.
Lelaki itu tertawa sambil terus menembaki murid secara acak-mereka bersembunyi di balik pohon, berlarian seperti tikus seraya tetap merendahkan badan.
Peluru terus melesat-mengenai punggung, bahu, kaki, semua bagian tubuh para murid yang terdekat dengannya. Ia berjalan maju seraya tertawa terbahak-bahak menatap halaman sekolah itu perlahan banjir darah, meninggalkan Lilith sendirian di kekacauan.
"Kau matilah, Iblis kotor," bisik murid itu dengan suara yang tak masuk akal, terdengar seperti bisikan ular di kepala Lilith. Ya, suara itu hanya ditujukan pada gadis itu. Sambil membidik kepalanya, dia berbisik lagi, "kembalilah reinkarnasi."
Lilith spontan berbalik dan berlari. Dia tak bisa mengeluarkan jeritan sedikitpun, suaranya tertahan di kerongkongan. Dia sudah melihat bayangan kematiannya sendiri. Usia tujuh belas tahun, siklus reinkarnasinya akan terjadi. Luc benar-sekarang, saat suara tembakan telah terdengar, saat sudah diambang kematian, dia akhirnya-percaya pada Luc.
Rajaku, panggilnya dalam hati.
Sekelebat bayangan hitam melewati Lilith, dia berubah menjadi sosok Luc yang tepat menghadang peluru itu. Peluru itu pun bersarang di dadanya. Dia menyeringai saat melihat darahnya membasahi kaos biru gelap yang ia pakai.
Si penembak menjadi syok, matanya berkilatan hitam.
"Kau pasti berpikir aku tidak datang ke sini," bisik Luc dalam hati yang langsung ditujukan kepada lelaki itu, tepat masuk ke dalam kepalanya. Dia berlari cepat, tubuhnya bak terhembus angin, tahu-tahu dia berhasil mencengkram leher murid itu dengan kuku tangannya yang berubah menghitam.
Dia melemparkannya ke salah satu pohon peneduh taman, tanpa peduli saksi manusia yang bersembunyi dimana-mana. Sambil mendongak ke langit, dia berkata, "Ayah, jangan salahkan aku, malaikat-Mu seenaknya membunuh orang-orang disini."
Ada asap hitam yang keluar dari tubuh si penembak, sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.
Lilith kaget. Tidak mungkin ini ulah malaikat, dia tak bisa mempercayai ini. Tidak mungkin, mengapa harus menargetkan semua orang jika hanya ingin membunuhnya? Tidak mungki, pikirnya sontak jatuh di atas rerumputan. Jantungnya berdebar kencang, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bagaimana kalau setiap hari seperti ini? Kemana dia akan bersembunyi?
Untuk menghindari tatapan penuh tanya orang-orang yang mulai bermunculan, Luc segera mendekati Lilith. "Ayo kita ke tempat lain, sementara, biarkan ini diurus Asmodeus." Tanpa izin, dia menggendong tubuh gadis itu, lalu berlari keluar gerbang sekolah.
Saking cepatnya, mata Lilith tak mampu melihat apapun yang ada di jalan. Dia pasrah, masih lemas, tak bisa menjerit. Sontak saja ia melingkarkan tangan ke leher lelaki ini, membiarkan dirinya dibawa kemanapun.
Luc membawanya masuk ke dalam hutan kecil di sekitar sekolah mereka.
Begitu sudah masuk terlalu dalam, dia mulai berjalan kaki menuju ke pinggiran sungai yang tampaknya nyaman untuk dijadikan tempat berdiam diri sementara. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya mata lelaki ini menatap wajah Lilith.
Lilith akan selalu cantik dalam wujud apapun.
"Bukalah matamu, kita sudah aman," kata Luc lembut sambil menurunkannya.
"Apa ini akan terjadi terus? Tidak ada lagi kedamaian?" tanya Lilith masih gemetar, dia mengelus kedua tangannya untuk menenangkan diri. Dia memberanikan diri menatap langsung mata Luc yang masih kemerahan.
Di saat menggunakan kekuatan iblisnya, matanya memang akan berubah-beruntung Lilith tak terpengaruh oleh sorot mata jahat itu. Normalnya, manusia lain akan muntah, tak sadarkan diri, atau bertekuk lutut padanya, tergantung keinginan Luc sendiri.
Lilith tertegun sejenak, mengerutkan dahi tak percaya melihat darah di kaos Luc. "Kau-kau berdarah?" Dia meraba kaos itu, kebingungan sekaligus ketakutan. "Luc-bagaimana ini? Kita-kita harus ke rumah sakit."
Sambil memegang lembut pundak gadis itu, Luc berkata, "Lilith, tenangkan dirimu, aku tidak apa-apa." Dia lantas memuntahkan peluru yang bersarang dalam tubuhnya. Ia mengusap bibirnya yang agak berlumuran darah karena ulah itu. "Tubuhku tak bisa dilukai dengan s*****a manusia."
Lilith masih memasang wajah takut.
Untuk membuktikannya, Luc melepaskan kaos itu, memperlihatkan d**a bidang yang terbungkus kulit seputih s**u. Tak ada luka goresan sedikitpun. "Aku memang berdarah, tapi ya lukanya langsung menutup."
Jantung Lilith berdebar. Ia mundur selangkah, tak mampu menahan pemandangan yang penuh dosa itu. Dia sadar, Luc tidak manusiawi, dia terlalu sempurna-tidak ada cacat sama sekali. Bahu lebar, d**a keras, leher jenjang, kulit tampak seperti awan lembut yang nyaman untuk ditiduri. Tubuh terjantan yang pernah ia lihat selama ini.
"Kau baik-baik saja? Hati-hati, belakangmu itu sungai-" goda Luc sangat mengetahui reaksi terpesona itu. Dibandingkan dengan gadis lain, wajah Lilith yang terpana membuatnya makin ingin mendekatinya.
Lilith berhenti. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. Dimana-mana hanya ada pepohonan hijau berbatang tinggi menjulang dengan dedaunan yang menutupi langit. Tidak ada tanda-tanda ada binatang liar, kecuali beberapa burung yang bertengger di atas dahan-dahan, mengintip kegiatan mereka.
Karena mendekati musim dingin, suhu hutan ini menjadi lebih dingin, sehingga membuat pipi gadis ini memerah serta helaan napasnya menghasilkan uap hangat. Ia bersyukur karena keadaan ini mampu menyamarkan rasa malunya.
"Lilith yang kukenal selalu banyak bicara, kau-sangat pendiam," kata Luc kembali memakai kaosnya lagi, lalu duduk di tepi sungai, mengamati wajah tampannya terpantul di airnya. "Duduklah denganku, ayo kita mengobrol lagi tentang para malaikat jahat ini. Mereka hanya bawahan, itulah kenapa sifat mereka sangat tidak terkendali."
Lilith pun duduk di sebelahnya. Ia juga melihat wajahnya di pantulan air tersebut, bersebelahan dengan wajah Luc yang tampan. Tanpa ia sadari, senyuman manis terbentuk di bibir.
Serasi sekali, pikirnya agak malu.
"Ya, kita memang serasi," sahut Luc tertawa kecil. "Kau harus bicara, jangan biarkan aku seperti tengah mengobrol dengan batu sungai."
"Maaf."
_________