"Terima kasih."
Ungkapan tulus ini berarti sekali pada diri Luc. Memang tak seorang pun yang mampu membuatnya tersenyum hanya karena perkataan itu kecuali Lilith, cintanya, kasihnya, hidupnya, segalanya.
"Aku tidak pernah tahu kalau raja iblis menolong manusia," kata Lilith masih menatap air sungai yang suara gemericiknya menenangkan hati. "Padahal dikatakan Lucifer itu sangat jahat, pecinta kesenangan duniawi, dan terlalu percaya diri."
"Aku menolongmu karena kau pengantinku, kau bukan manusia biasa yang memang sudah sewajarnya mati saja, mereka tidak berguna-berkembang biak seperti tikus selokan." Luc mengatakan hal mengerikan itu diringi tawa.
"Oh." Lilith agak syok mendengar suara tawa yang mampu membuat tengkuknya kaku.
"Kau sudah percaya seratus persen, bukan, kalau aku ini Lucifer yang asli?"
"Kurasa memang harus percaya." Lilith menghela napas panjang. "Boleh kutanya sesuatu?"
"Boleh, silakan saja, jangan berpikir kita baru mengenal, kita sangat kenal-kau hanya tak ingat padaku, dan mungkin memang takkan pernah ingat," ucap Luc terdengar sedih, jeda sesaat, lalu berkata lagi, "ya-karena itu sudah ditetapkan sebagai hukumanmu."
"Luc-" Lilith tersenyum padanya, berusaha membuatnya lebih tenang. Dia sama sekali tak terpengaruh oleh pupil mata merah iblis itu, malahan saat memandangnya-ada perasaan hanyut dalam kebahagiaan. "Aku percaya padamu."
"Baik." Luc memang terhibur hanya dengan senyumannya. "Apa pertanyaanmu?"
"Apa kau sudah ada sebelum manusia ada?"
"Tentu saja."
"Kau bisa berubah bentuk menjadi siapapun?"
"Tentu, aku hanya mengambil bentuk remaja, aku bisa jadi menjadi siapapun atau apapun."
"Kau berwarna merah?"
"Maksudmu?"
"Tubuh berkulit merah, wajah keriput jelek dan mengerikan."
"Ya, saking jeleknya kau mungkin bunuh diri dengan menenggelamkan diri di air ini," ucap Luc kesal sambil menunjuk aliran air sungai yang mulai deras. Meskipun memang wujudnya sejak turun dari tahta malaikat menjadi lebih buruk, tapi tetap saja dia tak sudi dihina seperti itu.
Lilith tertawa kecil, gurauannya sukses. "Aku ingin melihatnya."
"Tidak sekarang, Nona manis, kau belum siap," kata Luc dengan suara lembut, "lagipula bisa-bisa Michael langsung terbang ke sini karena mengira aku akan berperang."
"Michael itu malaikat?"
"Tentu saja dia malaikat, kau pikir raja penyanyi pop yang akan turun ke sini?"
Apa dia sedang membahas Michael Jackson?, pikir Lilith menjadi sebal.
"Ya, dia yang kumaksud," jawab Luc tertawa sebentar, "ada pertanyaan lagi?"
"Kau punya tanduk?
"Tidak."
"Bagaimana dengan sayap?"
"Punya, sudah kupotong, dan kupajang di belakang singgasana istana neraka."
"Kenapa?"
"Karena warnanya putih."
"Uh-" Lilith tak bisa menanggapi alasan konyol itu.
"Aku tidak bisa melawan Ayah, tapi aku membenci-Nya, dan aku tak suka warna putih, membuatku akan dipandang rendah malaikat, lagipula aku bisa menumbuhkan sayap sendiri, aku ingin membuktikan, tanpa sayap dari-Nya, aku bisa menyamai kecepatan Michael."
Terdengar seperti anak yang tak ingin disamakan dengan saudaranya, pikir Lilith. Menurutnya, Luc memang sangatlah sombong sekaligus ingin menang sendiri.
Luc mendehem. "Memang."
"Maaf." Lilith menelan ludah, selalu saja lupa kalau pikirannya bisa dibaca dengan mudah membaca buku. Dia menghela napas panjang, lalu bertanya lagi, "apa tugasmu di neraka sebenarnya?"
"Menyiksa pendosa yang telah mati."
Oh. Lilith menoleh ke wajah laki-lai ini, berusaha mencari pembenaran. "Jadi ternyata benar, Lucifer menyiksa orang mati?"
Luc tertawa lirih. "Tentu saja, kau pikir untuk apa aku ditaruh di neraka? Minum teh?"
"Buku yang k****a, sebagaian mengatakan kalau ada malaikat yang tugasnya menyiksa pendosa di neraka."
"Malaikat hanya menjaga gerbang neraka, sisanya urusan kami."
"Oh. Bagaimana wujud neraka itu?"
"Banyak apinya."
Lilith terdiam, agak kesal, tapi tak bisa membantah karena memang pertanaannya yang tidak spesifik. "Maksudku, apa ada tingkatannya?"
"Memang ada tingkatannya, tapi intinya neraka itu ya-neraka, tempat p********n abadi, para pendosa itu akan disiksa sampai mati-lalu hidup lagi-mati-hidup-mati, begitu seterusnya sampai aku bosan, dan mungkin sebaiknya minum teh saja."
Oh. Lilith kembali tertegun. Raja iblis yang selalu digambarkan mengerikan malah tak terlihat seperti itu. Sikap bersahabat Luc hanya dikarenakan gadis itu adalah belahan jiwanya. Dia takkan begitu kalau sedang berbicara dengan manusia lain.
"Pertanyaan lain?" Luc menawarkan.
Lilith mengangguk. "Lalu keenam temanmu itu?"
"Mereka para pangeran, bisa dibilang begitu, mereka punya wilayah p********n sendiri. Aku sendiri juga tak berminat ke neraka, tak ada kegiatan yang menyenangkan setelah kepergianmu."
"Mengenai aku-aku ini Lilith?"
"Ya."
"Sebelum jadi iblis, aku sungguh istrinya Adam?"
"Bukan."
"Mantan istri?"
"Kau serius tanya begitu?"
"Tapi menurut mitologi-aku istri pertama Adam."
"Kau memang wanita pertama yang diciptakan sebelum Eve, kau membangkang pada Ayah karena tak mau menjadi istri Adam, kau merasa dibeda-bedakan dengannya. Itulah penyebab kau diusir pula ke neraka-"
"Aku tak percaya ini."
"Aku tak suka dengan Adam, kau juga tak suka dengannya, secara teknis kita jatuh ke neraka karena orang yang sama. Menurutku Ayah terlalu memuji manusia, sedangkan kau merasa kalau Ayah terlalu memuji kaum pria. Kita sama, Lilith, sama-sama tak suka dibedakan."
"Di jaman manapun, pria dan wanita memang dibedakan." d**a Lilith terasa sakit, tersadar akan kebenciannya akan perbedaan jenis kelamin itu. Banyak laki-laki di kelasnya yang sombong, memamerkan diri mereka yang mendominasi kaum perempuan, termasuk dalam hal akademis.
"Tapi aku tidak, Lilith, pria wanita-kalau mereka pendosa, aku akan membakar mereka sampai hangus, tanpa perlakuan berbeda. Tidak ada kata lembut sekalipun untuk wanita."
Lilith tersenyum padanya. "Kau lucu."
"Kita buktikan pada Ayah , kau tahu sendiri'kan? Dia sudah salah membela manusia, lihatlah anak cucunya, mengerikan, bahkan aku lebih suka berkunjung ke kebun binatang ketimbang ke klub malam. Binatang lebih asyik dilihat ketimbang tingkah biadab manusia."
"Kukira kau suka dengan dosa? Bukankah kau memang ditugaskan menyesatkan manusia? Harusnya kau senang, Luc."
"Tentu saja aku senang, aku tak perlu turun tangan, manusia makin lama juga makin berdosa, hanya bosan saja." Luc tertawa pelan. "Semenjak kematian para nabi, semua manusia mulai menjauhi agama, tapi itu bukan urusanku-kiamat itu pasti, dan aku hanya ingin bersamamu mulai saat ini."
Lilith tertegun lama, mengingat kembali semua gambar yang pernah ia lihat di internet, buku dan sebagainya. Dia masih tak percaya, ini tidak mungkin-bagaimana bisa dia iblis wanita itu?
Luc paham pergolakan hati itu. "Kau akan selalu dinamai Lilith setiap kembali menjadi bayi. Orang yang taat pada Ayah dan menjagamu selalu tertimpa kemalangan, tapi mereka tak bisa mengabaikanmu, hingga kemudian kau kembali reinkarnasi."
"Kurasa kita harus pulang ke rumah dahulu, Luc."
"Kau mau mengenalkanku pada orangtua atheis-mu?"
Lilith mengangguk.
Mereka kemudian saling menatap. Kedua bibir mereka membentuk senyuman indah, membuktikan bahwa dalam wujud apapun, asalkan dipertemukan kembali-mereka akan kembali jatuh cinta.
_______