09. Memperkenalkan Diri

1201 Kata
Anak remajanya sudah mulai membawa seorang laki-laki pulang. Mom terlalu gembira sampai lupa apapun. Akan tetapi semenjak menatap Luc, dia memang lupa segalanya, kecuali tugasnya menjadi b***k. Dia seolah sudah dibius untuk menyambutnya dengan baik layaknya seorang raja. Ajakan untuk makan siang bersama pun dengan mudah didapatkan oleh raja iblis itu. "Buah," ucap Mom menaruh sekeranjang buah di atas meja makan, lalu mempersembahkan olahan daging panggang. "Daging lezat." Bahkan sedang memesan Pizza untuk mereka pula. "Sebentar, Luc, aku akan menunggu pengantar pizza-nya di luar." Tanpa menunggu, Luc mengambil pisau kecil serta apel merah. Sedangkan Lilith yang duduk di seberang masih tertegun menatapnya-dia masih kagum dengan kemampuan lelaki itu menghipnotis sang ibu. "Kau punya ibu yang baik," kata Luc mengupas buah itu dengan cara yang elegan. "Sayangnya dia akan menjadi penghuni neraka kalau tidak segera meminta ampunan pada Ayah." "Kau selalu bisa menghipnotis orang ya?" tanya Lilith lebih ingin tahu tentang kemampuan iblis itu mempengaruhi orang sekitar. "Kenapa orang selalu terpesona padamu? Aku akui kau menarik, tapi aku merasa-masih sadar, tapi kenapa orang lain, sudah seperti rela mati untukmu?" "Kau tahu makna rayuan iblis?" tanya Luc menyeringai seraya mengiris daging apelnya, lalu memakannya dengan perlahan. Lilith mengerutkan dahi. "Bisikan untuk berbuat dosa?" "Kau tahu kenapa manusia tidak bisa menolak pesona iblis?" "Karena manusia itu berdosa?" "Iya, manusia itu sumber dosa, Ayah memang menciptakan manusia dengan sebuah pilihan, kalau malaikat itu pada dasarnya diptakan untuk menjadi penurut, dan iblis adalah pembangkang, maka manusia itu di antara keduanya, dan kenapa mereka takkan bisa menolakku-karena mereka tertarik pada dosa." "Jadi kalau dia sangat beriman, dia akan bisa membentengi hipnotismu?" "Itu maksudku." "Hampir semua orang di sekolah tertarik padamu." "Artinya semuanya memang suka pada dosa." "Apa artinya aku tidak? Aku masih sadar dan malah merasa-kau ini sombong." "Kau memang sudah jadi manusia, tapi jiwamu tetap iblis." "Jadi kita kawan?" "Kita pasangan." Lilith terkejut, dia masih tak bisa menanggapi ucapan itu. Kesunyian terjadi selang beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Lilith membuang muka, sedangkan Luc mengunyah apelnya sambil terus menatap rambut gadis itu. "Kau punya rambut sangat hitam di wujud iblismu, Lilith," kata Luc pelan, masih mengingat dengan jelas wujud menggoda iblis Lilith yang sangat terkenal di neraka sebagai pengantinnya. Lilith mendadak tertarik mendengar hal lain. "Apa aku t*******g?" "Apa?" Luc sontak kaget. "t*******g-maksudku, di gambar aku selalu terlihat seperti model t*******g yang hanya dililit ular dan-" Lilith terhenti karena melihat ekspresi ingin tertawa dari teman sekelasnya ini. "Jangan membayangkan apapun, oke?" Luc tergelak. "Kau bisa t*******g kalau mau." "Hentikan." "Oke." "Apa aku jelek?" "Kau sangat cantik." "Uh." Lilith tak menyangka mendengar pujian tulus dari bibir lelaki ini, yang langsung membuatnya tersenyum malu sekaligus menjadi kaku sesaat. "Lalu, apa rambutku lurus?" "Ya, warnanya hitam legam." "Bagaimana dengan mataku?" "Merah menyala." Lilith melihat pupil mata Luc yang kembali menjadi hitam. Ia mengingat mata merah iblis itu begitu indah, batuan api yang mengerikan. "Apa semua iblis bermata merah?" "Semuanya." "Aku sangat penasaran." "Sayangnya kau bukan lagi iblis-" ucapan Luc terhenti akibat suara Mom yang riang kembali ke ruang makan, bergabung dengan mereka. Dengan wajah sumringah, Mom menaruh sekotak pizza ukuran jumbo di atas meja. "Maafkan keluarga Wilson ini, Luc, kami hanya mampu menjamu tamu dengan pizza." "Aku suka pizza," ucap Luc memanglah pemakan segalanya, sekalipun bara api. "Sebenarnya tak perlu serepot ini, Mrs. Wilson." "Tidak, tidak masalah, kau pasti date Lilith prom night nanti, bukan?" goda Mom sembari mengedipkan mata pada laki-laki ini, "putriku tak bisa tenang beberapa hari mungkin gara-gara dirimu, teman sekelas tampan." "Mom!" "Lilith Sayang, kau tak perlu malu, aku tahu, kalau aku jadi dirimu, aku juga pasti tidak bisa tidur kalau sudah berkencan dengan teman sekelas seperti Luc," kata Mom diiringi tawa terbahak-bahak sembari mengeluarkan soda dari dalam lemari pendingin. Dia menyuguhkan segalanya di atas meja. Kemudian duduk santai, memandangi wajah mereka bergantian. "Jadi, berapa lama kalian bersama?" Lilith tersipu. "Mom, aku baru mengenal Luc tak lebih dari tiga hari." "Tapi kebersamaan kami seperti sudah tiga ribu tahun, Mom," timpal Luc yang langsung mengundang tawa ibu Lilith. Mom tersenyum bahagia melihat sosok Luc. "Aku menyukaimu, Luc." Dia mengalihkan pandangan pada putrinya. "Lil, sebaiknya kau tampil cantik untuk prom night nanti, jangan kecewakan Luc." "Tapi aku dan Luc-tidak-aku tidak ikut-prom night," kata Lilith terbata-bata, dia tak ingin megikuti acara semacam itu. Dia tak mau dilihat sebagai pembawa s**l di dalam acara tersebut. Sekalipun dia sudah mengetahui jati dirinya sebagai iblis, dia tak lantas berubah menjadi liar seperti iblis Lilith. Dia memang sudah berubah, Ayah telah membuatnya terlahir kembali sebagai manusia. Jiwa iblisnya pun seolah telah terkunci rapat hingga hari akhir tiba. Sekalipun Lucifer tak mampu mengembalikannya kembali. Luc menatapnya. "Kau tak perlu takut dijauhi, kau bersamaku, Lil." "Dengar itu, Sayang, kau terlalu tertutup, kami khawatir, dan jika kau menolak ke prom night itu berarti memang ada masalah, apa perlu kami melakukan sesuatu?" Mom ikut mendesak Lilith untuk bersikap terbuka. Wanita ini selalu tak bisa melihat sang putri tertekan karena masalah sekolah. "Aku sudah besar, tidak perlu," tolak Lilith memaksakan sebuah senyuman manis. Senyuman itu sangat jauh dari kesan seorang iblis, dia seorang malaikat. Luc sampai tertegun. Walau normalnya dia tersakiti dengan pemandangan gadis suci, tapi kali ini- dia makin terpana. Manis sekali, entah sejak kapan Lilith menjadi sangat manis. Selama beberapa detik dia masih tak berkedip menatapnya. "Luc?" panggil Lilith merasa tak nyaman. Mom bertopang dagu di atas meja makan, lalu menggoda mereka, "ah~ enaknya jadi remaja lagi. Aku jadi teringat Henry saat masih SMA." "Mom~" Lilith mengingatnya. Dia terlalu sering mendengarkan masa lalu percintaan orangtuanya. "Sungguh, Lil, aku dan ayahmu mulai serius berkencan setelah prom night kami, jadi kuharap kalian juga begitu-kau takkan bisa menemukan laki-laki manis seperti Luc dimanapun sekarang," kata Mom tersenyum pada Luc. Dia sudah membayangkan betapa bangganya jika memiliki menantu seperti Luc. "Sudahlah, kita jangan bahas prom night," pinta Lilith sangat malu. Selama ini, dia tak pernah memakai gaun cantik ke pesta, ataupun merias diri. Jadi membayangkan saja rasanya sulit. "Ide bagus, jangan bahas prom night," kata Mom masih menatap Luc, "kita bahas saja teman sekelasmu ini, jadi Luc-maukah kau mengenalkan siapa kau, rumahmu atau semuanya, biarkan ibunya teman kencanmu ini mengenalmu lebih jauh." "Namaku Lucius Ferre, aku sudah tidak memiliki orang tua, aku hanya tinggal bersama kakekku, dia pengusaha biasa, rumah kami ada di kawasan Paradise, 13th Elm Street-" "Oh, itu kawasan elite!" sela Mom menelan ludahnya. "Bagaimana bisa putra milyader bersekolah di SMA kecil itu?" "Sekolah manapun itu sama saja, Mom, yang terpenting bagaimana otak kita bisa berkembang." Luc hanya berniat bercanda. "Percuma saja sekolah di tempat elite, tapi otaknya siput." Dan sukses membuat wanita paruh baya itu tertawa. Sangat meyakinkan, dialogmu sangat meyakinkan, Luc, dasar iblis sombong-pembohong, pikir Lilith menoleh ke arahnya. Luc membalasnya dengan cengiran. "Kenapa? Kau tak percaya di bumi, aku ini tinggal bersama seorang kakek tua yang kaya raya?" "Eh? Kau bilang apa?" Mom agak tidak paham. "Oh, tidak, Mom, aku bicara dengan Lilith, dia pikir aku ini sedang membual, karena aku belum mengajaknya ke rumah-boleh sesekali putri manismu kubawa pulang?" Luc bertanya itu dengan nada bergurau. Mom tertawa. "Culik saja tidak masalah." "Kalian ini-" Lilith makin malu. "Hentikan." "Iya sudah, sudah, kita makan siang dulu," ucap Mom menahan tawanya. Dia tak pernah melihat wajah Lilith menjadi semerah lobster rebus, membuatnya semakin ingin menggoda. ______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN