10. Malam yang Panjang

1062 Kata
Hari makin sore, Luc berpamitan pulang pada ibu Lilith. Akan tetapi itu hanyalah ucapan di bibir, tak benar-benar pergi. Dia sengaja berdiri di bawah lampu seberang jalan, tepat di luar jendela kamar Lilith. Apalagi kalau bukan penguntit namanya? Lilith sengaja mengintip lewat kelambu putih setiap sejam sekali, dan dia masih ada di sana, seolah menanti pagi hari-untuk bertemu. "Mengerikan sekali dia itu," gumamnya seraya menutup jendela, membiarkan sosok raja iblis itu membeku sendirian di luar. Saat dia berbalik, tembok kamarnya sudah terdapat tulisan yang bertindak merah seperti darah, berbunyi: AKU BISA BACA PIKIRANMU, JANGAN MENGATAIKU MENGERIKAN. Lilith terpaku di tempatnya berdiri, ketakutan karena merasa itu darah yang merembes keluar dari tembok. Dia menggeleng cepat. "Apa itu darah?" Tembok itu pun mengganti abjab tulisannya menjadi, BUKAN "Berhentilah mengangguku, Luc! Aku ingin tidur!" SELAMAT TIDUR, PENGANTINKU, AKU AKAN MENGAWASIMU "Aku malah merasa terancam." MALAIKAT AKAN MEMBUNUHMU KALAU TIDAK KUTEMANI "Harusnya manusia itu dijaga malaikat, bukan iblis." AKU TAK MAU BERDEBAT, CEPATLAH TIDUR "Oke, oke, aku tidur, selamat malam-sampai jumpa besok," ucap Lilith tersenyum kembali. Ia kemudian menaiki ranjangnya, menata bantal, lalu merebahkan dir-tapi pandangan masih tertuju pada tembok itu, dimana tulisannya perlahan menghilang. Ia pun mematikan lampu mejanya. Sedetik awal dia memejamkan mata, kengerian penembakan itu masih terjadi. Luc membuatnya lupa akan keadaan mengerikan itu, namun ketika tertidur-bayangan penembakan itu terputar lagi. Ini diperparah dengan kemunculan Mr. Duxton yang entah ada dimana itu. Dia tak bisa tidur. "Aneh, kenapa tak ada pemberitaan tentang penembakan itu?" tanyanya pada diri sendiri. Bukannya kembali tidur, dia malah menyalakan kembali ponsel, lalu mencari pemberitaan tentang Starry High School. Hasilnya nihil, tak ada penembakan. Lantas bagaimana dengan korban yang tertambak saat itu? Apa yang terjadi? Tidak ada apapun-berita terkini di internet tak ada yang mengabarkan tentang penembakan. Padahal seharusnya topik ini langsung menyebar ke penjuru negeri. Samar-samar dia melihat temboknya memunculkan tulisan darah kembali. Ia menyalakan lampu meja agar mendapat penerangan lebih baik. Luc mengirimkan pesan: KENAPA KAU BELUM TIDUR? Lilith menaruh ponselnya di meja, lalu menjawab, "aku tidak bisa tidur, aku ingat tadi pagi, luc-bagaimana bisa tak ada pemberitaan apapun? Bukankah banyak yang tertembak? Ini bohong'kan?" SUDAH KUBILANG, BUKAN? MEREKA SUDAH DIURUS ASMODEUS "Dosa m***m?" NAFSU, LILITH, JANGAN MENGATAINYA MESUM "Sama saja'kan?" INTINYA SEMUA SUDAH DIBERESKAN. DIA AHLINYA KALAU MEMPENGARUHI ORANG. "Mempengaruhi bagaimana? Bukankah kau juga bisa?" TENTU, TAPI DIA AHLINYA KALAU PERMASALAHANNYA INI DIA BISA MEREKAYASA INGATAN ORANG "Oh, jadi semuanya takkan ingat ini pernah terjadi?" BEGITULAH "Tapi bukannya ini melanggar aturan Tuhan?" KALAU TAK ADA RATUSAN MALAIKAT TURUN KARENA PERBUATAN ASMODEUS, ARTINYA AYAH SENDIRI JUGA MURKA KARENA ULAH MALAIKATNYA TADI "Apa Ayah akan membunuhku?" AYAH TIDAK PERNAH MENCABUT LANGSUNG NYAWA MANUSIA, LILITH, DIA MENETAPKAN KEHIDUPAN, YANG MELAKUKAN KETETAPANNYA ADALAH MALAIKAT. KAU TAK PUNYA KETETAPAN. MALAIKAT MEMBENCIMU. "Jadi aku akan diburu malaikat, dan Ayah membiarkan ini?" Tulisan di tembok itu menghilang, tak kunjung mengganti abjad, artinya Luc tak ingin menuliskannya lagi. Lilith sudah khawatir kalau laki-laki itu menghilang, meninggalkan dirinya sendiri di ruangan redup yang dingin itu. Kamarnya terasa asing semenjak jati dirinya terungkap. Dia bukan lagi manusia bernama Lilith yang bisa hidup tenang. "Luc?" panggilnya sambil bangkit dari ranjang, lalu menundukkan kepala, memandangi tangannya yang saling meremas di atas tumpukan selimut tebal. "Jangan tinggalkan aku." Tiba-tiba di sudut ruangan tergelap, Luc berjalan mendekat. Sosoknya punya bayangan aneh saat terpantul ke tembok, seperti pria dewasa yang lebih tinggi serta bersayap. "Aku selalu bersamamu." Lilith menengok ke pintu dan jendela, semuanya tertutup. "Kenapa kau malah kemari?" "Aku tak bisa menjelaskan hal sensitif dengan tembok, Lil." "Tapi ini sudah malam-" ucap Lilith melirihkan suara, takut orangtuanya berpikir macam-macam. "Kita bisa berkomunikasi lewat tembok saja." "Jangan cemas, kau pikir siapa aku? Aku bisa membuat orangtuamu tertidur pulas tanpa bisa mendengar suara apapun, meteor jatuh sekalipun. Kondisikan jantungmu, Lil, kerjanya terlalu cepat, kau tak apa?" goda Luc menahan diri agar tak menyeringai. Jelas sekali telinganya mendengarkan debaran jantung Lilith yang tak terkendali. Lilith mendehem, dia malah mengalihkan pembicaraan, "oh, jadi benar, selama semingguan itu-kalian menerorku? Kalian masuk kamar diam-diam?" "Hanya untuk mengawasi, dan memandangi betapa cantiknya calon pengantinku," kata Luc sembari duduk di pinggiran kasur itu. Dia berniat menyentuh wajah cantik Lilith, tapi gadis itu memalingkan wajah. "Kau ada di kamar seorang gadis, tanganmu jangan berbuat seenaknya," pinta Lilith menjadi tegang. Selama ini tak pernah sekalipun ada laki-laki sedekat ini dengannya. Bahkan hanya membutuhkan waktu beberapa hari, tapi mereka sudah ada di kamar bersama. Luc tersenyum. "Maaf, aku tak bisa menahannya, kau sangat cantik." "Uh." Lilith makin tegang. "Luc?" "Lihatlah cuping telingamu, sangat merah ketika malu-" bisik Luc menyeringai dengan pandangan mata ke telinga kanan gadis itu, "manisnya." Lilith sontak menutupi kedua telinganya. Sembari melirik tajam wajah Luc, dia memohon, "hentikan, berhenti menggodaku malam-malam begini." "Baik, baik, begini, kau tadi tanya tentang apakah Ayah akan membiarkan malaikatnya bertindak arogan dengan membunuhmu?" Luc mulai serius. "Jawabannya bisa dibilang begitu, Ayah hanya peduli pada anak dombanya yang taat, pada dasarnya kita iblis, Ayah membebaskan iblis berbuat apapun, dan Dia juga menghiraukannya, asal kita tidak melakukan peperangan dengan surga atau kepada manusia." "Artinya aku akan terus diincar malaikat? Karena mereka membenciku? Dan Ayah akan membebaskan serangan ini-aku yakin kau kuat, tapi aku takut, Luc, aku sadar, aku kini lemah." Luc menggenggam kedua tangan Lilith yang telah berkeringat. "Bergantunglah padaku." "Kau sungguh akan melindungiku sekalipun aku sudah jadi manusia, yang jelas kau benci?" "Benci? Aku bukannya membenci manusia, sejujurnya, aku hanya membenci Adam." Luc menyunggingkan senyuman hangat demi menentramkan hati Lilith yang bimbang. "Kau pengantinku, aku mencintaimu terlepas apapun wujudmu, jiwamu tetap Lilith-ku, iblis cantikku." Lilith menghembuskan napas lega. "Bisakah kau di sini, menemaniku tidur? Entah kenapa-keberadaanmu membuatku tenang." "Tentu." "Tak heran manusia menjual jiwanya pada iblis, rayuan kalian memabukkan," gurau Lilith sembari kembali berbaring di atas bantal empuknya. Akan tetapi pandangan matanya tetap terarah pada Luc. "Aku benar, bukan?" "Sangat benar, Lilith-ku." "Aku jadi ingin menjual jiwaku padamu." "Masalahnya jiwamu iblis, mana bisa menjualnya padaku." Lilith tertawa pelan. Luc menggodanya lagi dengan suara pelan, "tapi kurasa kau yang lebih memabukkan, tanpa perlu berkata-kata, aku sudah terbius." "Oh iya, iblis tak butuh tidur'kan? Jangan coba-coba menaiki ranjangku," kata Lilith memperingatkan, "sekalipun kau mencintai segala hal yang berbau dosa, tapi aku tak mau melakukan hal dosa denganmu, Luc." "Aku paham." Luc menaikkan selimut tidur itu agar menutupi hingga leher gadis itu. "Tidurlah yang nyenyak karena iblis ini akan menemanimu sampai pagi, tapi aku akan pergi sebelum kau membuka mata besok, jangan terkejut." "Iya, Mr. Morningstar." _____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN