11. Kutukan Lilith

1054 Kata
Sehari setelah penembakan, kondisi sekolah kembali seperti semula. Semua orang tak merasa ada insiden itu. Ingatan mereka semua memang telah ditelan oleh iblis, tak ada yang mengingat kejadian itu. Semua murid yang cedera dibuat seolah-olah mereka terkena kecelakaan lalu lintas. Sekalipun Draven Asmodeus mampu menyembuhkan mereka, akan tetapi, iblis tak akan melakukan itu secara cuma-cuma. Draven Asmodeus, si iblis pengendali hawa nafsu manusia, pagi ini sedang menunggu Lilith di ambang pintu gerbang. Si rambut pirang itu memiliki senyuman tak manusiawi pula. Hanya dengan berdiri saja, sudah belasan gadis yang berniat untuk mengajaknya bicara, akan tetapi-seperti Luc, dia sama sekali tidak tertarik apapun, kecuali Lilith. Lilith, yang ditunggunya, langsung masuk gerbang begitu tahu laki-laki dikerumuni siswi. Sejauh ini dia cukup nyaman dengan Luc, rasanya tidak bisa membuka hati lagi untuk "teman" laki-laki lain. Tapi dimana Luc?, tanyanya dalam hati. Saat membuka mata pagi hari, raja iblis itu sudah menghilang, hingga sekarang tidka kelihatan. Tumben sekali tak kelihatan, pikirnya sambil memperhatikan suasana sekolahnya yang ramai seperti hari-hari sebelumnya. "Aneh sekali-mereka tak mengingat semuanya," ucapnya lirih seraya melihat bangku taman dimana telah diduduki banyak murid yang tertawa-tawa, padahal kemarin terjadi penembakan di sana. Segala kerusakan akibat peluru membabi buta pun telah diperbaiki. Tak ada yang terjadi. Tak ada apapun. Mereka memang iblis. Apakah malaikat akan mengincarku lagi?, pikir Lilith mulai ngeri ketika teringat hal itu. Di saat manusia lain ingin bertemu dengan malaikat, dia sangat waspada dengan sekitarnya, takut ada malaikat pembunuh mendekat. "Kau banyak melamun," bisik Draven tahu-tahu sudah berjalan di belakangnya. Lilith tersentak kaget. "Kau-" "Draven Asmodeus," kata Draven mengulurkan tangan pada Lilith, "ya kau boleh mengabaikan nama depan itu-karena aku adalah Asmodeus." Lilith ragu untuk menjabatnya. Alih-alih mau berkenalan, gadis ini malah mempercepat langkahnya menuju ruang kelas bahasa Spanyol. Dia berpamitan, "maaf-aku duluan." "No tengas miedo," bisik Draven makin mempercepat laju kakinya pula. Perkataannya barusan adalah bahasa Spanyol yang berarti: jangan takut. Walaupun dia tak dapat membaca pikiran Lilith karena perlindungan dari Luc, tapi dia juga akan memasuki kelas bahasa itu. "Aku tidak takut-aku hanya ingin-menjaga jarak," kata Lilith terbata-bata, berusaha tak memalingkan wajah ke kanan-kiri, takut dipelototi oleh sekumpulan gadis populer sekolah. Dia akan jadi target kebencian kalau semakin menarik perhatian enam pangeran ini. Draven menahan tawa. "Aku diminta menjagamu selama Luc tidak ada, jangan khawatir, aku takkan merenggutmu darinya." Dia mengatakan itu dengan suara nyaris seperti rayuan iblis yang menanti seseorang untuk berbuat serong. Lilith malah merinding. "Kau hanya akan membuatku dibenci gadis-gadis disini, mereka semua menginginkan nomor ponselmu." "Sayangnya aku tak membagi hal pribadiku dengan manusia seenaknya," kata Draven malah semakin berani mendekatkan jarak berjalan mereka, sampai-sampai hendak melingkarkan tangan di atas bahu Lilith. Gadis itu meliriknya tajam, menhindari tangan jahil itu. "Mau apa kau?" "Aku iblis nafsu, aku selalu ingin dekat dengan orang yang menurutku-indah," bisik Draven tersenyum padanya. Lilith sontak berlari menaiki anak tangga, menuju ruang kelasnya yang ada di lantai teratas. Dasar mengerikan, pikirnya seraya menoleh ke belakang. Ia bisa bernapas lega karena lelaki itu mulai dikerumuni para gadis. Akan tetapi belum sempat dia menarik napas lagi, di ujung tangga sudah ada pangeran lagi, dia spontan berhenti. Kier Amon. Amon, sang iblis kemurkaan. Tubuhnya sungguh penuh otot hingga membuat kaos hitam yang ia kenakan tampak sesak, beruntung hari ini dia memakai jaket kulit, sehingga bagian lengan agak tersamar. Sorot mata siswa yang lebih pantas jadi atlet binaraga ini menusuk tepat di jantung Lilith. Bukan maksudnya tatapan itu mengalirkan perasaan cinta, melainkan sebaliknya-seperti ada serentetan jarum yang menghujam kulit gadis itu. Ada apa dengannya? Kenapa dia kelihatan ingin memakanku saja?, pikirnya sembari melewatinya, lalu berjalan tergesa-gesa lagi. Dia tak peduli sampai menabrak beberapa murid perempuan. Akan tetapi dia salah menyenggol bahu seseorang, Rita. Sejak sahabatnya harus libur karena masalah sakit perut yang tak kunjung selesai, dia menjadi mudah marah. Dia sontak menjambak rambut Lilith, menyeretnya ke belakang, lalu menghempaskannya seolah dia itu sampah. "Jalan itu lihat ke depan, jangan ke kaki!" bentaknya. Aksinya ini membuat dua temannya tertawa, namun sebagian murid lain langsung kabur. Ketimbang menonton aksi perundungan yang menarik, mereka lebih takut terimbas "kutukan" Lilith. Liliith menarik diri hingga terlepas dari genggaman Rita, lalu meminta maaf. "Aku tidak sengaja, sungguh, maaf-" Dia segera berbalik lagi karena Kier Amon juga berjalan mendekat. Rita malah menjegal kakinya hingga dia terjatuh ke lantai. Cara klasik untuk membuat kehebohan. Dia tertawa terbahak-bahak seakan tak peduli lagi akan "kutukan" Lilith. Dia bahkan mengejeknya, "apa? Ayo keluarkan kutukan sihirmu! Aku tak percaya hal semacam itu, kurasa kau hanya si pembawa s**l saja." Dia mengisyaratkan agar kedua temannya ikut tertawa. "Kalau perlu kita rekam orang aneh ini, satu kelas sejarah dengannya membuatku kesal-," Lidahnya terjulur ke arah Lilith. "Dasar sok pintar." Lilith masih terdiam di atas lantai. b****g dan pinggulnya terasa sakit, tapi tentu saja yang lebih sakit itu hatinya. Dia sudah tidak mengalami perundungan sejak lulus sekolah dasar, jadi dia tak terima diperlakukan seperti ini. Kier mendorong tubuh Rita, lalu memarahinya, "jangan berani-berani menganggunya lagi! Sekali lagi kau melakukan itu padanya-" "Apa?" sergah Rita sepertinya tak terpengaruh oleh ketampanan Keir. Emosinya sedang labil, dia mendorong balik laki-laki itu seraya meledek, "ksatria berkuda Lilith akhirnya datang?" Lilith masih menatap Rita, amarahnya meluap, dia tak suka kesakitan, dan kini dia kesakitan. Padahal sudah meminta maaf, mengapa masih saja dilukai? Dia terjebak dalam dilema, manusia benar-benar sangat egois-dan kebenciannya pun meningkat. Dua teman Rita, dua gadis yang berpakaian serba mini itu, menelan ludah, takut melihat tatapan benci Lilith yang sudah seperti pembunuh. "Rita?" panggil salah satu dari mereka. Akan tetapi terlambat, Rita yang masih adu mulut dengan Kier itu mendadak merasakan kulit wajahnya memanas. Ia sontak mundur seraya memegangi kulitnya yang seperti ditempeli bara api, kemerahan dan meradang, bahkan mengeluarkan uap. "Rita?" Temannya menjadi panik, "wajahmu-merah sekali!" Rita hampir berteriak karena kulitnya terbakar, bola matanya nyaris kering karena air yang membasahinya menguap. Dia mengipasi dirinya sendiri seraya berlari ke arah kamar kecil. "Aaaahhhh!! wajahku-panas-panas, panas sekali, Tuhan! Terbakar, air!" teriaknya membuat semua murid yang menyaksikannya heran, sebagian merasa itu ulah Kier, tapi sebagian lagi mereka menganggap ini apa yang disebut kutukan Lilith. Kier melirik Lilith yang syok sendiri. "Hei-" "Kau-kau yang melakukannya'kan?" bisik Lilith ketakutan sendiri, tak mau mengakui itu jelas ulahnya. Ia tak tahu apa yang terjadi, jeritan Rita terdengar menyakitkan di telinganya. Dia tak ingin membakar kulit wajah temannya, tapi terjadi begitu saja. Takut terkena masalah, dia buru-buru bangun, lalu kabur menuju ruang kelas. ______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN