Pagi di kantor terasa berat. Harris datang sedikit terlambat, namun masih dengan karisma dan raut dingin seperti biasanya. Ia baru saja menandatangani beberapa berkas penting ketika sekretaris pribadi lain masuk dengan wajah gugup. Hari itu Karin izin tidak masuk. Gosip yang sudah menyebar di antara para karyawan, menyebar ke seluruh lini, membuat mental Karin cukup terganggu, dan memintanya izin hingga pernikahan digelar. “Pak, ada seseorang yang ingin bertemu.” “Siapa?” “Namanya… Angga, Pak. Katanya teman dekat Bu Karin.” Nama itu membuat Harris menghentikan gerak tangannya. Ia menegakkan tubuhnya, lalu berkata datar, “Suruh dia masuk.” Pintu terbuka, dan lelaki yang beberapa waktu belakangan ini menjadi obyek balas dendam Harris —tinggi, berwajah tegas, namun matanya menyimpan ba

