"Entah kenapa perasaan tidak meninggalkanmu bisa aku alami. Seharusnya kamu yang hamil Maudy!" Zein berbicara sambil menatap istrinya yang sudah pulas. Zein menghampirinya ke tempat tidur, lalu berbaring menghadapnya, sambil memperhatikan wajah Maudy. Dia mengecupnya sebelum kemudian lebih dekat dan dengan perasaan yang tidak tahan Zein memeluknya. Keesokan paginya, mereka sudah sama-sama siap dan hendak berangkat kerja. Namun, Maudy menolak berangkat bersama dan memilih memesan angkutan umun. Zein sangat kesal dan meminum air untuk meredakan perasaannya itu. "Penggilkan Maudy dan suruh dia menghadap masuk ke ruanganku!" tegas Zein memerintah. Tomi menganggukkan kepala dan melakukannya setelah menemukan Maudy. "Kamu dipanggil pak Zein keruangannya," jelas Tomi dan Maudy segera me

