Mata hijau yang sedang balas menatapku itu tampak kosong, berbayang hampa meski masih memiliki binar jiwa di dalamnya. Tubuhnya ringkih. Terlihat lebih kurus dari sebelumnya, kulitnya pucat dan dia seolah dapat remuk hanya oleh pergerakan kecil yang tiba-tiba. Rambutnya masihlah hitam, tapi ada sejumput rambut yang memutih di bagian kiri poni, pun dengan sejumput lain di rambut bagian belakang. Begitu rapuh. Kecil dan mudah hancur. Seperti sebuah vas yang diletakkan di ujung pedang. Sosok yang berdiri di dalam cermin itu bukan diriku. Begitu beringas, begitu liar, begitu tanpa kasih. Aku tak mengenal sorot matanya yang seolah menyembunyikan sesuatu, emerald yang biasa meredup teduh itu kini berwarna sedikit lebih muda. Tajam dan dingin seperti bilah es yang kuciptakan, hampir perak d

