Berdiri sekitar enam meter dariku, pria tua berwajah ramah yang menampakkan senyum sangat lebar sampai sekilas tampak seperti orang bodoh. Badannya yang gempal terlihat tergopoh-gopoh saat berlari mendekatiku. Aku meneriakkan namanya, lantas menghambur ke dalam pelukannya, mengabaikan keherananku kenapa dia tidak terjengkang karena terjanganku yang tiba-tiba. “Venir!” seruku riang ketika ia melepaskan pelukanku. Dia tertawa, tangannya beralih mengacak-acak rambutku. “Ya, ini aku. Kau tidak perlu meneriakkan namaku begitu, Shuui. Nanti bisa tuli aku.” Senyumku lenyap kemudian. Teringat akan putrinya yang mati mengenaskan di tangan Ezara. “Aku tahu, kok,” katanya. Dia menunjukkan senyum sedih, benar-benar terlihat seperti seorang Ayah yang baru merelakan kematian anaknya. “Dia memang h

