BAB 25

1376 Kata

Gue terbangun di ranjang rumah sakit dengan sebuah infusan di tangan. Perasaan gue begitu hancur, harapan yang sempat bersemai harus binasa dalam sekejap mata. "Inggitsya?" Suara ini, suara yang sama yang memanggil sesaat sebelum gue kehilangan kesadaran. Sosoknya kemudian membantu gue untuk bersandar ke kepala ranjang. "Lay…" panggil gue dengan pelan. Batin ini teriris perih, bernafas pun terasa begitu sulit, d**a seperti terhimpit oleh dua tembok besar, rasa ini benar-benar begitu menyesakkan. "Ini mimpi kan?" tanya gue dengan getir, mencoba memastikan kenyataan pahit yang tiba-tiba datang menghampiri. Lay terdiam, tidak berkomentar, tapi sorot matanya seolah menjelaskan semuanya. Air mata gue kembali turun secara perlahan. "Kenapa... Kenapa semua terjadi sama gue?! Kenapa?!" Gue bert

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN