Chapter 17

1351 Kata
Setelah ngerokok gua ke kelas dengan rambut acak acakan, baju keluar, dan bau asap rokok. Gua duduk dibangku dengan santai. "Bu ketua.." panggil ksatria tercekat. Gua hanya tersenyum miring dan menyampirkan tas gua serta membawa tas bang peter berjalan keluar kelas. Saat didepan kelas, gua melihat brian, peter dan guru memasuki kelas. Beberapa detik gua sempat berpandangan dengan brian sampe akhirnya gua mengalihkan pandangan. Tap Gua melempar tas peter kearahnya. "Gua mau balik, dan lo harus ikut" tanpa aba aba gua menarik tangannya keluar kelas yang melongo. Di mobil gua nangis sambil meluk dia. "Gua liat kejadiannya kok" ujar bang tian "Dia meluk amel kak.. gua sakit kak" kata gua menangis "Sabar ya.. pasti ada alasannya" "Apapun alasannya tetep aja buat gua sakit bang.. gua gak tahan" ujar gua. Dia mengusap rambut gua membuat gua tertidur. *** Karena kejadian kemaren, gua udah berubah seperti semula. Rambut gua warnain warna biru, baju keluar, sepatu nike. "Wow... lo keren" kagum bang tian, gua tersenyum bangga "Udah yo berangkat" gua menggandeng tangannya. Seketika dia berhenti berjalan "Lawan ya dek, gua gak tega liat lo dibully. Lo bu ketua, ketua diamond. Dan lo adek gua satu satunya, kembaran gua. Gua pasti juga ngerasain apa yang lo rasain waktu di bully, kita kembar dek. Gua bakal tau apapun keadaan lo" ujar bang tian membuat gua terharu dan memeluknya "I love you my twin" ujar gua pelan, dia membalas pelukan gua. "Ehem.. gua rasa kalian cepat kesekolah, gak mau kena hukum kan?" Sindir bunda, lah sejak kapan dia disini? "Cepet lagi woi.. udah jam 7 ini" teriaknya membuat gua dan bang tian lari kesetanan menuju mobil. "Bang kebut bang" kata gua, dia makin mencepatkan jalannya. Nyampe sekolah jam 7. 10 Gua dan bang peter disuruh baris dilapangan, pas gua liat. Busett.. banyak banget yang telat. Hohoho... ada si amel dan orang yang nampar gua kemarin. Ada diamond dan ksatria juga. Gua sih gak heran liat diamond dan ksatria dihukum. "Kalian berdiri ditiang bendera selama 2 jam" teriak guru itu, gua dan bang peter saling pandang dan tersenyum misterius "Kok gitu sih bu" protes yang lain "IYA BUU!!" Teriak gua dan peter toa membuat mereka membelakan matanya "Bagus, kalian harus contoh crystal dan peter. Yausudah ibu tinggal dulu" ujar ibu itu, gua dan bang tian tersenyum lebar. Boleh kan kalo pasang tampang manis dulu. "Shit.. dihukum lagi gua" anak anak pada heboh. Sedangkan gua dan bang peter malah mojok dibawah pohon yang rindang. Adem bangett.. "Bang.. gak mungkin kan kita 2 jam disini kayak orang b**o. Dan sejak kapan gua mau nurutin perintah. Cabut yo" ajak gua, dia terlihat tertarik "Ayo lah, bosen gua jugaa" ujarnya. Gua dan bang tian pun meninggalkan lapangan dan keatap sekolah. Sampai di rooftop, gua menghidupkan rokok dan mulai menghisapnya. "Seger banget disini" ujar bang tian sambil merokok "Yoi.. makanya gua suka disini. Kita bisa ngeliat pemandangan seluruh sekolah" ujar gua berdiri dan mulai mendekati tembok pembatas, gua berdiri sambil nyender dan menghisap rokok. "Gua sangka diamond dan ksatria gak bakal mau dihukum. Tapi ternyata mereka masih disana" tunjuk bang tian kepada diamond dan ksatia "Iya.. lo tau lah apa alasannya. Tentu aja ayah dan bunda" jawab gua. Saat gua sedang memperhatikan lapangan, tiba tiba ksatria noleh dan gua hanya tersenyum mengejek. Sam menyenggol lengan nabila menyuruhnya untuk menatap rootop. Akhirnya diamond dan ksatria natap gua dan bang tian yang sedang merokok. Gak peduli deh mau diaorang ngomong apa juga. Dengan santainya gua menghembuskan asap rokok dari mulut gua, dan gua bersender di bahu bang tian. Dan gua membelakan mata saat amel deket deket sama pak bos. Njirr.. "Wah.. bakal ada perang nih" sindir bang tian. "Gua pengen nyekik dia bang rasanya" geram gua "Lo masih pacaran gak sih sama brian?" Tanya bang tian serius "Gak tau. Putus kali" jawab gua malas "Nyakit gak digantungin?" Banget bang.. Gua menjatuhkan rokok gua ke lantai dasar dengan sengaja. Gua melempar minuman dingin ke diamond. Gini gini gua sahabat yang baik. "Gua mana?!" Teriak sam "Lo juga mau?" Tanya gua "Iyalah.. panas ini" teriak davin sambil mengipas ngipas wajahnya. Gua dan bang tian melempar minuman ke ksatria beserta tisu dan kertas buat kipasan. Kurang baik apa coba gua? "MAKASIH!!!" Teriak mereka toa. Gua menatap mereka melotot. Tiba tiba ada guru yang menongak kearah kira "KALIAN BERDUA NGAPAIN DISITU? BUKANNYA DILAPANGAN?!" Teriak guru itu. "Panas pakk" jawab bang tian santai sambil tersenyum miring "Semua juga panas. Cepet turun kesini, ngapain kalian diatas?" "Ngerokok. Bapak mau? NIH" gua melempar bungkus rokok dan korek tepat didepan dia. Muka dia malah cengo "Hahahaha" tawa gua dan bang tian pun lepas. Kita berdua lalu turun dari rooftop. Jujur, gua belom ngobrol sama sekali dengan brian. "Mana pak rokoknya?" Tanya bang tian saat di bawah dan menagih rokok itu "Saya sita!!" Teriaknya. "Kenapa disita pak? Gak mampu beli?" Sindir gua tajam "Kalian ini bener bener ya..." selanjutnya nama gua dan bang tian masuk bk. Kemajuan lah.. "Saya gak peduli mau bapak ngehukum saya sampe kapanpun, saya gak akan berhenti buat masalah. Ingat itu" ujar gua santai lalu berjalan dengan santai meninggalkan lapangan "Mau kemana?!" Teriak bang tian "Kantin" jawab gua. Bisa gua rasakan seseorang merangkul gua "Dek.. beliin gua makanan sih. Gak bawa dompet" ujar bang tian melas "Pesen aja, nanti gua bayar" jawab gua ambil menyeruput es jeruk "Thanks" dia lalu memesan bakso dan es teh Kring kring kring Bel berbunyi. Dan anak anak pada kekantin semua. Anak yang dihukum pun berlari lari membeli makanan dan minuman. Brak Gua menatap orang yang ngegebrak meja gua. Amel dan adek kelas yang nampar gua kemaren. Mau apa sih? "Kenapa?" Tanya gua polos "Lo itu belagu bener sih baru aja masuk tapi udah gak ngejalanin hukuman" sinisnya Byurr "Anjir! Mau lo apa sih nyet?!" Teriak gua marah. Badan gua dingin coii., dia nyiram pake air dingin "Buat lo sengsara" gua tersenyum sinis. Dan sekarang gua udah didepan dia "Tau apa sih lo tentang sengsara?" Sinis gua tersenyum miring "Kalian gak usah ngeributin hal kecil dong" ujar brian datar. Minta ditabok nih orang "Hal kecil?! Seumur umur, gua baru kali ini dipermalukan njir. Dua kali gua di siram, sekali gua ditampar sama dia" bentak gua marah sambil menunjuk adek kelas yang nampar gua "Amel.. mending lo balik ke kelas deh, jangan cari masalah" perintah intan, sebenernya dia itu tau kalo gua bakal marah banget. "Gua tetep disini, dia yang cari masalah sama gua" kata dia. Ngedablek banget sih "Lo mau tau apa arti sengsara yang sebenernya?" Gua menatap di datar Plak Gua nampar dia dengan keras. "Kak diaomond, kak ksatria bantuin gua dong.. masa gua ditampar" rengeknya, kayaknya mau nangis deh. "Maju selangkah lagi, abis lo semua sama gua" kata gua tajam, mereka semua diam ditempat. Byurr Gua nyiram dia pake jus mangga yang dideket gua. Dia membelakan matanya. "Lo salah pilih musuh" Gua mengambil botol kecap dan menuangkannya di badan amel dengan santai. Terakhir, gua tumpahin sphagetti di atas kepalanya. "Yang sengsara sekarang siapa?" Sindir gua. Dia nangis.. Plak "Itu buat lo yang nampar gua kemaren" kata gua ke cewek yang nampar gua kemaren. "Dan lo!.." gua menunjuk brian dan berdiri tepat didepannya Plak Gua nampar brian kenceng pake banget. Bisa gua lihat sudut bibirnya berdarah, gua tersenyum sinis. "Lo.. b******k" desis gua marah. Baru aja gua mau pergi tapi brian nahan tangan gua. "Lo orang pertama yang nampar gua. Udah berapa kali lo nampar gua?" katanya marah sambil mencengkram tangan gua "Kenapa? Lo malu karena ditampar sama gua?" Balas gua. Dia hanya diam. Tangan gua terulur untuk menyentuh pipinya "Sakit?" Tanya gua, dia mengangguk "...tapi lebih sakitan gua ngeliat lo gak nepatin janji lo. Lo inget kan, kalo lo selingkuh gua juga akan selingkuh. Tunggu aja tanggal mainnya" bisik gua pelan, dia menegang dan makin mencengkram lengan gua "Lo akan nyesel kalo lo selingkuh. Akan gua buat menderita orang itu" gua hanya tersenyum sinis dan menyentakan tangannya kasar. "Gua gak peduli" gua mau pergi tapi dia nahan tangan gua lagi. "Ap--" omongan gua terputus saat dia melepaskan jaketnya "Pake, nanti lo sakit" gua masih terdiam saat dia nyerahin jaketnya. "Lo masih sama ya, keras kepala" dia narik gua dan memakaikan jaketnya. Sekilas gua sama dia kayak orang pelukan. Dia mengancingkan jaketnya yag udah di tubuh gua. Dia memperhatikan gua dari atas sampe bawah, gua tau dia nahan senyum. Orang orang pada teriak gak jelas. "Not bad" ujarnya "Thanks.... Kalo lo deket sama amel untuk balas dendam sama gua dan bikin gua cemburu kayaknya lo berhasil. Tapi lo salah sangka sama bang peter selama ini.. kita lihat, siapa yang bakal cemburu" bisik gua lalu pergi meninggalkannya. Gua menghampiri anak basket dan berkenalan dengan mereka. Gua cuman mau buat brian cemburu, kenapa gua pilih anak basket. Karena ganteng ganteng. Bisa gua rasakan kalo brian nahan marah. Hahaha
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN