Sembilan puluh tujuh “Ta, berangkat ke kampus ayo!!!” seru Gabrian dari luar kamar para gadis. Jamima membuka pintu dan merengut. “Eh, ada adiknya Mas yang unyu, udah bangun?” “Kenapa Mas ndak tidur di kostan aja?” ucapnya pura-pura sebal. “Emang kenapa?” Gabrian berkacak pinggang. “Berisik tau!!!” balas Jamima. “Masa??” Gabrian mencubit kedua pipi Jamima dan menahannya lama sambil menggoyangkan wajah mungil Jamima. “Ish, sakeeett!!!” “Hahaha.. siapa suruh gemesin! Mana mbak?” “Ada lagi pake sepatu!” “Owh, ih kenapa sih masam banget muka adik Mas ini?” Gabrian berlutut di lantai menggoda Jamima dengan wajah tampan yang palipurna itu. “Aku kesepian, mau kuliah juga.” Ucap Jamima. “Oh gituuuuu! Tahun depan kan kuliah, nanti bisa berangkat bareng!” hibur Gabrian. “Lama, terus ak

